Sebelum penciptaan manusia, terlebih dahulu Tuhan berdialog kepada para Malaikat. Tuhan ingin mengetahui bagaimana tanggapan mereka. Namun ternyata Malaikan protes. Kata mereka, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan pun menjawab, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”. Lantas Tuhan mengajarkan nabi Adam segala sesuatu, firman Tuhan, ”Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” Namun malaikat tidak mengetahuinya. Malaikat pun mengakui kelebihan nabi Adam sehingga Tuhan memerintahkan mereka untuk sujud sebagai tanda penghormatan kepadanya.
Demikianlah, sejak awal penciptaan manusia, pertama kali Tuhan memberikan pengajaran (pendidikan) kapada nabi Adam. Memang pendidikan sangat esensi sekali. Maju mundurnya suatu peradaban banyak ditentukan oleh faktor pendidikan. Dalam hal itu Malik bin Nabi mengatakan bahwa peran pendidikan itu mirip dengan kerja sel darah merah dan sel darah putih dalam tubuh manusia. Tentunya sel tersebut sangat penting untuk menjaga vitalitas dan keseimbangan tubuh. Untuk itulah maka berbagai problematika yang berkaitan dengan manusia pada hakekatnya adalah sebuah problem peradaban. Dengan kata lain, ketika kita berbicara mengenai problematika peradaban, bearti kita sedang berbicara mengenai problematika pendidikan. Artinya kita akan kembali berbicara mengenai eksistensi manusia. Peradaban tidak lebih dari sebuah kumpulan nilai-nilai pendidikan yang terealisir dalam sejarah kehidupan manusia. Menurut para analis pendidikan, untuk mengadakan perubahan baik secara individu maupun sosial maka langkah paling eseni yang harus dilakukan adalah mengadakan transformasi dan modernisasi pendidikan.
Sekarang mari kita menengok ke negara kita. Di Indonesia sedang terjadi proses transformasi sosial budaya. Masyarakat makin terekspos oleh kepadatan teknologi dan informasi, juga makin terbuka dengan norma dan nilai budaya luar. Pergeseran tata nilai dan tata kehidupan ini sedikit banyak akan berpengaruh pada proses pendidikan dan identitas peserta didik.
Pendidikan kita tidak dilakukan pada masyarakat yang steril, melainkan pada masyarakat yang sarat dengan problematika transformasi pergeseran nilai.
Dalam kaitannya dengan masa depan suatu bangsa, pendidikan adalah masalah hidup dan kehidupan Dengan kata lain pendidikan masa kini adalah miniatur bangsa di masa depan. Dalam hal ini, Islam memberikan banyak solusi. Islam tidak menginginkan pendidikan yang lepas dari nilai-nilai ketuhanan. Dengan demikian, ketika peserta didik telah menjadi seorang pakar atau teknolog, ia tidak akan menggunakan ilmunya selain demi kemaslahatan umat manusia.
Problematika pendidikan yang sedang dihadapi umat manusia saat ini adalah bahwa pendidikan telah terlepas dari nilai-nilai ketuhanan, sehingga peradaban manusia pun berjalan tanpa arah yang jelas. Dalam mengembangkan teknologi, mereka tidak pernah menanyakan “untuk apa ini semua”? Dan yang menanggung dampak negatifnya adalah manusia juga.
Akibat krisis identitas pendidikan, dan mengikisnya pendidikan dari nilai dan norma ketuhanan, berakibat sangat fatal terhadap mental bangsa. Mereka yang sudah bergelar sarjana tersebut, pada akhirnya kurang memiliki keterikatan dengan moral. Ilmu dan moral menjadi dua esensi yang berbeda. Hal ini Nampak sekali jika kita lihat dari para penguasa korup. Dengan mudah mereka menggadaikan bangsa ini, demi ketamakan duniawi. Prilaku suap dan korupsi, bukan hanya menjadi prilaku menyimpang, namun sudah menjadi bagian dari budaya bangsa.
Nampaknya kita perlu mengintrospeksi sistem pendidikan kita. Sejatinya, pendidikan mampu memperbaiki moral bangsa, bukan justru merusak mental. Pendidikan yang baik, akan menghasilkan manusia unggul. Manusia yang mempunyai jati diri dan identitas. Namun pendidikan buruk, yang hanya mencerdaskan orang tanpa memperhatikan prilaku dan moral siswa, pada akhirnya hanya akan menghasilkan manusia pecundang.

