border=
 border=

Air Mata di Atas Gelombang”

 

 

 

Langit hitam pekat menggantung rendah, seolah mencium permukaan air yang bergolak. Petir menggelegar, memecah kesunyian malam yang diselimuti rintik hujan tak henti. Kapal besar Nabi Nuh bergoyang hebat dihantam ombak, kayunya berderak menahan amarah samudera yang meluap.
Di geladak kapal, Nuh berdiri kaku, tangannya mencengkeram erat tiang kayu. Matanya yang tua dan bijak kini merah oleh air mata yang tak lagi bisa ditahan. Di kejauhan, suara jeritan manusia yang tenggelam perlahan menghilang, digantikan oleh desisan air yang menelan segalanya.
Tiba-tiba, pandangannya tertuju pada sebuah bayangan yang berjuang di antara ombak. Rambut panjang yang terurai, tangan yang teracung ke langit—dia mengenalinya.
“ISTRIKU!” teriak Nuh, suaranya parau.
Wanita itu menoleh ke arahnya. Wajahnya pucat, bibirnya gemetar. “Nuh… tolong aku!”
Nuh meraih seutas tali, bersiap melemparkannya. Tapi tiba-tiba, dia terhenti. Tangannya gemetar.
Anaknya, Sam, mendekat. “Ayah, lemparkan tali itu! Cepat!”
Nuh menggeleng pelan. “Dia… dia tidak mau naik kapal sejak awal, Sam. Dia menertawakan kita. Dia memilih berhala-berhala itu…”
“Tapi dia ibuku!” teriak Sam, matanya basah.
Nuh menatap istrinya yang semakin jauh terseret arus. “Aku mencintainya, Nak. Tapi dia mencintai kekafirannya lebih dari segalanya.”
Istrinya berteriak lagi, kali ini penuh kepahitan. “Nuh! Kau tega membiarkanku mati? Kau yang selalu bicara tentang kasih sayang Tuhan?!”
Nuh menjatuhkan diri ke lututnya, air mata menetes deras. “Aku sudah memperingatkanmu setiap hari, istriku. Aku sudah menangis memohon agar kau percaya. Tapi kau bilang aku gila. Kau ikut mereka melemparku dengan batu!”
Wanita itu tersedak, air mulai memenuhi mulutnya. “Aku… aku takut, Nuh! Aku tidak mau mati!”
Nuh menggapai ke arahnya, seakan ingin meraih jiwanya yang sudah terlalu jauh. “Aku juga tidak mau kehilanganmu! Tapi kau memilih untuk tidak percaya… bahkan sampai detik terakhir!”
Ombak besar menerjang, dan wanita itu hilang dari pandangan.
Sam menjerit, sementara Nuh terduduk, tubuhnya terguncang oleh isak tangis yang dalam. “Ya Allah… betapa berat ujian-Mu…”
Hud, anaknya yang lain, mendekat dan meletakkan tangan di pundak ayahnya. “Ayah, Allah Maha Adil. Ibu… ibu memilih jalannya sendiri.”
Nuh menatap wajah anak-anaknya yang setia, lalu memandang ke arah di mana istrinya terakhir terlihat. “Aku tahu kebenaran ada di sisi Allah… tapi hati ini tetap sakit. Aku mencintainya, tapi cintaku pada Tuhan lebih besar.”
Langit masih murung, tetapi hujan mulai reda. Kapal terus bergerak, membawa mereka yang beriman menuju bumi yang baru. Namun, di sudut geladak, seorang nabi menangis—bukan karena ragu, tapi karena sedih melihat orang yang dicintai binasa dalam kesesatan.
“Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, maka tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 38)
Tapi malam itu, Nuh bersedih. Bukan untuk dirinya, tapi untuk jiwa yang tersesat—jiwa yang pernah berbagi hidup dengannya, namun memilih kegelapan.
Dan di atas gelombang yang bergulung, air mata seorang nabi jatuh, menyatu dengan air bah yang menghapus dunia lama.
– Selesai –

++++

Pondok Pesantren Modern Al-Muflihun Temanggung sedang membangun kelas sederhana. Sudah minus 21 juta.
Kami menerima wakaf tunai. Dana dapat dikirim ke LazisMu:
No rek:
BSI: 7890090073
A.n KLL Ponpes Al-Muflihun

 border=
 border=

Check Also

Belajar Eksperimental dari Nabi Ibrahim

  Kisah tentang Nabi Ibrahim AS yang memohon kepada Allah SWT untuk menyaksikan bagaimana cara …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *