border=
 border=

Pengorbanan Masyitah, Tukang Sisir yang Memilih Syahid di Kawah Fir’aun

Di istana Fir’aun yang megah, Masyitah—seorang tukang sisir putri raja—menyembunyikan keimanannya di balik senyuman yang tunduk. Setiap helai rambut yang ia sisir seolah menjadi saksi bisu doa-doa yang ia panjatkan kepada Allah, Tuhan yang sesungguhnya, bukan Fir’aun yang mengaku diri sebagai dewa
Suatu hari, saat menyisir rambut putri Fir’aun, sisirnya terjatuh. Tanpa sadar, bibirnya berbisik, “Bismillah…” Putri itu terkejut, “Siapa ‘Allah’ yang kau sebut?” Masyitah diam, tapi desakan putri memaksanya berkata, “Dia Tuhan semesta alam, bukan Fir’aun yang fana.” Kata-katanya bagai petir di siang bolong
Ujian Keimanan di Hadapan Fir’aun
Fir’aun murka. “Kau berani menyembah selain aku?” raungnya di balai singgasana. Masyitah menatapnya dengan tenang, “Aku hanya menyembah Allah, Pemilik langit dan bumi.” Fir’aun mengancam: “Kau dan keluargamu akan kubunuh kecuali kau kembali menyembahku!” 26.
Tapi Masyitah tak gentar. Ia tahu suaminya, Hazaqil, telah syahid lebih dulu dibunuh Fir’aun karena imannya. Kini, giliran ia dan keempat anaknya—termasuk bayi yang masih merah—dihadapkan pada kawah besi berisi air mendidih
Pilihan antara Hidup atau Mati demi Allah
Hamman, algojo Fir’aun, menertawakan mereka. “Masuklah ke kawah ini, atau sembahlah Fir’aun!” Suami Masyitah terjun pertama, diikuti anak-anaknya yang berteriak, “Kami memilih Allah!” Tubuh mereka hancur lebur dalam gelegak air panas. Masyitah hanya bisa menangis, tapi hatinya tetap kokoh
Saat tinggal ia dan bayinya, syaitan membisikkan keraguan: “Kasihanilah anakmu yang tak berdosa!” Tiba-tiba, bayi itu berbicara dengan izin Allah: “Ibu, ayo kita menyusul ayah. Syurga menanti!” 46. Dengan air mata bahagia, Masyitah menceburkan diri bersama bayinya.
Kemuliaan di Akhirat
Di langit ketujuh, Rasulullah SAW mencium wangi kasturi saat Isra’ Mi’raj. Jibril berkata, “Itu aroma makam Masyitah, wanita yang direbus hidup-hidup demi imannya.” Allah menggantikan siksanya dengan syurga, tempat ia menjadi penghulu para syuhada
Epilog
Kisah Masyitah mengajarkan bahwa keimanan sejati tak bisa dikalahkan oleh kekuasaan atau siksaan. Pengorbanannya—sekeluarga syahid dalam kawah—menjadi cahaya abadi: “Kematian demi kebenaran adalah kemenangan yang kekal.”
______________

++++

Pondok Pesantren Modern Al-Muflihun Temanggung sedang membangun kelas sederhana. Sudah minus 21 juta.
Kami menerima wakaf tunai. Dana dapat dikirim ke LazisMu:
No rek:
BSI: 7890090073
A.n KLL Ponpes Al-Muflihun

 border=
 border=

Check Also

Belajar Eksperimental dari Nabi Ibrahim

  Kisah tentang Nabi Ibrahim AS yang memohon kepada Allah SWT untuk menyaksikan bagaimana cara …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *