border=
 border=

Tatkala Santri Kehilangan Etika; Menilik Kasus Mahasiswa al-Azhar

fdsafsaAl-Khatib al-Baghdadi ketika membahas mengenai adab dan akhlak mereka yang belajar ilmu hadits mengisahkan tentang etika perawi hadis yang bernama Ali bin Shalih bin Hayyi dan Al Hasan bin Shalih bin Hayyi.
Ali dan al-Hasan merupakan saudara kembar, hanya saja Ali lahir sesaat lebih dulu daripada al-Hasan. Al-Hasan pun amat menghormatinya meski usia mereka hampir sama.

Al-Hasan tidak pernah memanggil Ali dengan namanya, namun dengan kuniyahnya yakni Abu Muhammad. Jika al-Hasan duduk bersama Ali, maka ia tidak duduk di sampingnya, namun duduk lebih rendah dari posisi sang kakak. Al-Hasan sangat hormat kepada Ali, meski umur Ali lebih tua sesaat! (Al Jami’ li Al Ikhlak Ar Rawi wa Adab As Sami’, 1/171)

Saya teringat ketika masih kecil, betapa kyaiku selalu menekankan pada para santri untuk selalu hormat pada gurunya. Dalam kitab akhlak “Ta’limul Muta’allim”, kitab kecil yang diajarkan kepada kami,  diungkapkan bahwa guru ibarat bola mata. Mata itu yang akan membantu kita untuk dapat melihat alam raya. Gurulah yang menuntun kita, sehingga kita dapat melihat, mana jalan yang lurus dan mana yang berbelok, mana jalan yang baik dan mana jalan yang berbahaya.

Kami sangat takut, manakala kyai murka. Kami ingat bahwa ilmu kita tidak bermanfaat manakala kita durhaka kepada guru kita. Istilah kyaiku, “ilmumu ora barokah, ilmumu tidak akan membawa berkah”.

Maka tradisi cium tangan sesungguhnya bukan sikap mensakralkan santri terhadap kyainya. Cium tangan hanya sekadar simbul rasa hormat santri kepada sang guru yang telah memberikan ilmu pengetahuan kepadanya.

Dalam al-Quran, kisah ketaatan santri dan rasa hormat kepada gurunya, digambarkan begitu jelas dalam kisah Nabi Musa yang berguru kepada Nabi Hidzir.

Betapa Nabi Khidir memerintahkan Musa untuk taat dan bersabar. Jangankan mengangkat suara, banyak “protes” kepada guru pun dilarang.

Namun betapa sedihnya, ketika kita sebagai santri al-Azhar, namun etika kita kepada sang guru nampak sirna. Etika kita hilang gara-gara perbedaan aliran politik.

 

Saat ini kita melihat, para kyai kita, dosen kita, para ulama yang menjaga eksistensi lembaga al-Azhar tempat kita bernaung, dihina, didemo bahkan dirusak dan fasilitasnya dihancurkan. Tidak hanya itu, mereka juga melarang santri lain yang masih semangat menuntut ilmu, agar tidak dapat belajar dengan nyaman. Mereka ingin semua santri Azhar sepaham dengan aliran politiknya.

 

Kemana akhlak kita kepada guru? Mana kitab suci al-Quran yang selama ini kita baca? Mana hadis Nabi yang konon menjadi pusaka kita? Mana segudang ilmu syariah yang kita pelajari?

Apakah ilmu hanya sekadar sebagai ilmu, bukan untuk diamalkan? Jika demikian, apa perbedaan kita dengan para kyai Yahudi, yang oleh al-Quran diibaratkan seperti keledai yang membawa kitab Taurat? Kitab Suci yang agung itu, hanya sekadar bawaan, tanpa mereka pahami, dan tanpa dipraktekkan dalam alam nyata?

Sedih rasaya ketika melihat aksi demo anarkis di lembaga Azhar, kiblat ilmu dan tempatnya para ulama.

Saya kadang berfikir, jika mereka tidak suka dengan kebijakan Azhar, mengapa tidak disampaikandengan baik-baik? Jika tidak diterima, mengapa mereka tidak bersabar? Jika masih tidak menerima, mengapa mereka tidak mau keluar dari lembaga Azhar secara baik-baik tanpa harus meninggalkan jejak buruk? Tanpa harus bersikap anarkis?.

Yang lebih menyedihkan lagi, kebencian terhadap Azhar dan ulamanya, tidak hanya terjadi bagi warga Mesir yang memang sedang terbelah oleh sekte politik, namun menjalar kepada mahasiswa Indonesia. Mahasiswa kita terkotak mendukung kelompok tertentu, padahal itu kan urusan politik Mesir.

 

Tidak layaklah bagi mahasiswa Indonesia untuk ikut campur urusan dalam negeri negara Mesir. Kita pun akan marah, tatkala ada yang mencapuri urusan dalam negeri. Bangsa Indonesia dan rakyat kita juga murka, ketika pimpinan negara kita disadap oleh negara tetangga.

Sedih rasanya, membaca status facebook mahasiswa Indonesia yang sudah hilang rasa hormatnya kepada sang guru dan kepada lembaga tempat mereka bernaung. Rasa-rasanya, seperti bukan santri Azhar saja. Bahasa yang digunakan sangat kasar, bahkan makhluk Allah yang ada di kebun binatang pun, turut keluar dari mulut mereka. Kenapa mereka tidak mengundurkan diri saja sebagai santri Azhar?

Saya hanya berdoa, semoga kita menyadari mengenai tujuan kita datang ke Cairo ini. Jauh-jauh kita mengeluarkan biaya dan tenaga, sangat disayangkan jika yang didapatkan bukan akhlak karimah, bukan untuk menuntut ilmu, namun justru mencaci para guru kita yang mulia.

Semoga Allah segera mengangkat fitnah yang sedang terjadi di bumi Kinanah ini. Semoga kita menjadi santri yang bersyukur terhadap ulama dan lembaga al-Azhar. Semoga Allah selalu memberikan keberkahan kepada guru kita dan ilmu yang mereka berikan kepada kita. Amiin.

 border=
 border=

Check Also

Belajar Eksperimental dari Nabi Ibrahim

  Kisah tentang Nabi Ibrahim AS yang memohon kepada Allah SWT untuk menyaksikan bagaimana cara …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *