border=
 border=

Mantik Tahsawuri: Had

matemHad artinya batasan. Yang dimaksudkan dengan had si ini adalah bahwa ketika seseorang akan membuat suatu definisi, maka dalam definisi tersebut harus ada batasan yang jelas. Dengan batasan-batasan tadi, maka segala sesuatu yang tidak masuk dalam pokok bahasan otomatis keluar dari definisi.

 

Contoh: Shalat adalah perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam dengan niat ibadah shalat. Dengan definisi ini kita bisa berkesimpulan bahwa segala perbuatan yang sama, namun niatnya bukan untuk shalat, namun sekadar untuk olah raga, maka ia tidak disebut shalat. Contoh lain, perbuatannya mirip shalat, mulai dengan takbir, namun diakhiri dengan jogging, maka ia juga bukan shalat.
Kaitan dengan had ini, akan dibahas dari aspek:
Pertama; bahwa had kembali kepada perkataan orang yang membuat had atau kembali kepada sifat sesuatu yang dilakukan had.
Kedua, mengenai batasan-batasan had
Ketiga, mengenai syarat-syarat  had dan hal-hal yang masuk dalam bahasan pembahasan had. Juga berbagai hal yang tidak termasuk dalam pembahasan had.
Keempat, mengenai catatan penting mengenai segala sesuatu yang harus dihindari dari had.

 

Pasal Pertama;
bahwa had kembali kepada perkataan orang yang membuat had atau kembali kepada sifat sesuatu yang dilakukan had.

Mengenai hal ini, para ulama asyari berbeda pendapat. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa had kembali kepada sesuatu atau benda yang bersangkutan. Menurut mereka, antara had dan hakikat artinya sama. Oleh karenaitu mereka mengatakan, had adalah hakekat dan makna atas sesuatu.

Menurut qadhi al baqilani bahwa had kembali kepada orang yang membuat had atau sifatnya. Menurut mereka, akan rancu jika had kembali kepada barang atau sesuatu yang bersangkutan. Atau, akan rancu jika had diartikan sama dengan hakekat. Jika had adalah hakekat, maka semua hakekat bisa kita sebut dengan had, padahal dalam kenyataannya tidak demikian. Contoh, allah bisa disebut kahekat allah, tapi tidak bisa kita mengatakan dengan had allah.
Menurut imam amidi, bahwa had secara bahasa adalah batasan. Jika dilihat dari sisi bahasa ini, maka sebenarnya tidak ada salahnya ketika had diartikan juga dengan hakekat. Disebut demikian, akrena had akan membatasi definisi sesuatu, sehingga yang apapun yang berada di luar definisi tadi, secara otomatis diluar dari hakekat sesuatu. Contoh sederhana seperti shalat yang sudah kami contohkan di atas.
Meski allah tidak bisa dikatakan sebagai had, namun secara bahasa, had memang hakekat. Allah tidak disebut had, karena secara syariat memang tidak ada.

Tujuan pembahasan kita sebenarnya bukan had dengan arti bahasa tadi, namun lebih kepada upaya agar ketika memberikan definisi terhadap sesuatu dapat pas dans esuaid engan realita.

 border=
 border=

Check Also

Belajar Eksperimental dari Nabi Ibrahim

  Kisah tentang Nabi Ibrahim AS yang memohon kepada Allah SWT untuk menyaksikan bagaimana cara …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *