border=
 border=

Tatkala Imam Ghazali dan Ibnu Rusyd Berdebat Soal Filsafat

 

imam_ghazaliImam Ghazali (1059-1111)menulis buku yang sangat terkenal dan menjadi goncangan hebat di kalangan para filsuf muslim. Buku tersebut berjudul Tahafut al-Falasafah.

 

Dalam kitab tersebut, imam Ghazali menyebutkan 20 persoalan filsafat yang menyesatkan, tiga di antaranya dianggap kafir, yaitu persoalan takwil, qidamul alam dan al-mi’ad al-jismani atau kebangkitan manusia kelak dengan jasadnya seperti jasad waktu di dunia.

 

Sebenarnya jika diteliti lebih dalam, karya imam Ghazali lebih banyak memberikan kritikan terhadap dua filsuf muslim, yaitu Ibnu Sina dan al-Farabi. Sayangnya, judul bukunya sangat bombastis dengan menjeneralisir ilmu filsafat sehingga seakan-akan, filsafat adalah ilmu terlarang yang hanya akan membuat orang keluar dari akidah Islam.

 

Denga bahasa yang sangat keras, Imam Ghazali meneliti lebih dalam mengenai kelemahan pandangan Ibnu Sina dan Farabi. Kemudian mengkanter satu persatu sesuai dengan pandangan yang diyakini oleh Ghazali.

 

Sebenarnya lebih layak jika buku itu diberi judul Arraddu ala al-Failusufaini (kritik atas dua filsuf) dari pada Tahafut al-Falasafah. Dengan judul yang bombastis dan bersifat menjeneralisir tersebut, pada akhirnya umat Islam melarikan diri dari ilmu filsafat.

 

Untung saja setelah itu ada Ibnu Ruyd (1126-1198) yang mencoba untuk mengkanter pandangan Ghazali secara ilmiyah. Tentu saja dari kacamata filsafat. Sayangnya, buku karya Ibnu Rusy, yaitu Tahafut at-Tahafut, Fashlul Maqal dan Manahijul Adillah, tidak mampu membangkitkan intelektual muslim untuk kembali mendalami filsafat.

 

Anehnya, buku-buku Ibnu Rusyd tadi justru mendapatkan tanggapan luar biasa dikalangan intelektual Kristen. Di Eropa Barat, waktu itu muncul gerakan yang menamakan diri dengan gerakan Arrusydiyyah, yaitu para intelektual Kristen yang mengamini dan mensosialisasikan pemikirannya Ibnu Rusyd.

 

Banyak kalangan yang menganggap bahwa pendapat-pendapat Ibnu Rusyd tadi dan dengan gerakan Arrusydiyah di Eropa, menjadi cikap bakal kebangkitan Eropa.

 

Pada akhirnyak, dua buku karya ulama besar itu, yaitu Tahafut al-Falasafah dan Tahafuit Attahafut adalah dua karya monumental ulama Islam yang layak untuk diapresiasikan. Mereka tentu jauh lebih baik dibandingkan dengan generasi Islam saat ini, yang lebih suka berperang dengan senjata, membunuh saudaranya sendiri dan menumpahkan darah di mana-mana karena perbedaan ideologi, dibandingkan dengan para pemikir islam tempo dulu yang bergulat di medan pemikiran. Jika perang fisik seifatnya menghancurkan, maka perang pemikiran justru mampu menjadi spirit untuk membangun peradaban Islam.

 border=
 border=

Check Also

Belajar Eksperimental dari Nabi Ibrahim

  Kisah tentang Nabi Ibrahim AS yang memohon kepada Allah SWT untuk menyaksikan bagaimana cara …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *