Dr. Hasan Syafii bercerita, bahwa Syekh Muhammad Abduh setiap pagi sebelum subuh, akan berjalan cepat menuju masjid Sayyidah Nafisah. Di sana beliau membersihkan kamar mandi masjid yang terkesan kotor dan jorok. Setelah itu, beliau kembali berangkat ke masjid Azhar untuk melaksanakan shalat Subuh
Bakda subuh beliau mengajar, kebetulan jadwal beliau mengajar di masjid al-Azhar memang bakda Subuh. Jarak masjid Azhar dan masjid Sayyidah Nafisah cukup jauh, dengan berjalan bisa mengambil waktu 30 menitan lebih. Beliau bercapek-capek pergi ke masjid Sayyidah Nafisah hanya untuk membersihkan kamar mandi, padahal rumah beliau tidak jauh dari masjid al-Azhar. Hal itu beliau lakukan hampir tiap hari.
Dr. Ahmad Umar Hasyim dalam buku beliau “Al-Imam al-Sya’rawi, Mufassiran wa Da’iyah menuturkan, “. Ahmad Mutawalli Sya’rawi, putra dari syekh Sya’rawi pernah bercerita, “Bapak pernah diminta mengisi acara besar sejenis ceramah umum di Univ Cairo. Selesai acara, semua hadirin takjub dengan pemaparan beliau. Saat mau pulang, mereka mengerumuni beliau saat menuju mobil, bahkan mobilnya dikerumuni massa hingga gerbang kuliah.
Setelah sampai di rumahnya di dekat masjid Husein ra., saat itu tiba waktu shalat, banyak orang yang masuk tempat wudhu dan kamar mandi. Mereka kaget luar biasa, karena mendapati syekh Sya’rawi sedang membersihkan setiap sudut tempat wudhu dan kamar mandi. Mereka sontak bertanya kepada beliau, “Ada perihal apa sehingga beliau hingga melakukan hal itu”. Syekh Sya’rawi menjawab, “Saya baru ngisi acara di univ Cairo. Setelah acara, mereka mengerumuni mobil saya. Saya takut ada perasaan takjub terhadap diri sendiri. Saya ingin menghilangkan perasaan takjub itu supaya saya dapat terus bersikap tawadhu”.
Saya yakin, setiap ulama rabbani punya cara-cara tersendiri untuk melawan penyakit hati. Perasaan ujub dan sombong terkadang tidak terasa masuk ke dalam hati. Ia perlu dibersihkan dan disembuhkan.
Kesombongan dan keakuan adalah hak Allah semata. Allah sangat tidak suka jika ada hamba yang tenggelam dalam kesombongan. Jika dalam diri manusia ada sebiji sawi perasaan sombong, akibatnya kelak akan dibersihkan di neraka.
Di sisi lain, Allah akan memberikan hadiyah luar biasa bagi hamba yang selalu tawadhu. Allah akan mencintainya. Jika Allah sudah cinta, maka semua makhluk akan dibuat mencintai hamba tersebut. Begitu juga sebaliknya, saat Allah murka, maka semua makhluk murka kepadanya. Rasulullah saw bersabda:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ إِنِّى قَدْ أَحْبَبْتُ فُلاَنًا فَأَحِبَّهُ قَالَ فَيُنَادِى فِى السَّمَاءِ ثُمَّ تَنْزِلُ لَهُ الْمَحَبَّةُ فِى أَهْلِ الأَرْضِ فَذَلِكَ قَوْلُ اللَّهِ إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا وَإِذَا أَبْغَضَ اللَّهُ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ إِنِّى قَدْ أَبْغَضْتُ فُلاَنًا فَيُنَادِى فِى السَّمَاءِ ثُمَّ تَنْزِلُ لَهُ الْبَغْضَاءُ فِى الأَرْضِ
Artinya: Dari abu hurairah ra bahwa rasulullah saw bersabda, jika Allah mencintai seorang hamba, maka Allah akan memanggil jibril dan bersabda, aku telah mencintai Fulan, maka cintailah si fulan. Kemudian Allah memerintahkan seluruh penduduk langit (untuk mencintainya). Kemudian cinta akan turun ke bumi. Cinta ini merupakan firman Allah: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.”
Jika Allah murka kepada seorang hamba, maka Allah akan memanggil jibril dan bersabda, aku telah murka kepada Fulan, maka murkailah ia. Kemudian Allah memerintahkan seluruh penduduk langit (untuk memurkainya). Kemudian cinta akan turun ke bumi”. (HR. Tirmizi)
Maka tidak heran jika banyak para kyai yang dicintai banyak orang. Itu karena sikap mereka yang tawadhu dan mencintai Allah, sehingga Allah membalas cintanya. Dengan itu, seluruh penduduk bumi akan memberikan cintanya kepadanya.
Hati mereka bersih dari segala penyakit hati. Hanya ada cinta kepada Allah dalam hati mereka. Mereka itu, selalu melatih diri untuk menepis segala penyakit hati dengan cara-cara yang luar biasa.
Syekh Muhammad Abduh dan Syaikh Syarawi merupakan sampel dari ulama rabbani yang selalu mendekatkan diri kepada Allah. Mereka dikenal di seluruh dunia. Banyak ulama dari berbagai negeri yang terinspirasi dengan ide-ide berlian beliau. Meski mereka sudah tiada, namun warisan pemikirannya masih bisa dinikmati oleh kaum muslimin. Semoga kita bisa meneladani akhlak mereka. Amin (Disadur dari tulisan ketua PCIM Cairo, Muhammad Rifki Arriza dari wall FB-nya)


