Spesifikasi ketiga: maslahat syar’iyyat tidak sekadar melihat kepada ukuran materi saja, namun lebih dari itu, yaitu melihat juga kepada sisi maknawi dan spiritualitas. Masalah spiritualitas ini sangat penting, apalagi di zaman kita saat ini. Sering kita membaca berita mengenai orang kaya yang mati bunuh diri. Ia bunuh diri bukan karena hidup serba kurang, namun justru merasa telah mempunyai segalanya. Hanya saja spiritualitasnya kosong. Ia tidka tau hidup ini harus apa dan untuk apa. Kekosongan spiritualitas ini sangat berbahaya karena bisa berdampak sangat fatal, yaitu gila dan stres.
Banyak penyakit modern yang sumber utamanya sesungguhnya bermula dari krisis spiritualitas ini. Manusia mudah terkena berbagai penyakit fisik yang bermula dari penyakit non fisik. Krisis spiritualitas akan menyebabkan manusia merasa hampa, hidup kosong dan tiada guna. Maka tidak mengherankan jika pada akhirnya ia mati bunu diri.
Islam sangat memahami mengenai kebutuhan paling mendasar bagi manusia ini. Nilai spiritualitas menjadi dominan sebelum menginjak pada persoalan materi. Nilai spiritualitas ini terkait dengan keimanan, percaya dengan Tuhan, rasul kitab suci dan lain sebagainya. Nilai spiritualitas ini adalah perasaan wujud Tuhan Yang Maha kuasa yang mengatur segala gerak gerik alam raya. Tuhan yang mempunyai kehendak mutlak terhadap seluruh makhluknya.
Nilai spiritualitas ini menjadikan hidup manusi tenang. Nilai spiritualitas mengajarkan manusia untuk sabar, qanaah, syukur, bersih dari sifat tamak, dan lain sebagainya. Hati selalu dipenuhi dengan dzikir mengingat Allah Yang Mahas besar.
Orang yang hatinya terpenuhi dengan niali-nilai spiritualitas, nilai ketuhanan, kehidupannya akan tenang. Bahkan dalam kondisi yagn sangat kekurangan, ia tetap tentang dan percaya sepenuhnya kepada Allah.
Maslahat dalam pandangan Islam, bukan saja terkait dengan berbagai kenikmatan dunia yang sifatnya materi itu. Untuk apalah hidup berlimpah harta namun hatinya tidak tenang, tidur tidak nyenyak, hati selalu bingung. Berbagai gemerlap materi itu, sama sekali tidak akan mampu memberikan siraman hati manusia. Hanya dengan keimanan lah, manusia dapat merasakan kebahagiaan itu.


