border=
 border=

Struktur Filsafat Ilmu Islam; Akar Epistemologi Menurut Al-Qur’ân dan Al-Sunnah

 ShareIslam_Science_1024x768

Teori Pengetahuan

 

Epistemologi selalu menjadi bahan yang menarik untuk dikaji, karena disinilah dasar-dasar pengetahuan maupun teori pengetahuan yang diperoleh manusia menjadi bahan pijakan. Konsep-konsep ilmu pengetahuan yang berkembang pesat dewasa ini beserta aspek-aspek praktis yang ditimbulkannya dapat dilacak akarnya pada struktur pengetahuan yang membentuknya. Dari epistemologi, juga filsafat -dalam hal ini filsafat modern- terpecah berbagai aliran yang cukup banyak, seperti rasionalisme, pragmatisme, positivisme, maupun eksistensialisme.1

Dengan demikian, pengetahuan (knowledge atau ilmu) menjadi bagian yang esensial- aksiden manusia, karena pengetahuan adalah buah dari “berpikir “. Berpikir (atau nathiqiyyah) adalah sebagai differentia ( atau fashl) yang memisahkan manusia dari sesama genus-nya, yaitu hewan. Dan sebenarnya kehebatan manusia dan ” barangkali ” keunggulannya dari spesies-spesies lainnya karena pengetahuannya. Kemajuan manusia dewasa ini tidak lain karena pengetahuan yang dimilikinya. Lalu apa yang telah dan ingin diketahui oleh manusia? Bagaimana manusia berpengetahuan? Apa yang ia lakukan dan dengan apa agar memiliki pengetahuan? Kemudian apakah yang ia ketahui itu benar? Dan apa yang mejadi tolak ukur kebenaran?

Sebenarnya pertanyaan diatas sangat sederhana karena sudah terjawab dengan sendirinya ketika manusia sudah masuk ke alam realita. Namun ketika masalah itu diangkat dan dibedah dengan pisau ilmu maka tidak menjadi sederhana lagi. Masalah-masalah itu akan berubah dari sesuatu yang mudah menjadi sesuatu yang sulit, dari sesuatu yang sederhana menjadi sesuatu yang rumit (complicated). Oleh karena masalah-masalah itu dibawa ke dalam pembedahan ilmu, maka ia menjadi sesuatu yang diperselisihkan dan diperdebatkan. Perselisihan tentangnya menyebabkan perbedaan dalam cara memandang dunia (world view), sehingga pada gilirannya muncul perbedaan ideologi. Dan itulah realita dari kehidupan manusia yang memiliki aneka ragam sudut pandang dan ideologi.

Atas dasar itu, manusia -paling tidak yang menganggap penting masalah-masalah diatas- perlu membahas ilmu dan pengetahuan itu sendiri. Dalam hal ini, ilmu tidak lagi menjadi satu aktivitas otak, yaitu menerima, merekam, dan mengolah apa yang ada dalam benak, tetapi ia menjadi objek.

Para pemikir menyebut ilmu tentang ilmu ini dengan epistemologi (teori pengetahuan atau nadzariyyah al ma’rifah).2

Epistemologi menjadi sebuah kajian sebenarnya belum terlalu lama, yaitu sejak tiga abad yang lalu dan berkembang di dunia Barat. Penyebabnya adalah bahwa sejak masuknya agama Nasrani ke Eropa, terdapat masalah hubungan antara pengetahuan samawi dan pengetahuan manusiawi, pengetahuan supranatural dan pengetahuan rasional-natural-intelektual, antara iman dan akal. Kaum agama di satu pihak mengatakan bahwa pengetahuan manusiawi harus disempurnakan dengan pengetahuan fides, sedang kaum intelektual mengemukakan bahwa iman adalah omong kosong kalau tidak terbuktikan oleh akal. Situasi ini menimbulkan tumbuhnya aliran Skolastik yang cukup banyak perhatiannya pada masalah epistemologi, karena berusaha untuk menjalin paduan sistematik antara pengetahuan dan ajaran samawi di satu pihak, dengan pengetahuan dan ajaran manusiawi intelektual-rasional di lain pihak. 3

Adalah Renaissance yang paling berjasa bagi mereka dalam menutup abad kegelapan Eropa yang panjang dan membuka lembaran sejarah mereka yang baru. Supremasi dan dominasi gereja atas ilmu pengetahuan telah hancur. Sebagai akibat dari runtuhnya gereja yang memandang dunia dangan pandangan yang apriori atas nama Tuhan dan agama, mereka mencoba mencari alternatif lain dalam memandang dunia (baca: realita). Maka dari itu, bemunculan berbagai aliran pemikiran yang bergantian dan tidak sedikit yang kontradiktif. Namun secara garis besar aliran-aliran yang sempat muncul adalah ada dua, yakni aliran rasionalis dan empiris. Dan sebagian darinya telah lenyap. Dari kaum rasionalis muncul Descartes, Imanuel Kant, Hegel dan lain-lain. Dan dari kaum empiris adalah Auguste Comte dengan Positivismenya, Wiliam James dengan Pragmatismenya, Francis Bacon dengan Sensualismenya. 4

Pola berpikir kaum rasionalis bertumpuk dari aksioma dasar yang diturunkan dari ide tentang kebenaran yang menurut anggapannya adalah jelas, tegas dan pasti dalam pikran manusia.   Pikiran manusia mempunyai kemampuan untuk mengetahui ide tersebut, namun manusia tidak menciptakannya dan tidak pula mempelajari lewat pengalaman.  Singkatnya, bahwa bagi kaum rasionalisme ide tentang kebenaran, yang menjadi dasar bagi pengetahuannya diperoleh lewat berpikir secara rasional atau dengan kata lain kriteria kebenaran pengetahuan dikaitkan  dengan kesesuaian antara pemikiran dengan kenyataan, terlepas dari pengalaman manusia.  Sistem pengetahuan dibangun secara koheran diatas landasan-landasan pernyataan yang sudah pasti.  Namun timbul pertanyaan, dari manakah kita mendapat kebenaran yang sudah pasti bila kebenaran itu tercerai dari pengalaman manusia yang nyata?.  Disinilah kaum rasionalis mulai menemukan kesulitan untuk  mendapatkan konsensus yang dapat dijadikan landasan bagi kegiatan berpikir bersama.  Disini terlihat bahwa tiap orang cenderung untuk percaya kaum rasionalisme. kepada kebenaran yang pasti menurut mereka sendiri.  Lalu bagaimana kita bisa sampai pada suatu konsensus bila hanya berdasarkan apa yang dianggap benar oleh masing-masing?.  Kenyataan yang dihadapi, tidak hanya oleh para ilmuawan, bahwa betapa sukarnya untuk sampai kepada suatu kesimpulan yang dapat disetujui bersama bila hanya berdasarkan pada cara tersebut.  Cara berpikir seperti ini akan menjerumuskan kita kedalam Silopsisme, yakni pengetahuan yang benar menurut anggapan kita masing-masing.5

Emperisme mempunyai cara berpikir yang sama sekali berlawanan dengan kaum rasionalisme.  Kaum empiris menganjurkan agar kita kembali ke alam untuk mendapatkan pengetahuan.  Alasan mereka adalah bahwa pengetahuan tidak ada secara apriori terdapat di benak kita, melainkan harus diperoleh dari pengalaman.  Teori pengetahuannya, terutama yang dikemukakan oleh Lock (bapak kaum empiris Inggris) didasarkan pada pengalaman yang ditangkap oleh pancaindera kita.  Dia memandang pikiran sebagai alat atau kertas lilin yang licin (tabula rasa) yang menerima dan menyimpan sensasi pengalaman.  Pengetahuan merupakan hasil dari kegiatan keimuwan (pikiran) yang mengkombinasikan sensasi-sensasi pokok (McCleary, 1998).

Teori empiris sendiri memiliki dua aspek. Pertama adalah perbedaan antara yang mengetahui (subyek) dan yang diketahui (obyek).  Terdapat di alam nyata yang terdiri dari fakta atau obyek yang dapat ditangkap oleh seseorang.  Kedua adalah kebenaran atau pengujian kebenaran dari fakta atau obyek didasarkan kepada pengalaman manusia.  Agar berarti bagi kaum empiris, maka pernyataan tentang ada atau tidak adanya sesuatu haruslah memenuhi persyaratan pengujian publik.  Masalah yang rumit akan timbul bila persyaratan tentang suatu obyek atau kejadian ternyata tidak lagi terdapat untuk pengujian secara langsung.6

Berbeda dengan Barat, di dunia Islam tidak terjadi ledakan seperti itu, karena dalam Islam agama dan ilmu pengetahuan berjalan seiring dan berdampingan, meskipun terdapat beberapa friksi antara agama dan ilmu, tetapi itu sangat sedikit dan terjadi karena interpretasi dari teks agama yang terlalu dini. Namun secara keseluruhan agama dan ilmu saling mendukung.7 Dalam hal ini, Ibnu Rusd berkata, “Jika syarî’ah ini benar adanya dan ia menyeru agar selalu berpikir untuk mencapai kepada pengetahuan kebenaran, maka kita sebagai orang Islam sama-sama sudah mengetahui bahwa berpikir secara argumentatif tidak akan bertentangan dengan apa yang terdapat dalam syarî’ah, karena kebenaran tidak akan bertentangan dengan kebenaran, namun akan selalu sesuai dan menjadi saksi kebenaran”.8 Maka tidak heran jika dari ulama Islam menguasai ilmu agama, namun dalam satu waktu juga sebagai ilmuwan seperti : Ibnu Sina, al Farabi, Jabir bin al Hayyan, al Khawarizmi, Syekh al Thusi dan yang lainnya. Oleh karena itu, ledakan intelektual dalam Islam tidak terjadi. Perkembangan ilmu di dunia Islam relatif stabil dan tenang.9

 border=
 border=

Check Also

Belajar Eksperimental dari Nabi Ibrahim

  Kisah tentang Nabi Ibrahim AS yang memohon kepada Allah SWT untuk menyaksikan bagaimana cara …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *