border=
 border=

Imam as-Sanusi: Ulama Pembaharu Kalam Asy’ari

Imam as-Sanusi bukan sekadar seorang penyambung lidah bagi mazhab Asy’ariyah; ia adalah seorang arsitek intelektual yang merenovasi bangunan kalam agar tetap kokoh berdiri di tengah badai filsafat dan kerumitan logika masanya. Di tangannya, teologi yang tadinya terasa sangat elitis dan dipenuhi perdebatan sengit, berubah menjadi aliran yang mengalir jernih, masuk ke ruang-ruang kelas madrasah/Pondok pesantren hingga ke lubuk hati masyarakat awam.

​Ijtihad kalam as-Sanusi dimulai dengan sebuah keresahan: teologi sering kali terjebak dalam silat lidah yang kering. Beliau tidak ingin umat Islam hanya sekadar menghafal dalil, namun kehilangan orientasi ketuhanan. Oleh karena itu, ia menyusun materi akidah dalam tingkatan-tingkatan (Sanusiyyah Kubra, Wustha, dan Sughra) sesuai dengan kapasitas intelektual pembacanya.

​Dalam pandangannya, iman haruslah sebuah kesadaran yang dibangun di atas fondasi logika yang tak tergoyahkan. Inilah mengapa beliau mewajibkan pemahaman terhadap tiga kategori hukum akal—Wajib, Mustahil, dan Ja’iz—bukan sebagai formalitas, melainkan sebagai kacamata untuk melihat realitas alam semesta. Bagi as-Sanusi, memahami bahwa Tuhan “Wajib adanya” secara logika adalah langkah pertama agar manusia tidak mudah terombang-ambing oleh keraguan materialisme.

​Salah satu pencapaian monumental as-Sanusi adalah mempopulerkan sistem Sifat Dua Puluh. Meskipun konsep sifat-sifat Tuhan telah dibahas secara luas oleh para pendahulu seperti Al-Baqillani atau Al-Juwaini, as-Sanusilah yang “menjahitnya” menjadi satu paket kurikulum yang sistematis.

​Beliau merekonstruksi pemikiran ini dengan sangat metodis, dimulai dari sifat Nafsiyah (Eksistensi Allah), berlanjut ke sifat Salbiyah (Menafikan segala bentuk keterbatasan), hingga ke sifat Ma’ani dan Ma’nawiyah (Kesempurnaan tindakan dan keberadaan Tuhan).

​Penyusunan ini bukan sekadar urutan angka, melainkan sebuah tangga spiritual. Dengan memahami pola ini, seorang Muslim diajak untuk melepaskan segala atribut kemakhlukan dari Tuhan (Tanzih), sehingga ia mencapai pemurnian tauhid yang sebenar-benarnya.

​Imam as-Sanusi melakukan pembaruan dalam cara pandang manusia terhadap alam. Dalam tradisi kalam, terdapat pembahasan mengenai Sababiyah (sebab-akibat). Beliau menekankan bahwa api tidaklah membakar karena sifat alaminya, dan nasi tidaklah mengenyangkan karena zatnya sendiri.

​Pemahaman seperti ini bertujuan untuk menghancurkan ketergantungan manusia pada materi. Dengan menegaskan bahwa segala sesuatu terjadi hanya karena “kehendak mutlak” Tuhan, as-Sanusi ingin setiap orang melihat tangan Tuhan di balik setiap kejadian. Ini adalah titik di mana Ilmu Kalam bertemu dengan Tasawuf. Ilmu kalam memberikan bukti logisnya, dan tasawuf memberikan rasa kehadirannya.

​Di masa itu, banyak orang beriman hanya karena mengikuti perkataan tokoh atau orang tua (Taklid). As-Sanusi melihat ini sebagai kerentanan. Beliau melakukan pembaruan metode pengajaran dengan menekankan bahwa setiap individu, sejauh kemampuannya, harus memiliki Ma’rifat (pengetahuan) yang didasari dalil.

​Namun, ia melakukannya dengan bahasa yang sangat ringkas namun padat (I’jaz). Melalui karyanya Umm al-Barahin, ia membuktikan bahwa argumen tentang ketuhanan bisa diringkas dalam kalimat La ilaha illallah. Baginya, seluruh struktur sifat dua puluh yang rumit itu sejatinya terkandung dalam kalimat syahadat tersebut. Inilah puncak dari ijtihad kalam as-Sanusi: menyederhanakan yang rumit tanpa mengurangi kemuliaannya.

​Pengaruh ijtihad as-Sanusi dalam penulisan ilmu kalam Asy’ari melintasi batas-batas benua. Di Nusantara, pengaruhnya begitu mengakar hingga istilah “Sifat Dua Puluh” menjadi identitas keberagamaan arus utama. Kitab-kitabnya disyarah (diberi penjelasan) oleh ratusan ulama setelahnya, menunjukkan bahwa rumusan yang ia buat sangat adaptif dan mudah diterima oleh berbagai kebudayaan.

Imam as-Sanusi berhasil membuktikan bahwa untuk menjaga kemurnian ajaran dari masa lalu, kita tidak selalu harus mengulang-ulang kalimat lama dengan cara yang lama. Beliau memilih untuk mengemas kembali mutiara ajaran Imam al-Asy’ari ke dalam wadah yang lebih kuat, lebih jernih, dan lebih mudah digenggam oleh generasi setelahnya. Itulah esensi sejati dari sebuah ijtihad pemikiran. Wallahu a’lam

 border=
 border=

Check Also

Belajar Eksperimental dari Nabi Ibrahim

  Kisah tentang Nabi Ibrahim AS yang memohon kepada Allah SWT untuk menyaksikan bagaimana cara …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *