border=
 border=

Khithâb Muhmal

 kaligrafi 1Al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan sebagai petunjuk bagi umat manusia. Memahami firman Allah berarti juga harus diawali dengan pemahaman utuh terhadap bahasa yang digunakan dalam kitab suci. Namun sebelum mengkaji lebih jauh mengenai bahasa al-Qur’an atau al-Sunnah, ada dua permasalahan yang menjadi perdebatan di kalangan ulama, yaitu:

  1. Apakah dalam nash al-Qur’an dan al-Sunnah terdapat nash yang tidak dapat dipahami oleh manusia (khithâb muhmal)?
  2. Mungkinkah firman Allah bertentangan dengan zhahir nash?

 

 

 

Pertama: khithâb muhmal

Muhmal adalah lafazh yang tidak memiliki makna tertentu sehingga tidak dapat dipahami. Dengan demikian, muhmal merupakan denotasi dari lafazh yang biasa dipakai, karena lafazh tersebut memang diterapkan dengan makna tertentu. Pertanyaan selanjutnya, apakah terdapat firman Allah ataupun sabda Rasulullah yang muhmal? Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama:

  1. Jumhur ulama berpendapat bahwa tidak mungkin firman Allah ataupun sabda Rasulullah yang muhmal dengan alasan sebagai berikut:
    1. khithâb muhmal adalah sia-sia, sementara kesia-siaan adalah sifat tidak sempurna. Dan hal itu tidak layak bagi sifat Allah.
    2. khithâb muhmal bertentangan dengan sifat al-Qur’an sebagai kitab petunjuk, rahmat, obat dan seterusnya.

Firman Allah:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلاَ يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إَلاَّ خَسَارًا

Artinya: “Dan Kami turunkan dari al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Al-Isra’:82).

هَـذَا بَيَانٌ لِّلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِّلْمُتَّقِينَ

Artinya: “(Al Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk  serta pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa”. (QS. Ali Imran: 138).

  1. Al-Hasyawiyah[1] berpendapat bahwa tidak menutup kemungkinan terdapat nash muhmal dalam al-Qur’an. Untuk memperkuat validitas  pendapat tersebut, mereka menggunakan argumentasi sebagai berikut:

Awal surat al-Qur’an terdapat beberapa lafazh muhmal, seperti الم, المص ,المر, كهيعص, حم, طسم, dan seterusnya. Lafazh tersebut sama sekali tidak memiliki makna tertentu. Tidak hanya dalam awal surat, bahkan dalam sebagian ayat al-Qur’an juga terdapat lafazh muhmal.

Contoh:

فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ

Artinya: “Maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna”. (QS. Al-Baqarah: 196).

Lafazh  تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَة  (Itulah sepuluh (hari) yang sempurna) sama sekali tidak berguna. Ungkapan sebelumnya, فَصِيَامُ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ  (maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji) dan kemudian dilanjutkan dengan ungkapan وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ (dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali) jika dijumlah secara keseluruhan adalah puasa selama sepuluh hari. Dengan demikian ungkapan tersebut tidak diperlukan untuk disebutkan kembali.

Contoh lain:

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ نَفْخَةٌ وَاحِدَةٌ

Artinya: “Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup“. (QS Al-Hâqah: 13).

Lafazh وَاحِدَةٌ (sekali tiupan) sama sekali tidak ada manfaatnya karena sebelumnya sudah disebutkan lafazh نَفْخَةٌ (sekali tiupan).

Argumentasi Hasyawiyah ditentang oleh jumhur ulama dengan mengatakan bahwa lafazh-lafazh tersebut tidak dapat dianggap sebagai lafazh muhmal karena mempunyai makna tertentu. Hanya saja, makna dari huruf-huruf pada awal surat terjadi banyak perbedaan pendapat di kalangan para ulama:

  1. Huruf tersebut merupakan nama surat yang bersangkutan.
  2. Sengaja Allah menggunakan huruf-huruf tadi agar lebih dapat dinikmati orang Arab sehingga selalu menumbuhkan rasa rindu pada diri mereka untuk selalu mendengarkan bacaan al-Qur’an, mengingat hal ini berbeda dengan kebiasaan mereka.
  3. Huruf tersebut merupakan kinâyah (metafora) dari setiap huruf dalam mu’jam (kamus) untuk mengingatkan mereka bahwa Allah tidak berfirman selain dengan bahasa dan huruf-huruf yang mereka gunakan.

Adapun firman Allah تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَة  dan  نَفْخَةٌ وَاحِدَة merupakan penguat (ta’kîd) ungkapan sebelumnya. Di sini jelas tidak ada khithâb muhmal dalam firman Allah ataupun sabda Rasulullah.

Argumentasi lain yang digunakan Hasyawiyah adalah firman Allah:

وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا

Artinya: “Padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyâbihât, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. (QS. Ali Imrân: 7).

Bagi mereka, dalam ayat tersebut terdapat waqf pada lafazh إِلاَّ اللّهُ. Dengan demikian, lafazh  وَالرَّاسِخُونَ  merupakan mubtada’ sementara يَقُولُونَ  sebagai khabarnya.

Namun pendapat tersebut dijawab jumhur ulama dengan mengatakan bahwa  maksud lafazh muhmal adalah lafazh yang sama sekali tidak memiliki makna. Sementara ayat di atas memberikan keterangan bahwa dalam al-Qur’an terdapat lafazh yang sebenarnya memiliki makna tertentu, hanya saja tidak dapat dipahami manusia disebabkan lafazh tersebut tidak dikenal. Lafazh tersebut hanya diketahui Allah.[2]



[1] Di sini terjadi perbedaan bacaan. Pertama al-Hasyawiyah yang berarti berisi. Dikatakan demikian karena di antara golongan mereka ada yang membedakan Tuhan (mujassamah), sementara benda merupakan barang yang berisi. Kedua: al-Hasyawiyah yang berarti pinggiran. Dikatakan demikian karena  mereka mengikuti halaqahnya Hasan al-Bashriy, kemudian pendapat mereka dapat digugurkan, maka dikatakan kepada mereka, “Biarkan mereka ke pinggir halaqah”. Lebih lengkapnya, lihat, Dr. Ali Husain Ali ‘Abdul Nabi, Buhûtsun fî Ushûli’l Fiqh, Jâmi’atu’l Azhar Kuliyatu al-Syarî’ah wa’l Qânûn, 2003, Kairo, hal. 5

[2] Dr. ‘Abdul Fatah Ahmad Quthb Al-Dukhmîsî, Talqîhu’l Fuhûm bi’l Manthûq wa’l Mafhûm, Dâr al-âfâq al-‘Arabiyyah, Kairo, cet. I, 1997, hal.19

 border=
 border=

Check Also

Belajar Eksperimental dari Nabi Ibrahim

  Kisah tentang Nabi Ibrahim AS yang memohon kepada Allah SWT untuk menyaksikan bagaimana cara …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *