border=
 border=

Pembacaan Teks dalam Ushul Fikih; Relasi antara Allah, Teks, Konteks dan Pembaca (Mujtahid)

ulamaAllah menurunkan teks al-Quran sebagai hidayah bagi umat manusia. Al-Quran juga membawa ajaran agama yang bersifat universal dan dapat diterapkan kapan dan di mana saja. Agar nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat dibumikan, tentu teks harus dapat dipahami oleh pembaca (mujtahid). Di sini lantas muncul persoalan mengenai makna teks, dan sejauh mana pembaca dapat memahami teks tersebut.

 

Sesungguhnya, dengan ilmu semantik, teks seakan mengajak dialog dengan pembaca (mujtahid). Teks (al-Quran) memberikan informasi tak terbatas. Dikatakan tak terbatas, karena sejak teks tersebut diturunkan hingga saat ini, pembaca (mujtahid) selalu menemukan informasi aktual yang belum pernah ditemukan oleh pembaca sebelumnya. Tentu ini tidak mengherankan, karena al-Quran (ruhul Quran, bukan bahasa al-Quran) adalah kalamullah yang tidak terbatas.

 

Lantas sejauh mana peran pembaca (mujtahid)? Di sini, pembaca (mujtahid) bertugas untuk menggali sebanyak mungkin informasi yang tidak terbatas tadi. Pembaca dituntut untuk menguasai berbagai kata kunci dalam metode pembacaan teks melalui kaidah semantik.

 

Bukankah semantik adalah metodologi penggalian hukum yang dibuat sendiri oleh pembaca (mujtahid)? Benar, namun pembaca (mujtahid) meletakkan kaidah tersebut setelah melalui kajian induktif terhadap teks kebahasaan secara umum, dan teks al-Quran secara khusus. Selanjutnya, dengan kaedah tadi, berbagai informasi dalam teks tadi dapat diketahui. Informasi tadi, lantas dijadikan sebagai acuan normatif dalam kehidupan insan muslim.

 

Lantas apakah teori semantik dalam ushul fikih selalu memunculkan hukum yang sesuai dengan kemaslahatan manusia?

 

Persoalan muncul, karena maslahat manusia sering berubah sesuai dengan ruang dan waktu. Kebutuhan manusia juga dipengaruhi oleh situasi dan kondisi lingkungan.

 

Di sini semantik “berhenti”. Pembaca “terkungkung” dengan konstruksi teks kebahasaan sehingga “kurang melirik” dengan kondisi dan maslahat yang dibutuhkan manusia. Dibutuhkan ilmu lain untuk menguak tentang maslahat manusia. Tentu saja maslahat yang tetap mengacu pada teks yang diturunkan Tuhan. Masalah itu baru dianggap benar, manakala sesuai dengan tujuan dasar diturunkannya hukum syariat.

 

Dalam ijtihad maqashidi, pembaca (mujtahid) mempunyai otoritas lebih luas untuk memahami teks. Pembaca (mujtahid) tidak hanya terkungkung dengan teks, namun juga harus tau tentang konteks manusia. Bahkan kondisi manusia itu yang lebih dominan untuk menentukan ketetapan hukum atau mencari solusi alternatif atas suatu masalah.

 

Penerapan metodologi semantik secara kaku akan menjadikan pemahaman pembaca sangat literal. Sebaliknya, penerapan ilmu maqashid secara membabi buta akan menjadikan pembaca sangat liberal.

 

Untuk menghindari dua kutub ekstrim tadi, pembaca (mujtahid) harus menguasai dua pembacaan teks sekaligus. Dengan demikian, ketetapan hukum yang dihasilkan lebih moderat. Di satu sisi ketetapan hukum tidak mengorbankan kemaslahatan manusia atas nama teks, di sisi lain juga tidak mengorbankan teks atas nama kemaslahatan manusia.

 

Semantik banyak berkaitan dengan teks, sementara maqashid banyak bersentuhan dengan konteks. Keduanya harus berjalan seiring dan seimbang.

 

Jika dibuat bagan, maka akan menajadi seperti berikut:

Ijtihad semantic:

 

Allah

:

:

:

Tesk  ……………..>        Pembaca (mujtahid) ……………..>      konteks

 

Allah menurunkan teks, lantas teks memberikan informasi dengan sendirinya kepada pembaca (mujtahid), lantas  pembaca (mujtahid) berusaha menerapkan konklusi hukum ke dalam konteks (realita kehidupan manusia)

 

Ijtihad Maqashidi:

 

 

Allah

:

:

:

:

Teks  <……………..    konteks    <……………..      Pembaca (Mujtahid)

 

Allah menurunkan teks, lantas pembaca (mujtahid) memahami konteks (realita kehidupan manusia), dan dari konteks tersebut dicarikan solusi hukum melalui pembacaan teks.

 

 border=
 border=

Check Also

Belajar Eksperimental dari Nabi Ibrahim

  Kisah tentang Nabi Ibrahim AS yang memohon kepada Allah SWT untuk menyaksikan bagaimana cara …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *