Seri Counter Buku FIkih Kebinekaan. Artikel ke 20.
Sebelumnya telah kita sampaikan bahwa Hamim Ilyas menuduh agama Islam tidak menginspirasi kejayaan. Lalu menuduh tafsir pra-industri tidak relevan dengan zaman. namun jika kit abaca di paragraph-paragraf setelahnya, nampak sekali ketidakkonsistenan Hamim Ilyas terhadap pendapat sebelumnya.
Ketika menerangkan mengenai pijakan dan dasar rekonstruksi, beliau menggunakan surat at-taubah ayat 22. Untuk menerangkan kata addin seperti termaktub dalam ayat tersebut, beliau merujuk pada kitab tafsir “pra-industri” dengan mengaitkan surat at-taubah ayat 22 tadi dengan asbabunnuzul surat al-kautsar. Perhatikan kalimat berikut ini:
Asbabu an-nuzul surat al-kafirun, sebagaimana disebutkan as-suyuthi dalam kitab lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul adalah usulan orang-orang Quraisy kepada Nabi untuk melakukan kompromi dalam memeluk agama”
Siapakah as-Suyuti yang disebutkan oleh Hamim Iyas di atas? Ia adalah Jalaluddin as-Suyuthi, ulama ensiklopedis yang lahir pada tahun 849 H/1445 M. dilihat dari kelahirannya, jelas beliau lahir jauh sebelum era industry. Jadi, mengapa tulisan beliau dijadikan sebagai rujukan? Bukankah tafir pra-industri tidak inspiratif?
Selain as-Suyuthi, beliau juga mengambil rujukan kitab al-mu’jam karya As-asfahani, kitab Lisan karya Ibnul Mndzur, tafsir Thabari, Tafsir al-Kasyar karya Zamasyari, ma’alim karya al-Baghawi, Tafsir Abul Qdir al-Jilanidan lain sebagainya. Semua kitab-kitab tersebut, lahir pada masa pra-industri. Jika tafsir pra-industri tidak inspiratif, mengapakah ia dijadikan sebagai rujukan?
Jika ia mau konsisten dengan apa yang dituliskan sebelumnya, semestinya ia tidak perlu merujuk pada tafsir pra-industri. Rujuk saja tafsir industri yang menurutnya lebih inspiratif untuk kejayaan. Apalagi para ulama pra-industri itu, menurutnya tidak berwawasan. Dengan demikian, kemajuan umat sesuai yang ia harapkan bisa terealisasikan. Namun mengapa itu tidak ia lakukan?


