border=
 border=

Wujud dan Adam Perspektif Para Filsuf

6

 

Para mutakallimun menyatakan bahwa wujud bermula dari adam (ketiadaan). Artinya bahwa makhluk Tuhan yang ada di alam raya ini bisa wujud, karena kehendak Allah semata. Ia ada dari tiada.

Tentu ini berbeda dengan pandangan para filsuf yang menyatakan bahwa alam raya ini ada, nukan dari ketiadaan. Alam raya ada karena adanya Tuhan sebagai wujud awal. Tuhan sebagai illat pertama yang mewujudkan. Sementara ala mini merupakan ma’lul dari wujud Tuhan tadi.

 

Di bawah ini, akan kami sebutkan mengenai argument para filsuf yang menolak wujud dari adam, seperti yang dijelaskan oleh Imam Amidi.

 

 

Folsuf: Katakanlah kita menerima bahwa sesuatu yang ada tadi, seperti halnya alam raya seisinya merupakan mumkinul wujud. Ia ada dari ketiadaan. Ini artinya bahwa antara wujud (ada) dan adam (tiada) sama-sama mumkinul wujud. Meski demikian, kami tidak bisa menerima argumentasi kalian yang menyatakan bahwa keberadaan wujud dan adam membutuhkan faktor lain untuk mewujudkannya.

Ada bebrapa alasan yang bisa disampaikan, di antaranya adalah sebagai berikut:

1). Jika keberadaan wujud dan adam membutuhkan sesuatu sehingga dapat mempengarui sesuatu itu bisa wujud, ada dua kemungkinan, yaitu pertama pengaruh muncul ketika sesuatu itu sudah wujud, kedua, pengaruh itu muncul ketika sesuatu itu belum wujud atau masih tiada.

Jika pengaruh muncul ketika ia sudah wujud, maka keberadaan pengaruh itu percuma dan sia-sia. Ia sujud, kenapa baru ada pengaruh untuk mewujudkannya? Sama saja ia ingin mewujudkan benda yang sudah wujud. Ini namanya tahsilul hjasil.

 

Jika pengaruh itu ada tatkala suatu benda belum wujud, atau benda itu masih tiada, juga mustahil. Bagaimana bisa sesuatu yang tidak ada bisa dipengaruhi? Selain itu, ia ingin mewujudkan sesuatu, tapi sesuatu yang ingin dia wujudkan itu tidak ada. Ia adam. Jadinya mustahil.

 

2) Jika untuk wujud ia membutuhkan pengaruh dari luar, atau membutuhkan pengaruh lain, maka untuk tiada pun, semestinya ia juga membutuhkan pengaruh lain.

Pengaruh lain terhadap wujud, baik ketika sudah wujud atau ketika belum wujud (belum ada)  sama-sama mustahil dengan dua alasan:
A) Untuk dapat mempengaruhi sesuatu, yang dipengaruhi harus sudah ada. Sesuatu yang tidak ada, tidak dapat dipengaruhi. Ini berlaku baik sesuatu yang tidak ada dan memang tidak akan pernah ada, atau sesuatu yang belum ada dan  mungkin ada. Mustahil, karena keduanya sama sama tidak ada.
B) Sesuatu yang bisa meniadakan suatu benda, ada dua kemungkinan:

Pertama, ia juga yang mewujudnya suatu benda.

Kedua, ia juga yang meniadakan suatu benda
Pertanyaanny, bisakah ia meniadakan dan mewujudkan benda di satu waktu? Tentu tidak akan pernah bisa. Dan ini mustahil dilakukan. Tidak mungkin suatu benda wujud, namun di satu waktu juga tidak wujud.

Alasan lain, untuk apa ia mewujudkan sesuatu yang tidak wujud?  Mana yang lebih utama, wujud atau tidak wujud? Mengapa ia memilih wujud dari tidaknya, atau mengapa ia memilih tidak wujud dari wujud?

Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi sulit untuk dijawab bagi para mutakallim yang menyatakan wujud muncul dari ketiadaan. Ini semakin membuktikan bahwa wujud itu ada, karena faktor lain dan bukan dari ketiadaan sama sekali. (bersambung….)

 

 border=
 border=

Check Also

Belajar Eksperimental dari Nabi Ibrahim

  Kisah tentang Nabi Ibrahim AS yang memohon kepada Allah SWT untuk menyaksikan bagaimana cara …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *