Dalam sebuah diskusi ada yang mempertanyakan mengenai hubungan sifat dengan zhat. Jawabannya sebagai berikut:
Para ualama kalam dan para filsuf biasanya menggunakan kiyas ghaib ala syahid untuk menentukan mengenai hubungan antara sifat dengan zat. Lantas, apakah kiyas ghaib ala syahid itu?
Kiyas ghaib ala syahid adalah mengkiyaskan sesuatu yang bersifat metafisik (ghaib) dengan sesuatu yang fisik (syahid) dengan melihat pada persamaan tertentu. Terkait dengan hubungan antara sifat dengan zat, biasanya dikiyaskan antara atom atau benda dengan sifat atom atau sifat benda
Sederhananya begini, kumpulan atom akan membentuk benda. Bedan tadi, tentu mempunyai sifat tetentu (a’radh), septi warannya, bentuknya, beratnya, pnjang pendeknya dan lain sebagainya. Apakah sifat benda tadi terpisah dari benda, artinya ia bersifat independen, ataukan ia menyatu dengan benda?
Contoh : apakah hewan yang berkaki empat, bebulu dan suka mengembik itu merupakan bagian tak terpisahkan dengan kambing, ataukah ia terpisah dengan kambing? Artinya kambing adalah hewannya itu sendiri, sementara kaki empat, berbulu dan mengembik sekadar sifat kambing saja. Sifat tadi berfungsi untuk mengidentifikasi kambing. Jadi sifat kambing terpisah dengan kambing, namun mempunyai sifat ketergantungan dengan kambing itu. Karna jika kambingnya tidak ada, maka heewan berkaki empat, berbulu danmengembik tadi tidak akan ada.
Ataukah sifat sifat kambing tadi tidak terpisahkan oleh kambing? Artinya kambing ya hewan berkaki empat, berbulu dan mengembik. Antar sifat kambing dengan kambing tadi tidak bisa dipisahkan. Jika dipisahkan, maka hakekat kambing itu akan hilang? Jadi ketika kita menyebutkan kambing, secara otomatis yang terbayang diotak kita adalah sifat kambing itu, dan sifat itu sesungguhnya hakekat kambing tadi. Keduanya menyatu dan tidak bisa dipisahkan.
Ini pula yang dikiyaskan ke Tuhan. Apakah sifat tuhan itu ya tuhan itu sendiri? Ataukan sifat
Tuhan itu hanya sekadar sifat untuk mengidentifikasi Tuhan, namun ia selalu terkait dengan Tuhan?
Para ulama Asyariyah berpendapat bahwa sifat Tuhan terpisah dari t
Tuhan, namun keberadaan sifat tadi selalu bergantung dengan zat. Sifat berfungi untuk mengidentifikasi zat.
Menurut i muktazilah dan para filsuf, antara zat dengan sifat itu tidak terpisahkan. Keduanya adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Ketika menyebutkan tentang Tuhan, yang terbayang adalah sifat-sifat Tuhan. Tidak mungkin Tuhan terlepas dari sifat-sifat ketuhanan tadi.
Bukti lain, bahwa suatu benda dengan sifat benda itu datangnya bersamaan. Artinya ketika ada wujud, secara otomatis ada sifat balok tadi, baik warna, berat, bentuk dan lain sebagainya. Tidak mungkin warna, bentuk, berat suatu benda muncul belakanga dari wujud benda. Wujud benda ada, secara otomatis sifat benda itu ada. Hal itu karna keduanya menyatu. Demikianlah antara sifat Tuhan dengan Tuhan itu sendiri. Wallahu a’lam


