Langit kelabu menggantung rendah di atas dataran Khurasan, seakan turut berduka atas pertempuran yang akan segera pecah. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah basah setelah hujan semalaman. Di tengah padang yang sunyi itu, berdiri seorang pemuda dengan sorot mata yang tenang namun penuh tekad. Yahya bin Zaid. Namanya saja sudah cukup membuat pasukan Bani Umayyah gemetar.
Dia memandang ke arah pasukannya—hanya tiga ratus orang, kebanyakan dari mereka adalah petani, pedagang, dan orang-orang biasa yang sudah muak dengan kezaliman. Mereka bukanlah tentara terlatih, tetapi hati mereka dipenuhi api keadilan.
“Wahai saudara-saudaraku,” suara Yahya lirih tapi menggema, “kalian tahu bahwa kita tidak mungkin menang dalam jumlah. Tapi apakah kemenangan hanya diukur dengan hidup atau mati?”
Seorang lelaki tua dengan janggut memutih maju ke depan. “Kami bersamamu, Yahya. Lebih baik mati sebagai manusia merdeka daripada hidup sebagai budak yang ditindas.”
Yahya tersenyum, matanya berkaca-kaca. “Ayahku, Zaid bin Ali, gugur dengan luka di tubuhnya tetapi kemuliaan di hatinya. Hari ini, mungkin aku akan menyusulnya. Tapi percayalah, selama masih ada orang yang berani mengatakan ‘tidak’ pada kezaliman, maka perjuangan ini tidak akan pernah berakhir.”
*
Tiba-tiba, gemuruh kaki kuda dan teriakan pasukan musuh memecah kesunyian. Bani Umayyah datang dengan ribuan tentara, baju besi berkilauan, dan panji-panji hitam yang mengibarkan ancaman.
Yahya menghunus pedangnya, mengangkatnya tinggi-tinggi. “Allahu Akbar!” teriaknya, dan tiga ratus orang itu pun mengikutinya, berlari menghadapi maut dengan dada terbuka.
Darah pun tertumpah.
Yahya bertarung seperti singa yang terluka—setiap tebasan pedangnya menusuk jantung musuh, setiap langkahnya adalah perlawanan. Darah membasahi bajunya, tapi dia tak peduli. Seorang anak muda dari pasukannya terjatuh di sampingnya, dadanya tertusuk tombak.
“Tuan… aku tidak kuat…” rintiknya.
Yahya memeluknya sebentar. “Tenang, saudaraku. Surga menantimu.”
Anak itu tersenyum sebelum napasnya terhenti.
*
Luka di tubuh Yahya semakin banyak. Sebuah panah menancap di pahanya, pedang musuh menggores lengannya, tapi dia tetap berdiri. Hingga akhirnya, seorang prajurit musuh menusukkan tombak ke perutnya.
Yahya terhenyak. Darah mengalir deras, tapi dia masih mencoba menahan diri dari jatuh. Matanya memandang ke langit, seakan mencari sesuatu.
“Zaid… ayahku… aku datang…” bisiknya.
Seorang jenderal musuh mendekat, mengangkat pedangnya untuk menghabisi Yahya. Tiba-tiba, Yahya tersenyum. “Bunuhlah aku. Tapi ketahuilah, dari darahku akan tumbuh seribu pejuang.”
Pedang itu pun menyambar.
Yahya terjatuh, tubuhnya tak lagi bergerak. Tapi wajahnya tetap tenang, seakan hanya tertidur.
*
Pasukan musuh bersorak, mengira mereka telah menang. Tapi tiba-tiba, langit yang kelabu mulai memerah. Seakan alam turut berduka.
Seorang wanita tua berjalan pelan mendekati jasad Yahya, air matanya jatuh tanpa suara. “Anakku… kau telah pergi dengan cara terbaik.”
Jenderal Umayyah marah. “Bawa mayatnya! Gantung di pintu gerbang kota agar semua orang tahu akibatnya melawan kami!”
Tapi malam itu, sesuatu yang ajaib terjadi.
Sekelompok pemuda diam-diam mencuri jasad Yahya dan menguburkannya di tempat rahasia. Di atas kuburannya, mereka menulis:
*”Di sini terbaring seorang pemuda yang lebih mencintai kematian terhormat daripada hidup hina. Darahnya akan menjadi pelita bagi yang hidup.”*
Dan benar.
Beberapa tahun kemudian, pemberontakan demi pemberontakan berkobar. Nama Yahya bin Zaid menjadi simbol keberanian. Hingga akhirnya, tirani itu pun runtuh.


