Oleh: Ustadzah Isna Firdausi, S.Pd
Selama bertahun-tahun, kita diajari pepatah “Buanglah sampah pada tempatnya.” Sebuah nasihat yang terdengar bijak, namun di era krisis ekologi saat ini, ungkapan itu sudah tidak lagi relevan. Pepatah tersebut seolah membenarkan aktivitas memproduksi sampah, asalkan kita “bertanggung jawab” dengan membuangnya ke tempat yang seharusnya. Padahal, masalah sampah jauh lebih kompleks dari itu. Solusi yang kita perlukan bukan lagi sekadar memindahkan sampah, melainkan jangan memproduksi sampah sama sekali.
Mengapa “Buang Sampah pada Tempatnya” Tidak Relevan Lagi?
Ungkapan “buanglah sampah pada tempatnya” menciptakan ilusi bahwa masalah selesai ketika sampah berada di tempatnya. Namun, realitasnya sangat berbeda. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) itu hanya memindahkan sampah saja. TPA hanyalah “tempat akhir” yang sering kali menumpuk sampah hingga mencemari tanah, air, dan udara. TPA yang penuh sesak menjadi bom waktu ekologis yang menghasilkan gas metana, salah satu gas rumah kaca paling kuat. Kita telah kehilangan rasa tanggung jawab terhadap sampah kita sendiri, menganggap masalah selesai setelah sampah terangkut.
Selain itu, praktik lain yang sering dilakukan adalah membakar sampah. Membakar sampah itu sangat berbahaya karena menghasilkan dioksin dan furan, zat beracun yang dapat menyebabkan kanker dan gangguan kesehatan lainnya. Asapnya mencemari udara yang kita hirup dan residunya merusak tanah. Ini adalah pengkhianatan terhadap amanah kita sebagai khalifah di muka bumi. Allah SWT berfirman:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa setiap kerusakan, termasuk polusi dari sampah dan pembakarannya, adalah hasil dari perbuatan manusia yang lalai.
Solusi Sejati: Dari Nol Sampah Hingga “Eman”
Alih-alih mencari cara untuk membuang sampah, solusi yang lebih fundamental adalah mencegah sampah itu ada. Jangan mendatangkan plastik ke rumah adalah langkah awal yang sangat penting. Plastik sekali pakai, seperti botol, kantong, dan sedotan, adalah penyumbang terbesar krisis sampah. Dengan menolak plastik dari awal, kita mengurangi jumlah sampah yang harus diolah.
Paradigma ini sejatinya bukanlah hal baru. Nenek moyang kita memiliki kearifan lokal yang luar biasa, tercermin dalam istilah “eman,” yang artinya sayang jika dibuang, jadi lebih baik dimanfaatkan lagi. Semua tidak akan menjadi sampah jika kita tidak menyebutnya sampah. Sesuatu menjadi sampah karena kita menilainya tidak memiliki nilai lagi. Padahal, dengan kreativitas, banyak barang yang bisa didaur ulang atau digunakan kembali. Inilah yang diajarkan dalam Islam, yaitu larangan untuk berbuat boros (israf).
Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk tidak berlebihan dalam segala hal:
“Janganlah kalian boros, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebihan.” (HR. Ahmad)
Membeli barang yang tidak perlu, menggunakan kemasan sekali pakai, dan membuang sesuatu yang masih bisa dimanfaatkan adalah bentuk dari israf yang sangat dilarang.
Menyadari Posisi Kita di Alam Semesta
Pada akhirnya, kesadaran ini berakar pada pemahaman kita tentang posisi di alam semesta. Kita harus kembali pada ajaran dasar bahwa manusia adalah khalifah (pengelola) bumi, bukan pemiliknya. Allah SWT berfirman:
“Dan Dialah yang menjadikan kamu khalifah di bumi…” (QS. Al-An’am: 165)
Kita harus ingat bahwa alam bisa hidup tanpa manusia, sementara manusia tak bisa hidup tanpa alam. Kelangsungan hidup kita bergantung pada air, udara, dan tanah yang bersih—semuanya disediakan oleh alam.
Dengan demikian, tanggung jawab kita bukan hanya membuang sampah dengan benar, tetapi memastikan bahwa kita tidak memproduksi sampah yang merusak ciptaan Allah. Menjaga lingkungan, menolak plastik, mendaur ulang, dan tidak boros adalah wujud nyata dari iman dan ketaatan. Ini adalah ibadah sejati yang melampaui ritual, sebuah tindakan konkret untuk menjaga alam sebagai amanah dari Sang Pencipta.
—
Ponpes Al-Muflihun memberikan kesempatan bagi Anda untuk berzakat, berwakaf dan berinfak untuk pembangunan ruang kelas baru santri. Kirimkan dana anda melalui LazizMu KLL Ponpes Al Muflihun:
Kirim ke LazisMu KL Ponpes Al-Muflihun
No Rek:
BSI: 7890090073


