border=
 border=

Tafwith dan Takwil, Itu untuk Tanzih Mutlak

Dalam bangunan teologi Asy’ariyah, terdapat sebuah prinsip emas yang menjadi ruh bagi seluruh pemikiran mereka: Tanzih, yakni upaya menyucikan Allah dari segala sifat kekurangan dan keserupaan dengan makhluk. Saat berhadapan dengan teks-teks Al-Qur’an atau Hadis yang menyebutkan sifat-sifat lahiriah (seperti “tangan”, “wajah”, atau “datangnya Tuhan”), madzhab ini menawarkan dua jalan utama yang harmonis, yaitu Tafwidh dan Takwil.

​Tafwidh sering disebut sebagai jalan Salaf (ulama generasi awal) yang dinilai paling aman (Aslam). Metode ini bukanlah sebuah ketidaktahuan yang hampa, melainkan sebuah bentuk ketundukan intelektual yang sangat tinggi.

​Bayangkan seorang hamba yang membaca ayat tentang Istiwa (bersemayamnya Allah di atas Arsy). Penganut Tafwidh akan menetapkan bahwa ayat tersebut adalah benar-benar firman Allah. Namun, pada saat yang sama, ia dengan tegas menutup pintu imajinasinya. Ia berkata: “Aku mengimani lafaznya, namun aku menyerahkan hakikat maknanya hanya kepada Allah.”

 

​Di sini, Tafwidh bekerja dengan dua langkah:

1). ​Itsbat: Menetapkan bahwa Allah memiliki sifat tersebut sesuai dengan kemuliaan-Nya.

​2). Nafi: Menafikan atau membuang jauh-jauh makna fisik. Jika manusia “bersemayam” berarti membutuhkan tempat dan ruang, maka bagi Allah, makna seperti itu mustahil. Tafwidh adalah cara membiarkan Allah tetap menjadi “Misteri Agung” yang tak tersentuh oleh keterbatasan bahasa manusia.

​Jika tafwith adalah jalan keheningan, maka Takwil adalah jalan penjelasan (Ahkam). Metode ini lebih banyak digunakan oleh ulama Khalaf (generasi kemudian) sebagai benteng pertahanan ketika umat mulai bersentuhan dengan berbagai pemikiran filsafat yang berisiko menyerupakan Allah dengan benda (Tajsim).

​Takwil adalah proses memalingkan makna teks dari makna literalnya yang mustahil, menuju makna metaforis yang sesuai dengan keagungan Tuhan dalam kaidah bahasa Arab yang kaya.

​Tangan Allah (Yadullah) tidak dipahami sebagai organ tubuh, melainkan sebagai Kekuasaan atau Anugerah.

​Wajah Allah (Wajhullah) dipahami sebagai Zat atau Pahala.

​Mata Allah (A’yunina) dipahami sebagai Pengawasan dan Perlindungan.

Takwil dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Tujuannya bukan untuk “mengubah” agama, melainkan untuk memberikan pemahaman kepada akal bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Rohani, bukan Tuhan yang bersifat material.

Terkait tafwidh dan takwil ini, Imam al-Laqqani merumuskan sikap seorang mukmin saat menghadapi teks-teks yang secara lahiriah tampak menyerupakan Allah dengan makhluk (teks mutasyabihat) dalam bait berikut:

​وَكُلُّ نَصٍّ أَوْهَمَ التَّشْبِيْهَ، أَوِّلْهُ أَوْ فَوِّضْ وَرُمْ تَنْزِيْهًا

​”Dan setiap nash (Al-Qur’an atau Hadis) yang memberi kesan penyerupaan (antara Allah dan makhluk), maka takwillah atau tafwidh-lah, dan tujulah penyucian (kepada Allah).”

​Bait ini adalah kristalisasi dari seluruh sikap madzhab Asy’ariyah. Ungkapan “Warum Tanzihan” adalah kompas utama. Baik ulama yang memilih jalan Takwil maupun yang memilih jalan Tafwidh, motivasi mereka bukanlah untuk menolak sifat Allah, melainkan untuk menyucikan Allah. Mereka bersepakat bahwa makna lahiriah (seperti tangan secara fisik) adalah mustahil bagi Allah.

​Imam al-Laqqani memberikan dua opsi yang sah secara akidah: 1). ​Takwil (Jalan Ulama Khalaf): Memalingkan makna ke pengertian metaforis yang layak. 2). Tafwidh (Jalan Ulama Salaf): Menyerahkan hakikat maknanya kepada Allah.

​Menariknya, dalam bait ini beliau menempatkan kata “Takwil” terlebih dahulu untuk menunjukkan bahwa dalam konteks pendidikan dan menghadapi tantangan pemikiran di zamannya, penjelasan (takwil) sering kali menjadi kebutuhan yang mendesak untuk menjaga iman orang awam.

​Selain Jauharatut Tauhid, terdapat pula Matan Bad’ul Amali karya Imam al-Ushi, yang juga menjadi pilar dalam tradisi Asy’ari-Maturidi. Terkait dengan sifat-sifat Allah yang sering disalahpahami seperti keberadaan di suatu tempat, beliau menegaskan:

​تَعَالَى اللهُ عَنْ خَلْقٍ وَحَصْرٍ، وَعَنْ قَدَرٍ وَتَشْبِيْهٍ بَدِيْعُ

​”Maha Suci Allah dari sifat makhluk dan keterbatasan, dan dari ukuran serta penyerupaan, Dialah Sang Pencipta yang Maha Indah.”

​Ungkapan ini mempertegas bahwa apa pun teks yang dibaca, seorang Asy’ari harus memiliki pra-syarat di dalam hatinya bahwa Allah tidak mungkin dibatasi oleh ruang (hashr) atau ukuran fisik (qadar).

​Jika kita menengok langsung pada karya sang pendiri madzhab, Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari, dalam kitabnya Al-Ibanah dan Al-Luma’, beliau menerapkan metode yang sangat hati-hati.

​Beliau sering menggunakan istilah “Bila Kaifa” (Tanpa menanyakan bagaimana). Ungkapan ini adalah ruh dari Tafwidh. Artinya, kita menetapkan bahwa Allah memiliki sifat-sifat tersebut (seperti Istiwa atau Yad), namun kita membuang pertanyaan “bagaimana”-nya. Sebab, pertanyaan “bagaimana” hanya berlaku bagi sesuatu yang memiliki bentuk fisik, ukuran, dan rupa. Dengan mengatakan “Tanpa Bagaimana”, secara otomatis kita telah melakukan Tanzih Mutlak—menyucikan Allah dari segala bayangan kebendaan.

​Mengikuti madzhab Asy’ariyah berarti mengikuti jalan yang moderat. Mereka tidak ekstrem dalam menafsirkan hingga menghilangkan makna sifat (Ta’thil), namun juga tidak gegabah dalam menetapkan hingga menyerupakan Allah dengan benda (Tasybih).

​Melalui panduan matan seperti Jauharatut Tauhid, seorang hamba diajak untuk beriman dengan cerdas: mengakui kebenaran wahyu, namun tetap menjaga keagungan Sang Pencipta di atas segala keterbatasan akal dan bahasa. Seperti ungkapan para ulama: “Apa pun yang terlintas dalam benakmu tentang bentuk Allah, maka Allah tidaklah seperti itu.”

​Sangat penting untuk dicatat bahwa meski Tafwidh dan Takwil tampak berbeda secara teknis, keduanya berpijak pada satu landasan yang sama: Penolakan total terhadap penyerupaan (Tasybih).

​Ulama Asy’ariyah tidak melihat keduanya sebagai pertentangan, melainkan sebagai pilihan strategi.​ Bagi orang yang hatinya sudah tenang dalam keimanan tanpa banyak bertanya, Tafwidh adalah perhiasan baginya. Namun, bagi mereka yang akalnya membutuhkan jawaban logis agar tidak terjatuh dalam kesesatan membayangkan Allah bertubuh, maka Takwil hadir sebagai penawar.

​Keduanya bertemu pada satu titik kesimpulan yang agung: Allah tetaplah Laisa Kamitslihi Syai’un—tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Segala bentuk anggota tubuh, arah, ruang, dan waktu adalah sifat bagi makhluk yang baru diciptakan, sedangkan Sang Pencipta Maha Suci dari itu semua.

​Dalam perspektif Asy’ariyah, baik kita memilih untuk “diam dan menyerahkan makna” (Tafwidh) atau “menjelaskan dengan makna yang layak” (Takwil), tujuannya adalah satu: menjunjung tinggi kebesaran Allah. Kita mengakui bahwa bahasa manusia terlalu sempit untuk memenjarakan hakikat Zat Tuhan.

​Dengan cara ini, akidah seorang mukmin akan tetap kokoh; ia mengimani apa yang Allah katakan tentang diri-Nya, tanpa sedikit pun berani membayangkan Allah seperti apa yang ia lihat di alam semesta. Inilah puncak dari pemurnian tauhid. Wallahu a’lam

 border=
 border=

Check Also

Belajar Eksperimental dari Nabi Ibrahim

  Kisah tentang Nabi Ibrahim AS yang memohon kepada Allah SWT untuk menyaksikan bagaimana cara …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *