border=
 border=

Imam Amidi dan Dalilul Hudus

rweuu

Para uama kalam, di antaranya juga Imam Amidi dan para filsuf sepakat bawah alam raya merupakan mumkinul wuud. Ia membutuhkan Sang Pencipta yang harus ada dan tetap akan ada. Sang Pencipta yang harus ada itu disebut dengan Wajibul Wujud. Hanya saja, antara mereka terdapat perbedaan pandangan dalam memberika argumen terkait wajibul wujud tadi. Para filsuf menggunakan dalil illat ma’lul  yang dianggap mempunyai sisi kelemahan oleh Imam Amidi.

 

Di sini, Imam Amidi lebih suka untuk menggunakan dalilul hudus. Inti dari argument ini adalah bahwa alam raya itu makhluk (hadis). Sementara makhluk (hadis) membutuhkan pencipta. Pencipta itu adalah Allah. Dengan bahasa lain, sebagai berikut:

Jika alam raya atau suatu benda merupakan mumkinul wujud, maka supaya ia bisa wujud, ia memerlukan sesuatu yang lain untuk mewujudkannya. Sesuatu tadi ada dua kemungkinan:

  1. Ia bagian dari alam raya atau benda-benda tadi.
  2. ia bukan bagian dari benda-benda tadi.

Ia bagian dari benda-benda

 

Jika ia bagian dari benda-benda, ini mustahil terjadi. Hal ini karena keberadaannya masih membutuhkan yang lain. Jika ia bagian dari alam raya atau bagian dari suatu benda, bearti ia juga masih membutuhkan yang lain. Jika demikian, bearti ia mumkinul wujud dan bukan wajibul wujud.

 

Jika ia mumkinul wujud, bagaimana ia bisa mewujudkan dirinya sendiri? Jika mewujudkan dirinya sendiri saja ia tidak sanggup, bagaimana mungkin ia akan mewujudkan yang lain?

 

Jika ia bagian dari alam raya atau bagian suatu benda, ia ada dengan sendirinya dan sudah ada sejak azal, bearti ia bukan mumkinul wujud. Itu artinya ia wajibul wujud. Padahal sedari awal dikatakan bahwa alam raya atau suatu benda itu mumkinul wujud.

 

Jika bagian dari alam raya atau bagian dari benda tadi, bisa wujud karena membutuhkan yang lain, itu artinya sesuatu yang lain untuk bisa wujud masih membutuhkan yang lain lagi. Ini mustahil karena terjadi proses berantai (tasalsul).

 

 

Jika benda pertama wujud karena benda kedua, dan benda kedua wujud karena benda pertama, dan demikian seterusnya, juga juga tidak mungkin. Ini artinya terjadi daur, yaitu rentetan berantai yang sifatnya memutar, seperti ayam dengan telur..

 

 

 border=
 border=

Check Also

Belajar Eksperimental dari Nabi Ibrahim

  Kisah tentang Nabi Ibrahim AS yang memohon kepada Allah SWT untuk menyaksikan bagaimana cara …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *