Yang dimaksud dengan wahyu di sini adalah segala ajaran yang diturunkah Tuhan kepada nabi Muhammad saw. Dari sini wahyu dapat dibagi menjadi dua, wahyu yang berupa kalam ilahi (al-Qur’ân) dan wahyu yang diekspresikan oleh nabi Muhammad saw (hadits nabi). (QS. Al-Najm: 34).
Wahyu memberikan pengetahuan manusia pada beberapa hal, diantaranya adalah:
a. Alam metafisika
Para ulama membagi permasalahan metafisika menjadi dua, pertama, berkaitan dengan permasalahan metafisika itu sendiri dan kedua berkaitan dengan bukti empiris mengenai keberadaan alam metafisika. Untuk permasalahan pertama, wahyu telah menjelaskan secara gamblang mengenai realitas dan hubungan manusia dengan alam metafisika, diantaranya adalah masalah ketuhanan, tauhid, kenabian, hari akhir, awal dan tujuan penciptaan manusia, posisi manusia terhadap alam fisik, alam ghoib dan lain sebagainya. (QS. al-Jâtsiyah: 13, QS. al-Nahl: 38-39, QS. Al-Hâqah:13-17)
Ketika Tuhan berbicara mengenai sifat-sifat-Nya, Tuhan mengharapkan manusia sedapat mungkin untuk meniru sifat-sifat Tuhan tersebut. Ketika Tuhan berbicara mengenai malaikat, Tuhan mengingatkan manusia bahwa segala amal perbuatan manusia diawasi dan direkam oleh malaikat. Ketika Tuhan berbicara mengenai hari akhir, Tuhan mengingatkan manusia bahwa dunia bukanlah tujuan akhir. Segala amal perbuatan manusia akan dipertanggung-jawabkan kelak dihari kemudian. Tidak hanya sampai disitu, wahyu juga memberikan keterangan rinci mengenai malaikat, sifat dan nama baik Tuhan (asmâu’l husna), kejadian hari kebangkitan, sorga, neraka dan lain sebagainya sehingga pengetahuan manusia tidak lagi hanya sekedar meraba-raba.
Tentu saja terdapat perbedaan antara pandangan wahyu mengenai alam metafisika dengan pandangan para filosof. Wahyu tidak hanya sekedar memberikan gambaran alam metafisik, namun juga memberikan pengetahuan bagaimana kita berinteraksi dengan alam metafisik tersebut. Para filosof Islam biasanya hanya berusaha membuktikan bahwa firman Tuhan tentang alam metafisik adalah benar adanya, karena pengetahuan mereka telah dilandasi oleh wahyu.
Adapun bagian kedua yaitu yang berkaitan degan bukti empiris, wahyu secara tegas memberikan dukungan kepada tindakan observasi, bahkan dalam al-Qurâ’an banyak terdapat ayat-ayat yang menyeru manusia agar melihat alam ciptaannya. Dengan ini diharapkan manusia akan menyakini bahwa alam yang berjalan dengan sangat rapi tentu ada yang mengatur dan menciptakan.
b. Segala sesuatu yang berhubungan dengan hukum (syarî’at)
Wahyu juga memberikan gambaran mengenai posisi manusia di muka bumi, bagaimana ia berinteraksi dengan Tuhan, alam dan sesama manusia. semua diatur melalui hukum syarî’at. Dengan syarî’at pula, Tuhan memberikan aturan main bagi kehidupan umat manusia yang tentu saja demi kemaslahatan manusia itu sendiri.18

