border=
 border=

Relasi antara Pengetahuan, Filsafat dan Agama

 avicenna-ibn-sina1Manusia dilahirkan dengan tanpa memiliki pengetahuan. Hanya saja Tuhan menganugerahkan akal pikiran dan panca indera kepada manusia. Dengan ini pula, manusia dapat memperoleh pengetahuan. (QS. Al Nahl:78).  Islam sendiri menyeru umatnya agar selalu mencari pengetahuan sejak kita masih dalam buaian ibu hingga ajal menjemput nyawa. Karena dengan pengetahuan inilah manusia dapat berinteraksi dengan  alam raya.

Sepanjang sejarah, manusia tidak akan pernah lepas dari usaha untuk menundukkan alam dengan menggunakan akal pikirannya. Makin lama, pengalaman dan pengetahuan manusia semakin meluas sehingga iapun lebih mampu membedakan dan memanfaatkan berbagai benda yang berada disekelilingnya. Ketika ia melihat dua batu yang saling berbenturan kemudian menimbulkan titikan api, manusia berfikir bahwa batu dapat digunakan untuk membantu manusia dalam berbagai hal. Mula-mula barangkali hanya untuk menerangi goa-goa, namun bersama dengan perputaran waktu manusia mulai mengetahui fungi api secara lebih luas. Ketika manusia melihat bahwa batu yang berbenturan dengan benda tertentu menimbulkan keretakan misalnya, manusia primitifpun berpikir bahwa batu dapat digunakan sebagai alat untuk berburu, sebagai senjata dan lain sebagainya.

Bagi manusia primitif, pikiran mereka barangkali masih dibayang-bayangi dengan pikiran mistis, namun setidaknya dengan melihat fenomena alam, manusia telah berpikir untuk menafsirkan berbagai gerakan dan kehidupan di alam raya sesuai dengan kemampuan mereka saat itu. Mereka juga berfikir bagaimana ia berinteraksi dengan alam sekitarnya. Manusia primitif percaya bahwa gerakan di alam ini ada yang mengatur. Seringkali mereka menyandarkan hal ini pada arwah atau tuhan-tuhan sebagaimana yang mereka pahami. Dari sini berkembang kepercayaan animisme, dinamisme dan paganisme dalam masyarakat primitif.

Bersama dengan putaran waktu, pengetahuan manusia primitif semakin bertambah. Mereka mulai berpikir bahwa sesuatu yang dulu dianggapnya sebagai Tuhan ternyata tidak mampu memberikan solusi terhadap berbagai masalah yang sedang mereka hadapi. Manusia juga berpikir bahwa penomena alam yang sedemikian indah dan teratur ini tidak mungkin diciptakan dari banyak Tuhan. Dari sini manusia mulai percaya bahwa disana hanya ada satu Tuhan saja.

Semakin lama pengetahuan manusiapun semakin meluas sehingga satu persatu pengetahuan dapat berdiri sendiri secara tematis. Perlahan-lahan, pengetahuan mulai menjadi sebuah ilmu yang memiliki berbagai cabang sesuai dengan tema dan tujuannya masing-masing. Dari sini berkembanglah ilmu filsafat yang dapat menilai sesuatu secara lebih menyeluruh dan logis. Ilmu pun berkembang dengan filsafat, dan hal ini dapat dimanfaatkan manusia untuk mengimbangi kebutuhan mereka dalam berinteraksi dengan realitas. Dengan ini pula peradaban dapat berkembang sesuai dengan perkembangan pengetahuan manusia.

Namun stetemen diatas tidak dapat dipahami bahwa agama pertama adalah agama paganisme, kemudian secara perlahan agama berkembang hingga menjadi agama tauhid. Karena stetemen diatas hanyalah gambaran perkembangan agama menurut para imuwan agama. Setidaknya uraian diatas dapat memberikan sedikit ganbaran mengenai perkembangan pengetahuan manusia dari waktu kewaktu.

Kita tetap percaya bahwa agama pertama adalah tauhid (QS. al-Anbiya’:25), namun manusialah yang kemudian mendistorsi agama. Karena agama adalah fitrah manusia yang diberikan Tuhan semenjak manusia diciptakan (QS. al-Rûm: 30). Tuhan mengutus para rosul agar mereka meluruskan apa yang telah melenceng dari pemahaman manusia tentang ketuhanan. Ketika Tuhan menurunkan agama serta memberikan kitab suci sebagai petunjuk bagi manusia, bukan berarti Tuhan  melarang manusia untuk berpikir. Karena dengan berpikir manusia akan menyadari bahwa firman Tuhan itu benar. Serinngkali muncul pertanyaan, mungkinkan agama dapat bertemu dengan pengetahuan, antara wahyu dengan akal, antara filsafat dengan agama atau antara ilmu dengan agama?. Di Barat, pertanyaan seperti ini muncul terutama semenjak masa pencerahan. Namun Islam sebagai agama terakhir yang luput dari distorsi manusia tetap dapat berjalan bergandengan  dengan ilmu pengetahuan secara harmonis. Berbeda dengan agama samawi lainnya, karena telah jauh melenceng dari ajaran orisinil, maka seringkali terjadi pergulatan antara ilmu dengan agama.

Terdapat perbedaan antara pemikiran filsafat dengan pemikiran keimuwan. Pemikiran filsafat cenderung pada renungan pemikiran yang bersifat hipotesis, sementara pemikiran keimuwan lebih menekankan pada observasi. Dahulu terdapat banyak analisis mengenai awal terjadinya alam semesta yang satu sama lain terkadang memiliki perbedaan yang sangat mencolok. Satu diantaranya adalah bahwa alam semesta memiliki empat unsur dasar yaitu air, api, udara dan debu. Ilmu sampai saat inibelum mampu memecahkan secara pasti asal mula alam semesta. Namun demikian setidaknya terdapat lebih dari 100 unsur yang terdapat di alam semesta yang dapat dilihat oleh mata manusia atau dapat dibawa ke laboratorium. Belakangan diketahui bahwa air bukanlah unsur. Air sendiri terdiri dari dua unsur yaitu oksigen dan hidrogen.

Filsafat yang lebih menekankan pada hipotesis akan segera berpindah menjadi sebuah ilmu hanya dengan memastikan kebenarannya dengan menggunakan metodologi tertentu. Filsafat akan segera meninggalkan obyek setelah campur tangan ilmu yang kebenarannya lebih dapat dipertanggung jawabkan.

Jika pada mulanya filsafat berkembang sebagai ekspresi manusia karena kecintaan terhadap hikmah serta bertujuan untuk menyingkap sesuatu yang janggal dalam alam realitas, maka sampai saat inipun filsafat tetap memiliki posisi khusus. Filsafat dapat mengekspresikan hubungan saling mempengaruhi antara manusia dengan alam semesta. Pemahaman seperti inilah yangber kembang pada masa keemasan peradaban Islam, dan filsafat Islam adalah puncak kreatifitas akal. Filsafat Islam mempunyai pengaruh besar terhadap pencerahan di dunia Barat. Dari sinilah Barat mengembangkan pengetahuan sesuai dengan nilai dan norma mereka yang kemudian dapat mengantarkan manusia pada peradaban tegnologi modern. Ini adalah bukti kuat kaitan pengetahuan dengan filsafat Islam. Ilmu tidak mungkin berkembang tanpa adanya pemikiran dan pemikiran tidak akan berkembang jika jauh dari pengetahuan.

Para ulama dan failusuf Islam klasik menganggap bahwa pengetahuan empiris adalah bagian dari fisafat. Mereka selalu berupaya untuk menemukan berbaga solusi yang berkaitan dengan alam fisik dan alam metafisik. Imam Al-Rozi adalah seorang dokter sekaligus serang failusuf besar. Dalam mengkaji ilmu kedokteran dan  filsafat tidak segan-segan untuk memberikan keritikan kepada mereka yang berlawanan dengan pendapatnya. Studi mengenai alam fisik dilakukan dengan menggunakan metodologi riset. Demikian pula yang dilakukan oleh Ibnu Sina dan para failusuf Islam lainnya.

Ringkas kata bahwa dalam Islam terdapat hubungan erat antra agama, pengetahuan dengan filsafat. Agama tidak dapat dipisahkan dari pengetahuan, dan filsafat dapat membantu manusia untuk mengetahui kebenaran. 16

 

 border=
 border=

Check Also

Belajar Eksperimental dari Nabi Ibrahim

  Kisah tentang Nabi Ibrahim AS yang memohon kepada Allah SWT untuk menyaksikan bagaimana cara …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *