border=
 border=

Darah yang Berbicara di Kufah

Zaid bin Ali terbangun di tengah malam, keringat dingin membasahi jubahnya. Di dalam mimpinya, ia melihat datuknya, Rasulullah SAW, berdiri di padang Kufah dengan mata berkaca-kaca. “Wahai Zaid,” bisik Rasulullah, “Bumi ini akan minum darah keturunanku lagi.”
Istri Zaid, Fatimah binti Husain, segera memeluknya. “Suamiku, kau bermimpi buruk lagi?”
Zaid memandang bulan purnama di jendela. “Bukan mimpi buruk, Fatimah. Ini peringatan. Aku harus memilih: hidup tenang sebagai cucu Rasul yang dihormati, atau mati berdiri melawan kezaliman.”
Fatimah menangis pelan. “Tapi anak-anak kita…”
Zaid mengusap air mata istrinya. “Jika aku diam, anak cucuku akan hidup dalam kehinaan. Lebih baik satu generasi terluka daripada seribu generasi terkungkung ketakutan.”
Markas Gubernur Yusuf bin Umar
Gubernur Yusuf mengunyah anggur dengan gelisah. “Zaid bin Ali telah mengumpulkan massa. Dia ancaman bagi kekuasaan kita!”
Penasihatnya, Marwan bin Aban, tersenyum licik. “Tenang, Paduka. Aku sudah menyusupkan 200 orang ke pasukannya. Mereka akan membelot saat pertempuran.”
Yusuf memandang tajam. “Pastikan kepalanya sampai ke Damaskus. Khalifah Hisyam ingin melihat bukti.”
Kamp Zaid
Seorang pemuda bernama Qais datang tergopoh-gopoh. “Wahai putra Rasulullah! Gubernur mengirim 5.000 pasukan!”
Zaid mengamati wajah-wajah pengikutnya. “Siapa yang ingin pergi, silakan sekarang. Ini bukan perang untuk yang ragu.”
Seorang petani tua bernama Abu Dzar bangkit. “Aku buta sebelah matanya, tapi mataku yang satu ini masih ingin melihat keadilan ditegakkan!”
Seorang ibu bernama Layla maju. “Anakku tewas dipenjara Yusuf. Biarkan aku ikut, walau hanya untuk mengobati luka kalian!”
Zaid tersedu. “Kalian lebih mulia daripadaku…”
Tenda Zaid, Malam Sebelum Pertempuran
Putra Zaid, Yahya yang berusia 15 tahun, memegang pedang kecil. “Ayah, izinkan aku besok bertempur!”
Zaid merangkulnya. “Tidak, Nak. Kau harus hidup untuk menceritakan kebenaran ini.”
“Tapi aku malu jadi pengecut!”
Zaid mengangkat wajah anaknya. “Pengecut adalah yang diam melihat kezaliman. Kau akan jadi saksi hidup, itu lebih berat daripada mati syahid.”
Yahya menangis. “Aku takut kehilangan Ayah…”
Zaid mencium keningnya. “Jika kau rindu, bacalah Al-Qur’an. Di sanalah kita akan bertemu.”
Pagi Hari, Medan Laga
Pasukan Yusuf datang seperti banjir besi. Zaid berdiri di barisan depan dengan jubah putih bersih.
“Wahai Zaid!” teriak komandan musuh. “Kau melawan penguasa yang sah!”
Zaid menjawab lantang:
“Aku melawan penguasa yang menghancurkan masjid untuk istana, yang memenjarakan janda karena tak bayar pajak!”
Anak panah pertama melesat, menembus bahu Abu Dzar. “Zaid… aku dahului kau ke surga!” teriaknya sebelum roboh.
Layla berlari membawa perban, tapi pedang musuh menyambar lehernya. “Anakku… aku datang…” bisiknya dengan senyum terakhir.
Zaid kini sendirian, dikelilingi musuh. Darah mengalir dari luka di dadanya. Seorang tentara muda musuh gemetar memegang tombak.
“Bunuh dia!” teriak komandan.
Zaid tersenyum pada tentara muda itu. “Kau takut, Nak? Aku juga. Tapi lebih baik mati bermartabat daripada hidup menindas.”
Tentara itu menangis. “Maafkan aku, wahai cucu Nabi…”
Tombak itu menembus jantung Zaid. Langit mendadak merah.
——
Pondok Pesantren Modern Al-Muflihun Temanggung sedang membangun kelas sederhana. Sudah minus 21 juta.
Kami menerima wakaf tunai. Dana dapat dikirim ke LazisMu:
No rek:
BSI: 7890090073
A.n KLL Ponpes Al-Muflihun

 border=
 border=

Check Also

Belajar Eksperimental dari Nabi Ibrahim

  Kisah tentang Nabi Ibrahim AS yang memohon kepada Allah SWT untuk menyaksikan bagaimana cara …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *