border=
 border=

Antara Cahaya Iman dan Gelapnya Maksiat

 Bimbingan-membaca-Al-Quran-Setelah-sholat-MaghribKetaatan kepada Allah merupakan cahaya, sementara maksiat merupakan kegelapan. Orang yang selalu taat kepada Allah, hatinya akan bersinar terang, semetnara orang yang selalu melakukan maksiat, hatinya gelap gulita. Tidak ada setitik sinarpun yang akan menerangi hatinya.

 

 

Sinar orang beriman, tidak hanya terpancar di dalam hatinya, namun juga terpancar dalam raut muka dan perilakunya. Orang beriman wajahnya selalu berseri, senyumnya selalu manis, tingkah lakukanya juga terpuji. Ia berbudi luhur, selalu membantu orang lain, bahkan berperilaku baik kepada biatang dan alam sekitar. Orang beriman, adalah teladan bagi masyarakat. Cahayanya benar-benar menjadi obor penerang. Masyarakatpun akan suka dengannya. Bahkan mereka yang berbeda keyakinan pun, akan mencintainya. Mereka semua akan merasa sangat kehilangan tatkala orang beriman meninggalkan mereka.

 

 

Lihatlah Rasulullah saw. Betapa beliau sangat dicintai para sahabatnya, bahkan orang kafir Quraisypun segan kepadanya. Meski mereka tidak beriman, namun mereka tetap menyematkan kata al-amin kepada Nabi Muhammad saw. Dengan budi pekerti luhur, pada akhirnya, Nabi Muhammad saw. mampu menyinari masyarakat sekitar. Kaum Quraisy yang dulu memusuhinya, berbodong-bondong masuk Islam.

 

Ingatlah tatkala terjadi Fathu Makkah. Kafir Quraiys kalah. Mekkah takluk. Semua dikumpulkan dalam suatu tempat di depan Ka’bah. Rasul bertanya kepad amereka, “Taukah apa yang akan aku lakukan kepada kalian?” Mereka semua ketakutan. Mereka mengira bahwa Rasulullah saw. akan membalas dendam terhadap kejahatan yang selama ini mereka lakukan.

 

Mereka berkata, “Ampunkan, engkau adalah orang paling mulia. Keturunan orang termulya”. Lantas Rasulullah saw.  bersabda, “Pergilah. Kalian semua bebas”.

 

Masyaallah. Orang Quraisy yang selama ini selalu menyakiti Nabi Muhammad saw., melempari Nabi dengan kotoran unta, melempari batu, menghina, mencerca bahkan membunuh paman Nabi, sahabat Hamzah dan memakan jantungnya, kemudian Rasul mengampuni merea. Betapa tingginya akhlak beliau.

 

Dengan sinar iman itu, kegelapan hati orang Qurais bersinar seketika. Mereka berbondong-bondng masuk Islam.

 

 

Sebaliknya, peloaku munkar, hatinya gelap gulitnya. Kegelapan dalam hatinya, juga terpancar dari raut mukanya yang selalu masam, mudah marah, mudah mencaci dan mengina orang lain. Prilakunya juga gelap. Ia penyebar onbar, pemabuk, pencuri dan seabrek tindakan tak terpuji lainnya. Dalam masyarakat, mereka dianggap sebagai momok. Ia dijuluki sebagai sampah masyarakat. Orang akan kirang tatkala ia pergi untuk selamanya.

 

Ya…itu karena kehidupannya tidak membawa sinar. Bahkan dapat menarik dan mengajak orang lain mengikuti jejaknya. Orang bai-baik yang lemah iman, bisa terseret dan terbawa tingkah lakunya.

 

Ia dimurkai oleh masyarakat ketika di dunia, dan dimurkai Allah baik ketika di dunia maupun di akhirat.

 

Marilah kita jaga keimanan kita kepada Allah, sehingga hati kita dapat bersinar. Lantas sinar itu memancar melalui wajah kita dan perilaku kita. Maka Allah dan Rasul-Nya akan mencintai kita. Masyarakatpun akan bangga dengan kita. Kita akan bahagia di dunia dan di akhirat kelak,.

 border=
 border=

Check Also

Belajar Eksperimental dari Nabi Ibrahim

  Kisah tentang Nabi Ibrahim AS yang memohon kepada Allah SWT untuk menyaksikan bagaimana cara …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *