border=
 border=

Produk Tarjih Luar Biasa, Tapi Kurang Sosialisasi

muhammadiyah-salah-satu-ormas-terbesar-di-indonesia-_130203064331-399

 

Produk tarjih itu luar biasa, baik Himpunan Putusan Tarjih, Kumpulan Fatawa Mejelis Tarjih, Fikih Anti Korupsi, Fikih Tata kelola, Fikih Ikhtilaf, Fikih Bencana dan lain sebagainya. Hanya saja, di lapangan produk tarjih ini kurang tersosialisasikan dengan baik. Warga Muhammadiyah taunya hanya HPT, itupun HPT yang cetakant ahun 70-an. Padahal banyak Putusan Tarjih yang terpisah dan tidak digabungkan dalam buku tersebut.

 

Nampaknya Majelis Tarjih masih punya tugas berat untuk mensosialisasikan produk tarjih ini. Dengan demikian, produk tarjih menjadi familier di kalangan jamaah Muhammadiyah. Bagaimana cara mensosialisasikan produk tarjih? Tentu banyak cara, di antaranya sebagai bahwan pengajian mingguan di cabang-cabang. jika cabang konsisten dengan produk tarjih, barangkali dalam 5 tahun, tema bahasan tidak akan selesai. HPT saja, jika diterangkan secara detail dan rapi, waktu satu tahun tidak akan cukup.

 

Selain pengajiam tentu juga seminar, bedah buku dan halaqah-halaqah ilmiah di Majelis Tarjih daerah. Tidak mengapa buku-buku itu dikaji lagi, selain untuk memperdalam juga barangkali ada sesuatu yang patut dikoreksi. Apalagi Tarjih sangat terbuka dan menerima berbagai masukan sehingga produk tarjih kedepannya bias lebih maksimal.

 

Lalu kuasai media. Berbagai pengajian tarjih di berbagai ranting, cabang, daerah dan wilayah, bias didokumentasikan melalui video. Lalu diungguh ke youtube. Jadi, ilmu yang disebarkan tidak sebatas di ruangan tertentu saja, namun bias dijangkau lebih luas oleh jamaah Muhamadiyah.

 

Atau dibuat pengajaran praktis dengan dibuat film pendek. Tentu ini akan lebih menarik. Apalagi jika bias buat animasi, akan sangat luar biasa. Tarjih bias menyentuh kalangan muda dan bahkan anak-anak. Animasi dan film pendek, untuk saat ini sangat efektif dan mudah dicerna. Jadi, tidak terkesan bahwa Tarjih itu selalu kajian berat. Namun bias diturunkan dan dibumikan dengan bahasa yang lebih mudah.

 

Bias juga disebarkan melalui WA, telegram, fb, website dan lain sebagainya. Apalagi sosmed sekarang sangat dominan. Umat Islam umunya cari praktisnya saja. Tiap ada persoalan, yang dicari adalah google atau mencari materi sesuai tema dimaksud di sosmed. Oleh karena itu, tarjih harus masuk ke dalam dunia sosmed ini.

 

 

Tidak harus para kyainya yang terjun ke lapangan. Para kyai tarjih tetaplah menjadi konseptor dan menuangkan gagasan sesuai dengan kapasitasnya. Mereka tetap konsentrasi menelaah literature untuk mencari solusi atas problem umat. Mereka tetap bergumul dengan dunia ilmu, sembari “mengajar” jamah melalui pengajian. Namun untuk perkara yang terkait dengan visualisasi dan sosmed ini, bisa bekerjasama dengan Majelis Tablig. Mereka ini corong yang akan menebarkan ilmu dari majelis tarjih ke Jamaah Muhammadiyah.

 

 

Kadang pengajian di ranting kurang minat jamaah. Bis jadi karena kesadarna jamaah yang sangat rendah, SDM yang kurang mapan, penyampaiakn yang kurang menarik, atau factor lainnya. Memang harus ada solusi untuk dipecahkan, satu demi satu. Bagaimana masalah jamaah ini, bagaimana penyiapan SDM dan juga bagaimana system penyampaian materi yang menarik.

 

Untuk penyampaian materi, bisa ditambahkan dengan fiqhul khilaf. Artinya pemateri tidak hanya terfokus pada buku tarjih, namun juga bisa menampilkan perbedaan pendapat di kalangan ulama dan juga system istidlal hingga akhirnya dirajihkan oleh Muhammadiyah. Bisa gunakan powerpoin untuk mempermudah pemahaman.

 

Ini akan banyak keuntungan. Jamaah akan lebih mudah paham, wawasan jamaah lebih luas dan tentu fanatisme terhadap satu pendapat fikih dapat dikikis. Kita menjadi tau pendapat yang lain serta argument dan system istidlal yang dipakai. Kita jadi paham, mengapa di buku fikih banyak sekali terdapat perbedaanpendapat. Mengapa di sejarah Islam, banyak sekali terdapat madzhab-madzhab fikih.

 

Memang untuk yang ini, akan kesulitan di SDM. Perlu penyiapan SDM yang mumpuni guna menampilkandai Muhammadiyah yang memahami benar produk tarjih. Namun jika ini bisa diatasi, produk tarjih tidak hanya akan diminati oleh jamaah Muhammadiyah, namun juga oleh mereka yang ebrada di luar Muhammadiyah.

 

Yang terjadi saat ini terbalik. Jamaah Muhammadiyah malas ke pengajian, produk tarjih kurang disampaikan dan bahkan terkesan elitis. Dai-dai yang menguasai produk tarjih secara mendalam juga sangat sedikit. Jadi masalahnya memang sangat kompleks sekali. Kawasan yang jamaahnya banyak dan semangat ngaji, tidak ada dai Muhammadiyah. Akhirnya Muhammadiyah ngimpor dai dari gerakan lain. Pada akhirnya, paham keagamaan jamaah Muhammadiyah tidak seperti yang diharapkan. Lalu kita mengeluh terjadi infiltrasi dan bahwa masjid Muhammadiyah direbut mereka. Padahal yang salahs esungguhnya kita sendiri. Kita yang tidak bisa merawat danmemakmurkan masjid kita. Kita yang tidak memiliki dai mumpuni danbisa mengambil hati jamaah Muhammadiyah.

 

Mudah-mudahan, sosialisasi produk tarjih ini bisa semakin progresif dan menyentuh semua lapisan masyarakat, tidak hanya dari kalangan Muhamadiyah, namun juga umat islam secara keseluruhan. Wallahu a’lam

 

 

=====================
Telah dibuka pendaftaran Pondok Almuflihun untuk Tahfez dan Ngaji Turas Islam. Informasi lebih lanjut, hubungi Ust Toyib Arifin (085868753674). Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

 border=
 border=

Check Also

Belajar Eksperimental dari Nabi Ibrahim

  Kisah tentang Nabi Ibrahim AS yang memohon kepada Allah SWT untuk menyaksikan bagaimana cara …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *