border=
 border=

Lanjutan Contoh Praktis Makna-makna Kata Perintah

1

  1. Al-Ta’jîz, yaitu tantangan yang ditujukan untuk menunjukkan kelemahan lawan.

Contoh:

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَن تَنفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانفُذُوا لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ

 

Artinya: “Hai jamaah jin dan manusia,jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan”. (QS. Al-Rahmân: 33)

 

  1. Al-Taswiyyah, yaitu menyamakan suatu perbuatan.

Contoh:

اصْلَوْهَا فَاصْبِرُوا أَوْ لَا تَصْبِرُوا سَوَاء عَلَيْكُمْ إِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Artinya: “Masuklah kamu ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu; kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. Al-Thûr: 16).

  1. Al-Sukhriyyah, yaitu membanggakan dan mengagungkan sesuatu.

Contoh:

ذُقْ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ

Artinya: “Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia”. (QS. Al-Dukhân: 49).

 

  1. Al-Ikhtiqâr aw al-ihânah, yaitu merendahkan orang lain.

Contoh:

قَالَ لَهُم مُّوسَى أَلْقُوا مَا أَنتُم مُّلْقُونَ

Artinya: “Berkatalah Musa kepada mereka: “Lemparkanlah  apa yang hendak kamu lemparkan”. (QS. Al-Syuarâ’: 43).

 

  1. Al-Du’â’, yaitu sebuah ungkapan doa.

Contoh:

رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَآ أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Artinya: Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir. (QS. Al Baqarah: 286).[1]

 

[1] Abdul Wahab Abdul Salam Thawilah, Atsaru’l Lughah fî Ikhtilâfi’l Mujtahidîn, Dâr al-Salâm, cet. II 2000, hal. 427-428

 border=
 border=

Check Also

Belajar Eksperimental dari Nabi Ibrahim

  Kisah tentang Nabi Ibrahim AS yang memohon kepada Allah SWT untuk menyaksikan bagaimana cara …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *