slider

Hanya Anggota Lembaga Permusyawaratan Yang Berhak Menjadi Khalifah

Dalam kitab al-Bidaha wa an-Nihayah karya Ibnu Katsir diceritakan bahwa pasca Rasulullah saw wafat, para sahabat dari kaum Anshar berkumpul di Saqifah bani Saadah untuk menentukan pimpinan sebagai pengganti Rasulullah saw. Pertemuan tersebut lalu didengar oleh Umar bin Khatab. Ia bergegas mendatangi Abu Bakar dan mengajaknya untuk segera hadir dalam pertemuan tadi.   Terjadi perdebatan sengit mengenai pemimpin umat sebagai …

Read More »

Hukum Zhâhir

Lafazh zhâhir memungkinkan adanya takwil. Yang dimaksudkan dengan takwil di sini adalah, memalingkan dari makna zhâhir, menuju makna lain yang dimaksud. Seperti mengkhususkan suatu lafazh yang masih bersifat umum (takhshîsu’l ‘âm), atau memberikan batasan (qayat) jika lafazh tersebut berbentuk mutlak, atau kemungkinan lafazh tersebut merupakan ungkapan metafor (al-majâz), bukan ungkapan yang sesungguhnya (al-haqîqah), atau bentuk-bentuk takwil lainnya. Selama tidak ada …

Read More »

Dalilul Hudus dan Penciptaan Alam Raya

  Dalilul hudus memandang bahwa Tuhan adalah wajibul wujud. Ia sang pencipta alam raya. Ia sifatnya qadim dan azal. Ia ada dan harus ada sebelum semua ciptaannya wujud. Alam raya ini sifatnya mumkinul wujud. Dikatakan mumkinul wujud, karena ia ada dari ketiadaan. Tuhanlah yang menciptakan alam raya ada dari ketiadaan tadi.   Lantas bagaimana dengan pendapat para filsuf yang menyatakan …

Read More »

Ilat Ma’lul Dan Penciptaan Alam Semesta

    Sebelumnya telah kami sampaikan mengenai perbedaan antara illat ma’lul yang digunakan oleh para filsuf dan dalilul hudus yang digunakan oleh ulama kalam. Illat ma’lul semacam hubungaan “sebab akibat”. Artinya, tatkala ada ma’lul, pasti ada illat. Ada alam raya, pasti ada yang mewujudkan alam raya tersebut.   Terkait penciptaan dengan alam raya, menurut para filsuf bahwa alam raya ada …

Read More »

Di Sini Bedanya Antara Dalilul Hudus Dengan Illat Ma’lul

Coba kita amati perdebatan antara Imam Amidi dengan para filsuf. Lalu kita telurusi, di manakah letak perbedaan antara dua pendapat tadi?   Untuk membutkikan keberadaan Tuhan, para filsuf menggunakan argumen ilat ma’lul. Artinya bahwa setiap yang ada, membutuhkan illat terakhir. Benda-benda di alam raya ini, terkait erat dengan illat  yang mewujudkannya. Artinya bahwa antara mumkinul wujud dengan wajibul wujud, mempunyai …

Read More »

Alam Raya Bisa Wujud Karena Ada Wajibul Wujud

  Jika illat berada di luar alam raya, atau di luar dari benda-benda tadi, juga ada dua kemungkinan: Ia mumkinul wujud Ia wajibul wujud.   Jika ia mumkinul wujud, artinya statusnya sama dengan wujudnya benda-benda itu. Ia masih membutuhkan yang lain untuk mewujudkannya.   Jadi supaya ia bisa mewujudkan yang lain dan ia ada dengan sendirinya dari azal, ia harus …

Read More »

Imam Amidi dan Dalilul Hudus

Para uama kalam, di antaranya juga Imam Amidi dan para filsuf sepakat bawah alam raya merupakan mumkinul wuud. Ia membutuhkan Sang Pencipta yang harus ada dan tetap akan ada. Sang Pencipta yang harus ada itu disebut dengan Wajibul Wujud. Hanya saja, antara mereka terdapat perbedaan pandangan dalam memberika argumen terkait wajibul wujud tadi. Para filsuf menggunakan dalil illat ma’lul  yang …

Read More »

Ada Apa Dengan Pesantren Muhammadiyah

  Beberapa waktu lalu, dibuka pendaftaran beasiswa untuk melanutkan studi ke Timur Tengah. Santri bisa memilih negara mana yang ia sukai; Mesir, Sudan, Maroko dan negara lainnya. Setelah itu, juga ada informasi daurah utuk beasiswa ke Madinah. Tentu ini momentum berharga bagi pondok pesantren Muhammadiyah untuk bisa mengirimkan santrinya ke Timur Tengah. Santri akan dapat pengalaman baru dan ilmu baru …

Read More »

Al-Zhâhir

Al-zhâhir secara etimologi adalah al-wudhûh yang berarti jelas. Secara terminologi adalah makna yang terkandung dalam suatu lafazh dapat dipahami dari lafazh itu sendiri tanpa harus bersandar dari makna yang berada di luar lafazh.[1] Menurut Fakhrul Islam al-Bazdawi, al-zhâhir adalah makna dari ungkapan kalimat di mana maksud dari kalimat tersebut dapat diketahui oleh pendengar langsung dari bentuk susunan kalimat.[2] Bagi mereka …

Read More »

Perbedaan Antara Ilmu Kalam dan Filsafat

  Jika kita membaca buku-buku ilmu kalam, kita akan menemukan bahasan yang sangat filosofis. Apalagi buku-buku ilmu kalam mutaakhirin, hampir tidak bisa dibedakan antara bahasan kalam dan filsafat. Meski demikian, terdapat perbedaan mendasar antara kalam dan filsafat, di antaranya adalah sebagai berikut: Dari sisi episteme, ilmu kalam berpijak dari wahyu (baca: al-Quran dan sunnah. Meski demikian dalam rangka menyampaikan kandungan …

Read More »