Langit Kufah memerah seperti darah yang tertumpah. Sementara angin gurun berdesir membawa aroma kematian yang menggantung di udara. Di tanah gersang Karbala, sekelompok kecil manusia berdiri menantang pasukan besar yang mengepung mereka dari segala arah.
Di tengah barisan itu, berdiri seorang pria yang tubuhnya kurus karena kelelahan, namun wajahnya bersinar dengan keteguhan. Dialah Husain bin Ali, cucu dari Nabi Muhammad saw, anak dari Ali bin Abi Thalib dan Fathimah az-Zahra. Matanya menatap jauh, seolah melihat masa depan—masa yang akan menyaksikan pengkhianatan, kesedihan, dan darah suci yang tertumpah.
Malam Sebelum Asyura
Malam itu sunyi. Di langit, bulan menggantung pucat. Husain duduk dalam tenda kecil bersama para pengikutnya yang tersisa. Hanya sekitar 70 orang—beberapa sahabat, keluarga, anak-anak, dan wanita. Di hadapannya duduk saudara-saudaranya: al-Abbas bin Ali, pemuda gagah dan kesatria paling setia, serta Ali Zain al-‘Abidin, putranya yang tengah sakit, terbaring lemah.
Husain memandang mereka satu per satu. “Besok akan menjadi hari pengorbanan. Aku bebaskan kalian semua malam ini. Tinggalkan aku, dan Allah akan mengampuni kalian. Mereka tak menginginkan siapa pun kecuali aku.”
Namun tiada satu pun yang bergerak. Abbas berdiri dengan lantang, “Wahai putra Rasulullah, bagaimana mungkin kami hidup setelah engkau gugur? Demi Allah, kami tak akan meninggalkanmu, bahkan jika kami dibunuh berkali-kali.”
Air mata mengalir di pipi Husain. Ia tahu bahwa fajar akan membawa kematian, tapi juga kemuliaan.
Hari Asyura
Matahari terbit dengan sinar menyengat. Debu beterbangan saat pasukan Umar bin Sa’ad, yang berjumlah sekitar 30 ribu orang, mulai menyusun formasi. Di hadapan mereka hanya ada kemah-kemah kecil yang kehabisan air sejak tiga hari lalu. Anak-anak menangis kehausan. Wanita-wanita memeluk anak-anak mereka, mencoba menenangkan tangisan yang memecah keheningan.
Husain menaiki kudanya dan melangkah ke medan perang. Dengan suara lantang dan penuh harap, ia berkata:
“Wahai manusia! Apakah aku bukan cucu Nabi kalian? Apakah aku bukan anak dari Ali dan Fathimah, putri kesayangan Rasulullah? Apa dosaku hingga kalian hendak membunuhku?”
Namun hati mereka telah dibutakan dunia. Mereka tunduk pada kekuasaan Yazid bin Mu’awiyah, penguasa kejam yang menginginkan baiat Husain agar kekuasaannya dianggap sah.
Satu per satu para pengikut Husain maju ke medan laga. Mereka tahu ini adalah misi syahid. Habib bin Muzahir, sahabat tua yang tak gentar, gugur setelah membunuh puluhan musuh. Qasim bin Hasan, putra Hasan bin Ali, maju meski usianya baru 13 tahun. Ia berkata, “Wahai paman, bukankah kebenaran harus ditegakkan meski harus mengorbankan nyawa?”
Ketika semua sahabat dan keluarga laki-laki telah syahid, Husain kembali ke tenda. Ia mengambil Ali al-Asghar, bayinya yang baru berumur enam bulan. Ia mengangkatnya tinggi-tinggi di hadapan musuh dan berkata:
“Jika kalian tak iba padaku, maka iba lah pada bayi ini. Ia belum minum sejak tiga hari.”
Namun tiba-tiba, panah melesat dari arah pasukan musuh. Anak panah bermata tiga itu menghujam leher mungil Ali al-Asghar. Bayi itu menggeliat, lalu diam dalam pelukan ayahnya. Husain gemetar. Ia menatap langit, lalu menggali tanah dengan tangannya sendiri dan menguburkan anaknya di balik tenda.
Syahidnya Husain
Kini, hanya tinggal Husain. Tubuhnya penuh luka, bajunya berlumuran darah. Ia turun dari kudanya setelah hewan itu roboh terkena panah. Kakinya menyeret pasir saat ia terus bertahan melawan puluhan musuh yang mengepungnya. Namun tubuh manusia memiliki batas.
Ia roboh.
Lalu datanglah Shimr bin Dzil Jawsyan, lelaki berhati batu. Ia mendekat, dan tanpa ragu, menghunus pedangnya. Dengan satu sabetan kejam, kepala Husain bin Ali dipisahkan dari tubuhnya. Darah memancar, membasahi tanah Karbala.
Tubuh Husain dibiarkan tak dikubur. Kepalanya diletakkan dalam tombak dan dibawa ke Kufah, lalu ke Damaskus, di hadapan Yazid.
Zainab yang Tegar
Dalam tenda yang terbakar, Zainab binti Ali, saudari Husain, berdiri menjaga anak-anak yang tersisa. Ia tak menangis. Matanya tajam, wajahnya kuat. Di hadapan Yazid, ia berkata:
“Kau mengira kemenangan ini membanggakanmu, wahai Yazid? Demi Allah, engkau hanya membunuh tubuh, bukan kebenaran. Darah Husain akan menyuburkan perlawanan, dan namanya akan abadi, sementara engkau akan menjadi simbol kehinaan sepanjang masa.”
______________
Akhir yang Membuka Kesadaran
Tragedi Karbala mengguncang hati umat. Banyak yang bertobat. Banyak yang bangkit melawan kezaliman setelah mendengar kisah ini. Syahidnya Husain bukan akhir—itu adalah awal dari kesadaran bahwa kebenaran harus dibela, walau harus dibayar dengan darah dan nyawa.
Nama Husain tak pernah mati. Ia hidup di dalam jiwa para pencinta keadilan. Karbala menjadi lambang keberanian, kesetiaan, dan pengorbanan suci dalam sejarah Islam.
“”””’
Ponpes Al-Muflihun memberikan kesempatan bagi Anda untuk berzakat, berwakaf dan berinfak untuk pembangunan ruang kelas baru santri. Kirimkan dana anda melalui LazizMu KLL Ponpes Al Muflihun:
Kirim ke LazisMu KL Ponpes Al-Muflihun
No Rek:
BSI: 7890090073


