border=
 border=

Imam Syafii dan Kritiks atas Sistem Pembacaan Teks

imam syafiiDalam sebuah milis, ada yang mengutip pernyataan orang bahwa Imam Syafii merupakan Rene Descartesnya dunia Islam. Namun beliau menjadi sasaran tembak dari Nasr Hamid Abu Zaid, Arkoun, Hasan Hanafi, Muhammad Sahrur dan dituduh telah mengkerangkeng pemikiran Islam selama sekian abad.

Memang belakangan banyak kritikan mengenai imam Syafii. Bahkan Nasir Hamid Abu Zaid sendiri, mempunyai buku khusus mengkritik sang Imam. Hanya saja, terlalu naïf jika kemudian imam Syafii dianggap sebagai ulama yang menghambat pemikiran Islam selama sekian abad lamanya. Pernyataan tersebut tentunya kebalikan dari bukti riil dalam sejarah Islam.

 

Jika pemikirannya menghambat, tentu tidak akan ada pemikiran Islam pasca imam Syafii. Tentu dunia Islam kelam dan tidak produktif. Tentu terjadi kejumudan dalam khazanah pemikiran Islam.

 

Kenyataannya tidak demikian. Bahkan berkat sang Imam, banyak ulama besar yang muncul sembari menyempurnakan metodologinya sang Imam. Sebutlah imam Amidi, imam Haramain, imam Husain al-Basri,  imam Ghazali, dan sederet ulama lainnya. Bahkan dari metodologi yang ditelurkan oleh sang Imam, muncul fatawa fikih yang jumlahnya ribuan jilid.

Memang benar bahwa ushul fikih yang dibukukan imam Syafii dibangun di atas epistem bayan, sehingga kaidah yang muncul merupakan kaidah bahasa. Hanya saja, bukan bearti imam Syafii literalis dan mengkrangkeng pemikiran ulama Islam hanya dalam ruang teks belaka. Toh selain kaidah lughawiyah (kaidah kebahasaan dalamushul fikih), masih ada kaidah lain dalam masadiru tasyri (ijma, kiyas, maslahah mursalah, istihsan, istislah, syariat ma qablana dll), dan ada juga metodoogi fatawa yang bertumpu pada maslahat. Salah kiranya jika melihat ilmu ushul fikih yang diletakkan sang Imam hanya dari satu sisi saja, dari sub ilmu semantik saja. Meski semantik merupakan lubbul ushul dan inti dari ilmu ushul fikih Syafiiyah, namun ia bukan segalanya dalam ilmu ushul.

Apalagi kemudian muncul Imam Syathibi, yang dengan epistem burhannya, mampu melepaskan “kerangkeng” bahasa dan beralih kepada “kerangkeng” maslahat manusia. Imam Syathibi, membangun ushul fikih dari kontek manusia menuju teks, Sementara imam Syafii membangun ushul fikih dari teks menuju konteks manusia.

 

Jadi, dalam pemikiran ushul fikih, dua model pembacaan teks tersebut sudah cukup jelas memberikan ruang gerak bagi intelektual muslim untuk berkespresi dan berselancar di atas luasnya bahtera keilmuan. Semantik dan maqashidi, adalah dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan.

 

 border=
 border=

Check Also

Belajar Eksperimental dari Nabi Ibrahim

  Kisah tentang Nabi Ibrahim AS yang memohon kepada Allah SWT untuk menyaksikan bagaimana cara …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *