Mengenai “Di mana Allah”, menjadi perdebatan panjang di kalangan mutakallimun. Terdapat banyak pendapat dengan argumentasi masing-masing. Berikut saya sampaikan satu pendapat dari kalangan Asyariyah, seperti yang dituliskan oleh Qadhi al-Baqilani:
“ولا نقول إن العرش له- أي الله- قرار ولا مكان، لأن الله تعالى كان ولا مكان، فلما خلق المكان لم يتغير عما كان”
Artinya: Kita tidak bisa mengatakan bahwa Allah mempunya tempat atau diruang (ditempat) tertentu. Karena Allah sudah ada, sebelum ada ruang (tempat). Ketika Allah telah menciptakan ruang (tempat), itu juga tidak merubah keberadaan Allah.
Kesimpulannya: Allah lepas dari ruang waktu, karena ruang waktu adalah mahkluk, sementara Allah sudah ada sebelum ruang waktu itu ada.
Arsy lahu maksudnya Allah, seperti dalam keterangan setelahnya. العرش له- أي الله
“ويجب أن يعلم أن كل ما يدل على الحدوث أو على سمة النقص فالرب تعالى يتقدس عنه، فمن ذلك: أنه تعالى متقدس عن الاختصاص بالجهات، والاتصاف بصفات المحدثات، وكذلك لا يوصف بالتحول والانتقال، ولا القيام ولا القعود، ولأن هذه الصفات تدل على الحدوث، والله تعالى يتقدس عن ذلك”
Artinya: Perlu diketahui bahwa sesuatu yang menunjukkan pada sifat makhluk, atau menunjukkan sesuatu yang naqis (tidak sempurna), maka Allah tidak seperti itu. Contohnya adalah bahwa Allah tidak berada di tempat tertentu. Allah terbebas dari semua ciri-ciri yang ada pada makhluk. Allah tidak bisa dikatakan berpindah (dari satu tempat ke tempat lain). Allah tidak berdiri dan tidak duduk. Semua sifat itu menunjukkan sifat-sifat makhluk, sementara Allah sama sekali terlepas dari semua sifat makhluk.
Kesimpulannya, Allah tidak ada di ruang waktu, karena ruang waktu adalah sifat makhluk. Allah juga tidak melakukan pergerakan seperti layaknya gerakan makhluk. Allah tidak berpindah tempat, karena itu artinya Allah berada dalam ruang waktu. Semua itu merupakan sifat makhluk. Padahal Allah terbebas dari semua sifat makhluk.

