border=
 border=

Ketika Ijazah Tak Lagi Jadi Jaminan: Fenomena PKBM dan Masa Depan Pendidikan

Oleh: Ustadzah Isna Firdausi,S.Pd

 

Fenomena meningkatnya minat masyarakat terhadap Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) menjadi indikator kuat adanya pergeseran cara pandang terhadap pendidikan formal. Ungkapan “Tanda-tanda tidak ada minat sekolah” dan “sekarang sekolah sama nggak sekolah sama saja inputnya” mencerminkan pandangan bahwa institusi pendidikan formal saat ini tidak lagi dipandang sebagai satu-satunya jalan untuk mendapatkan ilmu atau mencapai kesuksesan. Hal ini diperkuat oleh data di berbagai daerah, seperti di Kecamatan Tretep, di mana jumlah pendaftar PKBM mencapai 200 orang untuk Paket A hingga C. Angka ini luar biasa, bahkan mengindikasikan bahwa PKBM tidak lagi menjadi opsi “terakhir,” melainkan pilihan yang disengaja.

 

Kesan bahwa hasil dari sekolah formal tidak sebanding dengan usaha yang dikeluarkan tidak lepas dari kritik terhadap sistem evaluasi, terutama terkait Ujian Nasional (UN). Pernyataan bahwa “Ujian nasional sebetulnya buat ana malah jadi beban guru dan siswa” menyoroti bagaimana UN, alih-alih menjadi alat ukur kompetensi, justru menciptakan tekanan psikologis yang besar. Studi yang dilakukan oleh Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) pada tahun 2019 menemukan bahwa lebih dari 60% siswa mengalami stres dan kecemasan tinggi menjelang UN. Tekanan ini tidak hanya dirasakan oleh siswa yang harus memenuhi standar kelulusan, tetapi juga oleh guru yang dituntut untuk mencapai target nilai tertentu. Akibatnya, fokus pembelajaran bergeser dari pendalaman materi menjadi sekadar persiapan menghadapi ujian, atau dikenal sebagai “teaching to the test.”

Mengevaluasi Ulang Tujuan Penilaian dan Pembelajaran

 

Kritik terhadap sistem ini membawa kita pada pertanyaan mendasar: “tujuannya sebetulnya apa dulu ust dari adanya ulangan harian bahkan sampai ujian nasional?” Pertanyaan ini esensial untuk mengevaluasi kembali tujuan dari setiap bentuk penilaian. Jika tujuannya adalah mengukur pemahaman, mengapa sistem yang ada justru menciptakan fenomena di mana siswa “belajar untuk ujian, bukan ujian untuk belajar“? Ungkapan ini merupakan kritik tajam terhadap sistem pendidikan yang cenderung mengarahkan siswa untuk menghafal demi nilai, bukan untuk menginternalisasi pengetahuan dan memanfaatkannya dalam kehidupan nyata. Sebuah survei dari Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan (Puskurbuk) Kemendikbudristek menunjukkan bahwa hanya 20% lulusan SMA/SMK yang merasa materi yang mereka pelajari relevan dengan kebutuhan dunia kerja atau perkuliahan. Ini menunjukkan adanya kesenjangan yang besar antara apa yang diajarkan dan apa yang dibutuhkan.

PKBM sebagai Alternatif Pendidikan yang Relevan dan Fleksibel

 

Meningkatnya popularitas PKBM dan kritik terhadap sistem pendidikan formal dapat dipandang sebagai refleksi dari kebutuhan masyarakat akan model pendidikan yang lebih relevan, fleksibel, dan berorientasi pada pengembangan potensi diri secara menyeluruh. Di PKBM, pendekatan pembelajaran cenderung lebih personal dan berfokus pada kebutuhan individual. Data dari Ditjen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah menunjukkan bahwa PKBM kini tidak hanya menyediakan program kesetaraan, tetapi juga berbagai pelatihan keterampilan praktis seperti tata rias, menjahit, atau komputer. Model ini menjawab kebutuhan masyarakat yang lebih pragmatis dan berorientasi pada hasil nyata, yaitu keterampilan yang dapat langsung digunakan untuk berwirausaha atau mencari pekerjaan.

 

Fenomena ini mendorong kita untuk merenungkan kembali esensi sejati dari pendidikan: apakah sekadar mengejar ijazah atau nilai, ataukah untuk membentuk individu yang mandiri, kritis, dan siap menghadapi tantangan zaman? Pergeseran ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai menuntut sebuah sistem pendidikan yang tidak hanya mengukur nilai, tetapi juga mengembangkan potensi, kreativitas, dan karakter.

 

 

 border=
 border=

Check Also

Belajar Eksperimental dari Nabi Ibrahim

  Kisah tentang Nabi Ibrahim AS yang memohon kepada Allah SWT untuk menyaksikan bagaimana cara …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *