border=
 border=

Pembagiannya Am

jiklImam Baidhawi membagi lafazh âm menjadi tiga:

  1. ‘‘Âm dilihat dari segi bahasa
  2. ‘‘Âm dilihat dari segi al-urf (tradisi)
  3. ‘‘Âm dilihat dari segi akal.[1]

 

Bagian pertama, ‘âm secara bahasa

‘Âm secara bahasa adalah makna lafazh ‘âm dapat diketahui melalui bahasa. Maksudnya adalah lafazh tersebut diterapkan secara bahasa untuk mengidentifikasi sesuatu yang masih bersifat umum. Dalam hal ini terdapat banyak lafazh yang biasa digunakan, di antaranya adalah:

 

  1. أيالاٍستفهامية

Contoh:   أي شئ عند ك

Artinya:  Apa yang kamu miliki?

 

  1. أيالشرطية

Contoh:  لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

Artinya: “Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya”. (QS. Al-Mulk:2)

  1. كل   digunakan untuk manusia.

Contoh:   كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

Artinya: “Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya”. (QS Al-Thur: 21).

 

  1. كل   digunakan untuk selain manusia.

Contoh: وكل نعيم لا محالة زائل

Artinya: Dan setiap kenikmatan pasti akan sirna.

 

  1. جميع

Contoh:وَمَن فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ يُنجِيهِ

Artinya: “Dan orang-orang di atas bumi seluruhnya, kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya”. (QS. Al-Ma’ârij:14)[2]

 

  1. Jama’  yang menggunakan al istighrâq atau dengan idhâfah.

Contoh:

لِّلرِّجَالِ نَصيِبٌ مِّمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالأَقْرَبُونَ وَلِلنِّسَاء نَصِيبٌ مِّمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالأَقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ نَصِيبًا مَّفْرُوضًا

Artinya: “Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan”.(QS. Al-Nisa: 7).

 

Contoh yang menggunakan al idhâfah,

يُوصِيكُمُ اللّهُ فِي أَوْلاَدِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الأُنثَيَيْنِ

Artinya: “Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan”. (QS. Al-Nisa’: 11)

 

 

[1] Dr. Shafiyah Ahmad Khlifah, Muhâdharât fî Ushûli’l Fiqh, Jâma’atu’l Azhar, Kuliyyatu al-Dirâsât al-islâmiyyah wa al-‘Arabiyyah Far‘u al-Banât, Kairo, tanpa tahun, hal. 59

[2] Ibid., hal. 59

 border=
 border=

Check Also

Belajar Eksperimental dari Nabi Ibrahim

  Kisah tentang Nabi Ibrahim AS yang memohon kepada Allah SWT untuk menyaksikan bagaimana cara …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *