Para nabi sejak Adam hingga Muhammad saw mempunyai misi risalah yang sama, yaitu perintah untuk menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan dengan sesuatu apapun. Para nabi mengajak umat manusia untuk melakukan tauhid murni dengan tidak menduakan Allah dalam berbagai sikap kehidupan. Tauhid yang bearti mengesakan Allah dan menganggap Allah taala sebagai Sang Pencipta atas segala sesuatu.
Firman Allah.
وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّ نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُونِ
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Ilah (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian.” (Al-Anbiya: 25)
Juga firman allah
لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: ‘Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Ilah bagi kalian selain-Nya.’ Sesungguhnya (kalau kalian tidak menyembah Allah), aku takut kalian akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).” (Al-A’raf: 59)
وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلاَ تَتَّقُونَ
“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Ilah bagi kalian selain-Nya. Maka mengapa kalian tidak bertakwa kepada-Nya?’.” (Al-A’raf: 65)
وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ
“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, Shalih. Ia berkata. ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Ilah bagi kalian selain-Nya’.” (Al-A’raf: 73)
Pada masa jahiliyah, orang-orang Qurais mengakui allah sebagai Tuhan. Mereka menganggap bahwa alam raya ini merupakan ciptaan Allah. mereka sadar bahwa tidak ada satu pun di dunia ini yang sanggup untuk mencipta seperti jagat raya ini, selain daripada Allah swt.
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ
“Dan Kami tidak mengutusmu melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Saba`: 28)
Hanya saja, mereka menduakan Allah. Mereka membuat sesembahan lain selain Allah. Mereka membuat patung Latta, Uzza dan lainnya, lalu patung-patung itu disembah dengan anggapan bahwa sikap ketundukan mereka dengan patung-patung itu dapat mendekatkan diri mereka kepada allah. firman Allah:
أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى (19) وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى(20) أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنْثَى (21) تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَى (22) إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى (23)
“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Latta dan Al Uzza. dan Manat yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka” (QS. An Najm: 19-23)
وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى
“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”” (QS. Az Zumar: 3).
Secara hukum, mereka pun mengikuti hawa nafsu. Ajaran Ibrahim as yang telah diturunkan kepada mereka, ditinggalkan. Hanya sedikit dari bangsa Arab yang masih megikuti sisa-sisa millat Ibrahim. Padahal millat Ibrahim ini yang benar. Ajar Ibrahim ini adalah ajaran yang lurus dan sesuai dengan apa yang diridhai Allah. Ia adalah millah yang hanif. Firman Allah:
قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيْمَ حَنِيْفًا
“Katakanlah: Bahkan agama Ibrahirn yang lurus.”
Masyarakat jahiliyah bukan saja menjadikan patung sebagai sesembahan, namun mereka juga melakukan banyak ritual mistik. Mereka suka memberikan sesajen ke patung-patung. Mekereka pergi ke dukun dan percaya dengan apa yang diberitakan tukang dukun. Mereka percaya dengan tukang ramal. Mereka percaya dengan hitungan perbitangan yang konon dapat menjadi petunjuk terhadap nasip kehidupan mereka di masa depan. Padahal sudah jelas bahwa siapapun tidak ada yang dapat mengetahui alam ghaib, termasuk jin kecuali hanya Allah.
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ، اَوْ تُطُيِّرَ لَهُ، اَوْ تَكَهَّنَ، اَوْ تُكُهِّنَ لَهُ، اَوْ سَحَرَ، اَوُ سُحِّرَ لَهُ، وَ مَنْ اَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا اُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ ص
Rasulullah SAW bersabda : “Tidak termasuk golongan kami orang yang percaya tanda-tanda kesialan atau datang bertanya kepada orang yang mempercayai tanda-tanda kesialan, atau orang yang melakukan pedukunan atau orang yang datang berdukun, atau orang yang melakukan sihir atau orang yang datang meminta tolong kepada tukang sihir. Barangsiapa yang datang kepada dukun dan membenarkan apa yang dikatakan dukun itu, maka sungguh ia telah kufur pada apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW”. [HR. Al-Bazzar].
Dalam berinteraksi dengan sesama, mereka menerapkan sistem riba. Uang diputar untuk menghasilkan uang tanpa ada cucuran keringat. Uang dipinjamkan dan akan dikembalikan dengan persenan tertentu dan berlipat-lipat. Jika mereka tidak bias mengembalikan, maka orang yang dihutangi akan dijadikan budak. Ia menjadi pembantu penghutang seumur hidup.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan Riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Ali Imraan: 130)
Masyarakat jahiliyah sangat materialis. Segalanya dihitung dari kacamata materi dan uang. Masyarakat jahiliyah tega membunuh anak perempuan hidup-hidup, karena merasa malu. Anak perempuan dianggap tidak dapat memberikan apapun. Mereka tidak dapat mencari nafkah dan memberikan keuntungan materi kepada keluarga. Bahkan anak perempuan sekadar menjadi beban keluarga saja. firman Allah.
وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ * بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ{التكوير: 8-9}
“apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh” (QS. At Takwir: 8-9).
Kenyataannya, tradisi masyarakat jahiliyah ini masih mengakar di masyarakat modern, namun dalam bentuk yang berbeda. Dulu, mereka secara terang-terangan menyembah Latta dan Uzza. Mereka menganggap baha berhala itu akan memberikan banyak manfaat kehidupan. Berbagai ritual keagamaan dijalankan demi mendapatkan hajat yang mereka inginkan. Tentu saja, ritual-ritual itu diharamkan oleh syariat.
Saat ini, manusia modern menyembah harta. Berbagai prilaku sosial yang melenceng dilakukan untuk mendapatkan kepuasan materi. Masyarakat modern itu bahkan muslim, menyembah Allah, shalat, puasa dan haji ke tanah suci hingga puluhan kali. Namun dalam hati mereka, masih ada tuhan lain. Mereka bukan orang merdeka yang benar-benar ridha dan ikhlas menyembah Allah.
قُلْ لِمَنِ الْأَرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (84) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ (85) قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (86) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ (87) قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (88) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَ (89)
“Katakanlah; ‘Milik siapakah bumi beserta seluruh isinya, jika kalian mengetahui ?’ Maka niscaya mereka akan menjawab, ‘Milik Allah’. Katakanlah,’Lalu tidakkah kalian mengambil pelajaran ?’ Dan tanyakanlah; ‘Siapakah Rabb penguasa langit yang tujuh dan pemilik Arsy yang agung ?’ Niscaya mereka menjawab,’Semuanya adalah milik Allah’ Katakanlah,’Tidakkah kalian mau bertakwa’ Dan tanyakanlah,’Siapakah Dzat yang di tangannya berada kekuasaan atas segala sesuatu, Dia lah yang Maha melindungi dan tidak ada yang sanggup melindungi diri dari azab-Nya, jika kalian mengetahui ?’ Maka pastilah mereka menjawab, ‘Semuanya adalah kuasa Allah’ Katakanlah,’Lantas dari jalan manakah kalian ditipu?.’” (QS. Al-Mu’minuun: 84-89)
Uang haji itu, kenyataannya dari hasil korupsi, manipulasi atau menipu rakyat kecil. Dalam hati mereka tidak ada rasa takut sama sekali menumpuk harta dari cara-cara yang diharamkan Allah. Bukankah negeri kita ini merupakan negeri muslim terbesar di dunia? 256 juta jiwa, yang 87 persennya adalah muslim. Namun mengapa negeri muslim yang jamaah hajinya terbesar di dunia ini, menempati tingkat korupsi teratas? Dimanakah Allah yang selama ini mereka sembah?
Apakah Allah hanya untuk ritual wajib saja, sementara ritual lain yang terkait dengan ibadah sosial dan interaksi sesama manusia tidak menggunakan hukum Allah? Apakah mereka mengiran bahwa Allah senang disembah dikala shalat dan haji saja? Apakah mereka mengira bahwa Allah telah menghapus dosa mereka sekadar dengan pergi ke tanah suci dari uang korupsi?
Negeri ini dipimpin oleh mayoritas muslim. Mengapa justru umat Islam dikerdilkan? Mengapa para ulama dikriminalisasikan? Mengapa tanah air yang kaya raya diberikan kepada korporat asing yang menghisab darah masyarakat? Mengapa kekayaan negeri mayoritas muslim diberikan kepada kaum minoritas yang sangat benci kepada umat Islam? Bukankah kekuasaan di tangan mereka? Kebijakan pemerintah ada di pundak mereka? Mengapa tidak ada keberanian untuk menegakkan keadilan dengan memberikan hak kepada golongan mayoritas sesuai dengan porporsinya?
Siapakah yang mereka sembah? Benarkah mereka ini telah bertauhid murni dan menyembah kepada Allah semata? Ataukah menyekutukan Allah dengan menghamba kepada para korporat asing sehingga mereka berani melawan keadilan dan membela sikap tirani? Berlaku adil bukan bearti membela mayoritas, namun memberikan sesuatu sesuai dengan haknya. Berlaku adil bukan bearti menindas minoritas, namun menempatkan minoritas sesuai dengan kadarnya.
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ
Artinya: Sesungguhnya Allah memerintahkan(kamu) berbuat adil&kebajikn,memberi kpd kerabat dekat & melarang perbuatan keji,munkar&permusuhan.(QS.an-Nahl:90)
Bukan hanya materialism, mistisme pun masih merajalela di masyaraat. Kasus Ponari dengan batu saktinya masih terngiang di bebak kita. Betapa orang berbondong-bondong untuk memintah mukjizat dari ponari. Belum hilang ponari, muncul Dimas kanjeng yang konon dapat menggandakan uang. Orang pun banyak percaya. Bahkan ia punya padepokan besar yang dikunjungi banyak orang. Anehnya lagi, kelas professor yang menjadi anggota Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia pun, ada yang percaya dengan Dimas Kanjeng ini.
Dukun-dukun akan ramai dikundungi para “intelektual” dan calon pejabat menjelang pilakada. Mereka minta doa dan jimat agar dapat memenangkan pemilihan umum. Luar biasa negeri Muslim terbesar ini. Mistisme ternyata masih tertanam kuat, bahkan dikalangan pemangku negeri. Saya tidak tau, apa yang akan terjadi kelak tatkala Dajjal turun ke bumi. Dajjal yang dapat merubah api jadi air dan dapat berlari secepat kilat, tentu akan sangat mudah untuk mengecoh keimanan umat islam.
Bagaimana dengan riba? Riba sudah menjadi tradisi dunia global. Negeri ini bahkan hidup dari hutang luar negeri yang menumpuk. Negara banyak bergantug kepada hutang luar negeri penuh riba yang sangat mencekik. Jaminannya adalah kekayaan alam yang akan diserahkan kepada mereka. Negeri ini menjadi bangsa terjajah, menjadi budak bagi bangsa lain. Kenyataanya, prilaku riba di zaman jahiliyah tidak berbeda dengan sekarang ini. Mereka yang terlilit hutang riba, sama-sama akan menjadi budak. Bedanya, sekarang kelasnya korporat besar dan juga dunia internasional. Bangsa Indonesia berhadapan dengan bangsa-bangsa kreditor.
Kembalilah kepada tauid murni. Sembahla Allah yang maha kuasa. Dengan ini, kita akan mempunyai kebebasan mutlak. Kita menajdi bangsa merdeka. Bangsa yang berani mengelola kekayana alam sendiri tanpa takut dengan koroprat asing. Bangsa yang bisa independen, berdiri di atas kaki sendiri dan berpihak kepada keadilan. Bangsa yang tidak memberikan keistimewaan terhadap golongan minoritas , berlaku diskriminatis kepada golongan mayoritas dan tidak menuduhkan dengan serampangan umat Isam sebagai golongan yang anti NKRI serta anti kebhinekaan. Tauhid murni, menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju, tegas terhadap kezhaliman dan mengumumkan perang sabil kepada para koruptor. Bukan sebaliknya membela koruptor yang menjadi sebab utama kesengsaraan rakyat banyak. Wallahu a’lam
================
Telah dibuka pendaftaran Pondok Almuflihun untuk Tahfez dan Ngaji Turas Islam. Informasi lebih lanjut, hubungi Ust Toyib Arifin (085868753674). Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899 web: almuflihun.com


