Dalam tradisi teologi Islam, khususnya madzhab Asy’ariyah, memahami sifat-sifat Allah bukan sekadar menghafal deretan nama, melainkan sebuah upaya untuk menyelami hakikat ketuhanan dengan keseimbangan antara wahyu dan akal. Seringkali, muncul anggapan bahwa madzhab ini membatasi sifat Allah hanya pada angka dua puluh. Padahal, jika kita menelaah lebih dalam literatur para imam besarnya, angka tersebut hanyalah “pintu gerbang” menuju samudra kesempurnaan Allah yang tak bertepi.
Penting untuk kita tegaskan di awal bahwa para ulama Asy’ariyah, mulai dari Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari hingga ulama muta’akhirin seperti Imam al-Sanusi, bersepakat bahwa sifat kesempurnaan Allah itu mutlak dan tidak terbatas.
Angka 20 yang populer di madrasah dan pesantren sebenarnya adalah sebuah metode pedagogis (pendidikan). Para ulama merumuskannya sebagai rukun makrifat yang wajib ‘ain diketahui oleh setiap Muslim agar akidahnya selamat dari keserupaan dengan makhluk (tasybih).
Mustahil bagi manusia yang terbatas untuk menghitung sifat Zat yang tidak terbatas. Oleh karena itu, 20 sifat ini dipilih karena merupakan “induk” atau fondasi utama; jika salah satu saja dari sifat ini hilang, maka runtuhlah konsep ketuhanan secara logis.
Madzhab Asy’ari membagi sifat-sifat ini ke dalam beberapa lapisan untuk memberikan pemahaman yang utuh:
1) Sifat Nafsiyah (Identitas Zat): Kita memulai dengan mengakui Wujud (Adanya) Allah. Allah ada bukan karena diciptakan, melainkan karena Zat-Nya menuntut keberadaan itu sendiri.
2). Sifat Salbiyah (Penyucian): Ini adalah upaya “membersihkan” pikiran kita dari bayangan yang tidak layak bagi Tuhan. Ketika kita menyebut Allah itu Qidam (Terdahulu) dan Baqa (Kekal), kita sedang menegaskan bahwa Allah tidak terikat oleh dimensi waktu. Saat kita menyebut Mukhalafatu lil Hawaditsi, kita memutus segala imajinasi bahwa Allah menyerupai manusia atau alam semesta.
3). Sifat Ma’ani dan Ma’nawiyah (Energi Kesempurnaan): Di sinilah kita mengenal Allah yang Maha Berkuasa (Qudrah), Maha Berkehendak (Iradah), hingga Maha Berbicara (Kalam). Sifat-sifat ini menegaskan bahwa Allah adalah Tuhan yang aktif dan mengatur, bukan sekadar “Penggerak Pertama” yang diam.
Jika Sifat 20 adalah fondasi logika, maka Asmaul Husna adalah rincian keindahan-Nya. Ulama Asy’ariyah memandang bahwa nama-nama Allah seperti al-Lathif (Maha Lembut), al-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki), atau al-Ghaffar (Maha Pengampun) semuanya kembali dan bersumber pada sifat-sifat dasar yang ada dalam Sifat 20.
Sebagai contoh, nama al-Razzaq (Pemberi Rezeki) adalah manifestasi dari sifat Qudrah (Kuasa), Iradah (Kehendak), dan Ilmu (Pengetahuan) Allah. Dengan demikian, Sifat 20 berfungsi sebagai penyederhanaan sistematis agar umat Islam memiliki pegangan yang kokoh di tengah badai pemikiran filsafat yang rumit.
Ulama madzhab Asy’ari punya prinsip tanzih dengan tidak menyerupakan Allah dengan apapun. Terkait memaknai sifat Allah,
Madzhab Asy’ari sangat hati-hati. Mereka menggunakan metode Tafwid (menyerahkan hakikat makna kepada Allah) atau Ta’wil (menafsirkan dengan makna yang layak) terhadap ayat-ayat yang secara lahiriah tampak menyerupai makhluk (seperti kata “tangan” atau “wajah” Allah).
Tujuannya satu: memastikan bahwa dalam benak seorang mukmin, Allah tetaplah Laisa Kamitslihi Syai’un (Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya). Kesempurnaan Allah tidak bisa diukur dengan standar kesempurnaan manusia. Jika manusia kuat karena otot, Allah berkuasa tanpa alat. Jika manusia tahu karena belajar, Allah mengetahui tanpa batas waktu dan ruang.
Keyakinan bahwa kesempurnaan Allah terbatas pada angka tertentu adalah kekeliruan nyata. Sifat 20 adalah kompas, sedangkan kesempurnaan Allah adalah cakrawala yang luasnya tak akan pernah sanggup dicapai oleh akal manusia. Wallahu a’lam


