border=
 border=

Racun yang Menghapus Jejak Kekasih Allah

 

 

 

Fajar di Madinah itu terasa lebih dingin dari biasanya. Hasan bin Ali terbangun dengan perasaan tak menentu. Dari jendela kamarnya, ia melihat anak-anak kecil sedang berlarian menuju masjid Nabawi, suara tawa mereka menggema di jalanan berbatu.
“Wahai putra Rasulullah, mengapa engkau belum bersiap untuk shalat Subuh?” tanya Abdullah, sahabat setianya yang sudah menunggu di depan rumah.
Hasan menghela napas panjang. “Aku bermimpi aneh semalam, Abdullah. Kakekku Rasulullah ﷺ memanggilku dengan wajah yang sangat rindu.”
Abdullah mengerutkan kening. “Itu pasti mimpi baik, Hasan.”
“Atau pertanda,” bisik Hasan sambil menatap telapak tangannya yang tiba-tiba terasa dingin.
Di sudut lain Madinah, Ja’dah binti Al-Asy’ats gemetar memegang sebuah kantong kulit kecil.
“Gunakan ini dalam makanannya,” bisik seorang lelaki bertudung hitam. “Muawiyah berjanji, engkau akan menjadi ratu termulia di Syam jika Hasan bin Ali tiada.”
Ja’dah menatap kantong itu dengan mata berkaca-kaca. “Tapi… dia adalah suamiku. Cucu Rasulullah.”
Lelaki itu mendekatkan wajahnya. “Dan Muawiyah adalah Khalifah sekarang. Pilihlah: hidup dalam kemiskinan sebagai janda Ali, atau hidup mewah sebagai ratu?”
Tangannya menggenggam erat kantong racun itu.
Malam itu, Hasan pulang dengan wajah letih setelah seharian membagikan makanan kepada fakir miskin.
“Wahai istriku, aku sangat lapar,” ujarnya sambil tersenyum.
Ja’dah tersentak. “Aku… aku sudah menyiapkan makanan kesukaanmu.” Tangannya gemetar saat menuangkan sup hangat ke dalam mangkuk.
Hasan menatapnya penuh kasih. “Engkau tampak pucat. Apakah kau tidak sehat?”
“Tidak, tidak. Aku hanya… kedinginan,” jawab Ja’dah sambil menatap ke bawah.
Tengah malam, Hasan terbangun dengan perut seperti ditusuk ribuan pedang.
“Air… tolong…” rintihnya sambil meraih tempat air di samping tempat tidur.
Ja’dah berdiri di ambang pintu, wajahnya dingin.
“Ja’dah… tolong…” Hasan merangkak ke arahnya.
“Maafkan aku, Hasan,” bisik Ja’dah dengan suara parau. “Tapi janji Muawiyah…”
Mata Hasan terbuka lebar. “Engkau… meracuniku?”
Darah mulai keluar dari sudut bibirnya.
Dengan sisa tenaga, Hasan merangkak ke sajadahnya.
“Allahumma… inni… as’aluka ridhaka…” (Ya Allah… aku memohon… keridhaan-Mu)
Ja’dah berlari keluar rumah, tetapi tiba-tiba kedua matanya terasa perih. Tangannya menggapai-gapai udara. “Aku… aku tidak bisa melihat!”
Di dalam kamar, Husain yang mendengar keributan segera masuk. “Kakakku!”
Hasan tersenyum lemah. “Husain… jaga… umat kakek kita…”
“Tidak! Jangan tinggalkan aku!” Husain memeluk erat tubuh kakaknya yang semakin dingin.
Keesokan harinya, seluruh Madinah berduka. Ribuan orang berbaris untuk memandikan jenazah Hasan.
Ketika Muawiyah mengirim pasukan untuk memindahkan jenazah ke Damaskus, tiba-tiba angin kencang menerpa. Bumi berguncang hebat.
“Lihatlah!” teriak seseorang. “Bumi menolak jenazahnya dipindahkan!”

“”””’

Ponpes Al-Muflihun memberikan kesempatan bagi Anda untuk berzakat, berwakaf dan berinfak untuk pembangunan ruang kelas baru santri. Kirimkan dana anda melalui LazizMu KLL Ponpes Al Muflihun:
Kirim ke LazisMu KL Ponpes Al-Muflihun
No Rek:
BSI: 7890090073

 border=
 border=

Check Also

Belajar Eksperimental dari Nabi Ibrahim

  Kisah tentang Nabi Ibrahim AS yang memohon kepada Allah SWT untuk menyaksikan bagaimana cara …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *