Malam itu, langit Madina berbintang gemintang, namun sepi menyelimuti rumah kecil di sudut kota. Di dalamnya, seorang lelaki duduk bersandar di dinding, tangannya menggenggam erat secarik kain usang yang telah lapuk dimakan waktu. Kain itu adalah satu-satunya peninggalan dari hari-hari kelam di padang Karbala—sepotong bendera kecil yang pernah berkibar di tangan Abbas, sang pemegang panji, sebelum tubuhnya terpotong di tepi sungai Euphrat.
Imam Muhammad al-Baqir menatap kain itu dengan pandangan yang dalam, seolah setiap benangnya menyimpan jeritan yang tak terdengar. Matanya, yang biasanya memancarkan ketenangan dan hikmah, kini basah oleh air mata yang tak henti mengalir.
“Wahai Abbas…,” bisiknya lirih, “Betapa sakitnya dahaga itu… betapa pedihnya melihat anak-anak kecil merengek meminta air, sementara pedang musuh tak kenal belas….”
Dia memejamkan mata, dan seketika bayangan itu kembali—bayangan tubuh suci kakeknya, Imam Husain, terbaring di tanah dengan luka yang tak terhitung. Darah mengalir dari dahinya, namun senyumnya tetap tenang, seolah berkata: “Jangan menangis, cucuku… ini adalah jalan cinta kepada-Nya.”
Tapi bagaimana mungkin tidak menangis?
Sejak kecil, Imam Baqir tumbuh dengan cerita-cair tentang Karbala. Ibunya, Fatimah binti al-Husain, sering memeluknya di malam-malam sepi sambil berbisik, “Muhammad, kakekmu syahid bukan karena lemah, tetapi karena dunia tak cukup suci untuk menahan kebesarannya.”
Setiap kali mendengar nama Husain disebut, dadanya terasa sesak. Dia ingat bagaimana bibinya, Zainab, menggigil setiap kali teringat hari itu—hari di mana kemuliaan diinjak-injak, hari di mana keadilan dikubur hidup-hidup.
“Guru…,” tiba-tiba suara seorang murid membuyarkan lamunannya.
Imam Baqir mengangkat wajah, mencoba menyembunyikan air matanya, tetapi gagal.
“Mengapa engkau menangis, wahai pembuka ilmu?” tanya murid itu dengan suara bergetar.
Dia menarik napas panjang. “Tahukah engkau, bahwa ilmu yang aku ajarkan ini dibasahi oleh darah? Setiap hadis, setiap tafsir, setiap kalimat hikmah yang kusampaikan—semuanya lahir dari penderitaan mereka yang dibantai di padang tandus itu.”
Suatu hari, seorang musafir dari Kufah datang membawa kabar: “Di sana, orang-orang berpesta. Mereka menyebut pembunuhan Karbala sebagai kemenangan.”
Mendengar itu, Imam Baqir gemetar. Tubuhnya lunglai, seakan ditusuk ribuan pedang. “Ya Allah…,” rintihnya dalam sujud yang panjang, “Bagaimana mungkin manusia membunuh kekasih-Mu, lalu tertawa?”
Di kesunyian malam, dia sering berjalan ke pelataran rumah, memandang bintang-bintang, seolah mencari jawaban. “Wahai ayah… wahai Ali Zainal Abidin… bagaimana kau bertahan dengan semua ini? Bagaimana kau membawa luka begitu dalam, namun tetap memaafkan?”
Tapi jawabannya hanya angin malam yang berbisik pelan, membawa suara dari masa lalu:
“Mereka membunuh kami, tetapi mereka takkan pernah membunuh cinta kami kepada Allah.”
Di pagi hari, ketika murid-muridnya berkumpul, mereka melihat wajah Imam Baqir yang pucat. Matanya bengkak, tetapi sorotnya tetap teguh.
“Guru, mengapa engkau tak pernah berhenti bersedih?” tanya seorang pemuda.
Imam Baqir tersenyum getir. “Karena jika aku berhenti bersedih, berarti aku telah melupakan mereka. Dan melupakan mereka berarti melupakan kebenaran.”
Dia berdiri, menghadap kiblat, lalu berkata dengan suara yang dalam:
“Dengar baik-baik, wahai anak-anakku… Karbala bukan sekadar sejarah. Ia adalah tangisan yang abadi, darah yang terus berteriak hingga akhir zaman. Jika kalian ingin mengikutiku, maka jangan pernah biarkan api cinta ini padam. Sebab, selama masih ada air mata yang tulus untuk Husain, kebatilan takkan pernah menang.”
Malam kembali tiba. Imam Baqir duduk sendiri, memandang langit. Kali ini, air matanya tak lagi sendirian—langit seolah menangis bersamanya, meneteskan hujan rintik-rintik yang membasahi bumi.
Dan di kejauhan, dari padang Karbala, terdengar bisikan abadi:
“Setiap duka yang kau rasakan, wahai Baqir, adalah cinta yang takkan pernah mati.”
…….
Ponpes Al-Muflihun memberikan kesempatan bagi Anda untuk berzakat, berwakaf dan berinfak untuk pembangunan ruang kelas baru santri. Kirimkan dana anda melalui LazizMu KLL Ponpes Al Muflihun:
Kirim ke LazisMu KL Ponpes Al-Muflihun
No Rek:
BSI: 7890090073


