Dalam beberapa forum diskusi yang saya ikuti, baik di FB, milis maupun whatsapp, banyak yang mengangkat isu seputar perang saudara di Suria. Sebagian besar umat Islam Indonesia sering mengaitkan bahwa perang di Suria merupakan konflik Sunni-Syiah.
Di berbagai media Tanah air, banyak umat Islam yang terbawa dengan arus media. Mereka bersimpati dengan “para pejuang” ISIS atau Jabhah Nusrah (JN). Ada yang menggalang dana dan bahkan berangkat ke Suria untuk ikut “berjihad” bersama ISIS. Bagi mereka, ISIS adalah gerakan mujahidin yang berusaha menggulingkan Basyar Asad yang Syiah kemudian menerapkan syariat Islam di bumi Suria.
Saya belum pernah pergi ke Suria. Tapi saya banyak teman orang Suria. Saya juga sering melihat penderitaan orang Suria dari dekat. Dari dekat? Bukankah saya di Mesir? Ia, karena di sini banyak orang Suria. Mereka datang ke Mesir sebagai pengungsi untuk mencari keamanan. Mereka lari dari negerinya demi menyelamatkan nyawanya. Sebagian mereka datang ke Mesir bersama dengan saudaranya, namun tidak sedikit yang keluarganya sudah tidak tau apakah masih hidup atau sudah tidak ada.
Di Mesir, aktivitas mereka bermacam-macam. Untuk menyambung hidup, ada yang bekerja di toko-toko orang Mesir, ada yang jualan roti buatan sendiri, tapi ada juga yang terlantar dan menjadi pengemis. Sungguh sangat kasihan melihat kondisi mereka ini.
Rata-rata yang menjadi pengusi ini adalah kalangan Islam sunni. Anehnya, ketika saya tanyakan, apakah menudkung ISIS, Jabhah Nusrah (JN) atau Asad, jawabannya adalah menukung presiden Basyar Asad. Bukankah mereka ini Sunni, mengapa mendukung Asad yang konon Syiah dan menekan Sunni?
Abdullah, salah satu teman dekatku, masih cukup muda. Di Suria, ia baru kelas 3 SMA. Tapi dia harus keluar meninggalkan Suria sebelum selesai studi akibat perang saudara. Saya tanyakan kepadanya, Anda mendukung Asad, ISIS atau JN? Dia jawabnya Asad. Saya tanyakan, bukankah Anda sunni? Dari sini dia mulai cerita panjang lebar.
Menurut pengakuannya, bahwa di Suria terdapat sekitar 12 golongan, dari Sunni, Syiah 12, Alawi, Sufi, Kurdi, Kristen dan lain sebagainya. Meski banyak golongan, di bawah kepemimpinan Basyar Asad dan ayahnya Hafez Asad, Suria hidup tenteram. Menurutnya, tetangganya banyak yang beragama kristen. Namun ia bisa hidup nyaman dengan mereka. Menurutnya, tudingan bahwa Asad menyiksa kaum sunni adalah bohong belaka. Itu merupakan propaganda saja.
Menurutnya, ada orang luar yang tidak suka dengan ketentraman Suria. “Para teroris itu umumnya bukan orang Suria. Mereka ekstrimis Islam yang membuat kekacauan di Suria. Makanya jangan heran jika wilayah yang dikuasai ISIS atau JN itu rata-rata mulai dari pinggir Suria dan perbatasan Turki. Itu karena mereka orang-orang luar Suria yang sengaja masuk ke Suria dan ingin membuat onar di Suria”, ungkapnya. Abdullah memang kurang suka dengan aktivitas ISIS dan JN. Secara emosi ia sampai mengatakan bahwa mereka teroris.
Menurut pengakuannya, mereka bergerak tanpa ampun. Satu kampung bisa dibantai habis-habisan jika tidak sepaham dengan apa yang ada dalam fikirannya. Mereka tidak segan untuk membunuh orang lain, meski ia adalah seorang muslim.
Saya sendir maklum mengapa dia begitu emosi. Ya, karena dia adalah korban peperangan itu. Dia merasakan perbedaan antara dua belakangan ini dengan dua tahun sebelum terjadi perang saudara. Sebelumnya, kehidupan di sana tentram dan damai. Suria menjadi kota terindah di Timur Tengah, bahkan sering dijuluki sebagai Parisnya Timur Tengah. Suria menjadi kota wisata. Rakyat dapat hidup aman, damai dan berkecukupan.
Saya punya teman yang pernah bekerja di Suria. Dia bercerita, bahwa sewaktu dia di Suria, negara itu menjadi lumbung gandumnya Timur Tengah. Dari Suria, gandumg di ekspor ke Arab Saudi, Yordania dan negara-negara teluk lainnya. Suria benar-benar makmur.
Dari sisi militer, suria sangat kuat. Suria menjadi salah satu negara Timur Tengah yang disegani, terutama oleh Israel dan Barat. Basyar Asad menjadi ikon perlawanan melawan hegemoni Barat.
Saya sendiri kadang bertanya-tanya, benarkah apa yang terjadi di Suria merupakan konflik antara Sunni dengan Syiah? Benarkah terjadi penindasan terhadap kaum Sunni sehingga orang-orang Sunni memberontak dan melawan Basyar Asad? Jika memang Sunni ditindas, mengapa dari dulu tidak terdengar gaungnya di dunia internasional? Mengapa baru dua tahun ini? Mengapa ulama-ulama besar sunni Suria seperti Ramadhan al-Buthi dan Wahbah Zuhaili justru mendukung pemerintah yang konon berhaluan Syiah?
Kadang saya berfikir, jika memang itu konflik Sunni-Syiah, tentu dari dulu Basyar Asad dan ayahnya Hafiz Asad mengusir ulama sunni dari sana. Tentu kekejaman Basyar sad dan ayahnya akan terdengar gaungnya di dunia internasional. Mengapa tidak demikian? Mengapa baru dua tahun ini? Bersambung…….


