Dalam sebuah artikel yang dimuat di siperubahan.com, penulis berusaha membuktikan bahwa kiyas imam Syafii benar-benar berasal dari Arestoteles. Untuk menguatkan argumennya, penulis menggunakan tiga bukti, dengan mengatakan sebagai berikut:
Asy-Syafi’i sejak awal sudah terpengaruh logika Aristoteles dengan tiga alasan. Pertama, logika Aristoteles telah masuk ke dunia Islam melalui ilmu kalam dan imam asy-Syafi’i juga seorang teolog. Kedua, asy-Syafi’i menguasai bahasa Yunani sebagaimana keterangan yang dibuat oleh Abi Abdullah al-Hakim dalam bukunya Manaqib asy-Syafi’i. Ketiga, adanya persamaan konsep antara teori qiyas asy-Syafi’i dan teori silogisme Aristoteles, yaitu penggunaan term dengan genus dan differentia-nya, premis mayor, premis minor, konklusi dan fungsi masing-masing premis. Lengkapnya bisa dibuka di sini: http://www.siperubahan.com/read/1444/Pengaruh-Filsafat-Yunani-dalam-Pemikiran-Hukum-Islam
Untuk poin ketiga sudah saya tanggapi sebelumnya di artikel yang berjudul, “Benarkah Kiyas Syafii Mengadopsi Dari Logika Yunani?”. Sekarang saya akan menanggapi poin dua, yaitu dakwaan penulis bahwa Imam Syafii seorang teolog.
Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita lihat langsung sikap imam Syafii terkait ilmu kalam, baru kemudian kita mengambil kesimpulan.
Dalam kitab biografi imam Syafii yang ditulis oleh imam Dzahabi, beliau menukilkan pendapat imam Syafii secara jelas. Di antara pernyataan imam Syafii terkait ilmu kalam adalah sebagai berikut:
- Jika orang-orang tau bahwa dalam ilmu kalam itu hanya sekadar hawa nafsu, tentu mereka akan lari dari ilmu kalam seperti ketika mereka lari dikejar seekor singa.
- Tidak ada seorang pun yang belajar ilmu kalam, lalu bisa selamat.
- Demi Allah, seorang alim memberikan fatwa kemudian fatwanya dikatakan, “Orang alim itu salah dalam berfatwa”, itu jauh lebih baik daripada dia berkata, lalu orang akan mengatakan kepadanya, “Kamu Zindik”. Ilmu kalam dan ulama kalam adalah sesuatu yang paling aku benci.
- Beliau pernah berkata, “Wahai Rabi, dengarkan tiga wasiatku ini: Jangan sekali-kali kamu membicarakan (keburukan) sahabat Nabi karena musuhmu kelak adalah Nabi Muhammad saw. Jangan sekali-kali belajar ilmu kalam, karena pakar kalam membahayakan. Jangan sekali-kali sibuk dengan ilmu Astrologi karena hanya akan merusak (akidah)mu.
- Imam Syafii pernah berkata, “Bagiku, hukuman bagi ahli kalam seperti hukumannya Umar bin Khathab kepada Shabigh.
- Beliau juga mengatakan, “Menurutku, hukuman ahli kalam dicambuk dengan pelepuh kurma dan diarak mengelilingi kampung. Lalu orang-orang akan meneriakinya dengan mengatakan,”Inilah balasan bagi orang yang meninggalkan kitab dan sunnah”.
- Imam Syafii juga pernah berkata, “Mazhabku terhadap para ahli kalam adalah mencabuk kepala mereka dengan pelepah kurma dan mengusir mereka dari kampung halamannya”.
- Al-Muzanni, murid dari imam Syafii pernah berkata, “Imam Syafii selalu melarang berbicara terkait ilmu kalam”. Sebelum berguru kepada imam Syafii, imam Muzanni pernah belajar ilmu kalam. Namun ketika hal itu ditanyakan kepada imam Syafii, sang Imam marah. Sejak saat itu imam Muzanni meninggalkan ilmu kalam dan konsentrasi di ilmu fikih.
Benar bahwa logika Arestitele telah masuk ke dunia Islam pada masa Imam Syafii. Namun apakah ini bisa dijadikan bukti bahwa Imam Syafii juga mutakallim (Teolog)? Dari uraian di atas, ternyata sangat jelas bahwa imam Syafii tidak suka dengan ilmu kalam. Pernyataan imam Syafii tadi sekaligus menggugurkan klaim bahwa beliau adalah seorang teolog.

