border=
 border=

Kewajiban Seorang Pemimpin; Melaksanakan Amanat dan menegakkan keadilan

regulator

Sebelumnya pernah kami sampaikan mengenai firman Allah berikut:

 

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Annisa: 58)

 

Jika diperhatikan secara seksama, ayat di atas mengandung dua poin penting yang harus dilaksanakan oleh seorang pemimpin negara, yaitu:
1. Agar selalu menjadi pelayan masyarakat yang dapat mengemban amanah rakyat dengan baik. Kesimpulan ini diambil dari bunyi ayat berikut:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya”
2.Pemimpin diharuskan menegakkan keadilan. Perintah bersikap adil tersebut diambil dari petikan ayat berikut:

وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ

Artinya: “Dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil”

 

Dalam bernegara, tentu akan banyak terjadi persoalan di luar dua poin di atas. Dua poin tadi, merupakan inti dari persoalan kepemimpinan. Jika pemerintah sudah dapat melaksanakan amanatnya dengan baik dan mampu memberikan rasa keadilan bagi masyarakat, maka tugasnya dari seorang pemimpin sudah dapat terlaksana dengan baik.

 

Kenyataannya, untuk dapat mengemban amanat dengan baik bukan perkara mudah. Betapa banyak hak masyarakat, baik yang tarkait dengan hak untuk mendapatkan penghidupan layak, hak untuk dapat tempat tinggal, hal pendidikan, hak kesehatan dan lain sebagainya masih menjadi mimpi bagi masyarakat. Ironisnya, di saat rakyat menderita, banyak pemimpin negeri muslim yang justru melakukan hidup mewah.

 

Mereka tidak lagi menjalankan amanah dengan baik, bahkan banyak dari mereka yang justru menjadi pengkhianat bagi bangsanya sendiri. Harta rakyat yang sejatinya harus dikembalikan kepada rakyat dengan memberikan hak-haknya bagi mereka, justru mereka korupsi. Harta rakyat itu, dijadikan sebagai ladang penghasilan bagi para penguasa.

 

Tidak hanya terkait dengan pengkhianatan kepada masyarakat, namun mereka juga tidak mampu atau memang sengaja tidak menegakkan keadilan. Satu sisi, para pemimpinm itu memberikan kebebasan luar biasa bagi korporat asing untuk mengeruk kekayaan negeri ini, namun di sisi lain membiarkan rakyat mati kelaparan. Satu sisi, para koruptor dapat hidup mewah dengan menjarah kekayaan masyarakat, di sisi lain, seorang nenek harus mendekam dipenjara karena mencuri singkong yang sejatinya hanya untuk mengganjal perutnya saja.

 

Amanat dan keadilan, dua kata kunci terpenting bagi seorang pemimpin. Jika keduanya dapat dijalankan dengan baik, maka diakhirat para pemimpin itu berhak untuk mendapatkan perlindungan dari Allah swt.

 

Selain dua perkara di atas, persoalan yang terkait dengan kemaslahatan manusia dan kepentingan masyarakat banyak, maka menjadi hak para pemimpin untuk melakukan ijtihad sesuai dengan koridor syariat dan maslahat manusia.

 border=
 border=

Check Also

Belajar Eksperimental dari Nabi Ibrahim

  Kisah tentang Nabi Ibrahim AS yang memohon kepada Allah SWT untuk menyaksikan bagaimana cara …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *