Kedua, maslahat dalam syariat islam tidak hanya diukur dengan maslahat keduniahan saja, namun juga maslahat hamba kelak di akhirat. Muhammad said ramadhan al buthi menyatakan bahsa semua maslahat yang kiranya kelak diakhirat akan membawa kebaikan kepada dirinya, maka ia dianggap sebagai maslahat yang sesungguhnya.
Terkait dengan hari akhirat ini memang tidak semua manusia mengimaninya. Bagi orang mukmin, kehidupan di akhirat jelas adanya. Dengan demikian, ia akan selalu menmbang segala amal perbuatan dengan kehidupan di akhirat kelak. Bagi orang kafir, mereka tidak percaya dengan keberadaan hari akhirat ini. Oleh karena itu, terkait maslahat ini, banyak dari mereka yang hanya mengukurnya dengan nilai-nilai keduniahan saja.
Tidak heran jika kita melihat orang-orang kafir melakukan berbagai macam prilaku buruk dan menyimpang, namun menurut mereka baik-baik saja. Bahkan prilaku buruk itu dianggap sebagai tradisi dan membudaya. Minuman keras, pergaulan bebas, merokok, dan berbagai perbuatan negatif lainnya yang menurut mereka mengandung maslahat.
Hal itu, karena bagi mereka, keindahan dan kebahagiaan ya di dunia ini. Tidak ada lagi kehidupan setelah mati. Oleh karenanya, kehidupan dunia digunakan sebaik mungkin untuk mendapatkan berbagai kenikmatan dunia.
Tentu ini jauh berbeda dengan syariat islam yang selalu mengaitkan kehidupan dunia dengan akhirat. Masalaht dunia juga terkait erat dengan maslahat akhirat. Bahkan bagi seorang muslim, dunia ini merupakan ladang untuk menanam kebaikan. Di akhirat kelak ia akan memetik apa yang ia tanam saat ini.
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, DAN JANGANLAH KAMU MELUPAKAN BAGIANMU DARI (KENIKMATAN) DUNIAWI…dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (QS: al-Qashash: 77)
وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا
“Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan ia berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, Maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik”. ( Al Israa’ : 19)
Inilah spesifiksi kedua dari maslahat dalam pandangan Islam. Maslahat yang melihat pada jangka panjang, yaitu kehidupan kelak di akhirat, bukan sekadar maslahat di dunia saja. Dengan demikian, manusia akan mendapatkan kebahagiaan di dua tempat sekaligus, dunia dan akhirat.


