Al-Quran merupakan sumber utama ajaran Islam. Ia berfungsi sebagai petunjuk bagi umat manusia menuju jalan yang benar. Jika manusia mengikuti apa yang tertera dalam kitab suci, maka manusia akan mendapatkan kebahagiaan baik di dunia terlebih lagi di akhirat kelak. Hanya saja, banyak petunjuk dalam al-Quran yang masih bersifat global sehingga memerlukan penjelasan dan penjabaran. Keterangan rinci kemudian dijelaskan oleh Nabi Muhammad Saw. Dan ijtihad para ulama sebagai khalifatulLah di muka bumi.
Menurut Muhammad al-Ghazali, sesungguhnya berbagai macam ilmu pengetahuan, termasuk di dalamnya pengetahuan mengenai af’âlulLah wa shifâtuhu (perbuatan-perbuatan Allah Swt. dan sifat-sifat-Nya) telah dijelaskan dalam al-Quran. Ilmu pengetahuan dalam al-Quran tidak terbatas. Namun sebagian besar pengetahuan tersebut berupa isyarat-isyarat tertentu yang mencakup semua prinsip-prinsip pokok ilmu pengetahuan. Sebagai contoh adalah firman Allah Swt. “Apabila aku sakit, maka Dia-lah yang Mengobatiku”.[1] Secara implisit, ayat tersebut memberikan pengetahuan mengenai ilmu kedokteran. Bukan berarti bahwa Tuhan akan turun secara langsung mengobati manusia, namun manusialah yang harus mencari obat yang sudah diciptakan Tuhan dalam alam realita. Tentu saja -masih menurut al-Ghazali- yang lebih berkompeten dalam urusan ini adalah seorang dokter. Merekalah yang mempunyai spesialisasi untuk mencari berbagai obat penyakit yang menimpa umat manusia.
Masih banyak lagi berbagai ayat al-Quran yang mendorong umat Islam untuk selalu berkecimpung dalam ranah ilmu pengetahuan. Al-Quran memberikan berbagai jawaban mengenai persoalan yang dihadapi umat manusia.
Sayangnya, mayoritas kaum muslimin kurang menganalisa lebih dalam nilai kandungan al-Quran. Al-Quran yang sejatinya sebagai kitab petunjuk dalam setiap lini kehidupan, termasuk di dalamnya dalam pengembangan ilmu pengetahuan kurang mendapatkan perhatian yang serius. Akibatnya, dunia Islam menjadi negara-negara terbelakang, Sementara peradaban dunia dikuasai oleh negara Barat modern. Jika kita mau merunut ke belakang, sesungguhnya berbagai cabang ilmu pengetahuan Barat banyak mengadopsi dari peradaban Islam. Ironisnya, sebagian umat Islam bahkan menolak berbagai ilmu pengetahuan tertentu seperti matematika, astronomi dan teknologi modern yang dikembangkan oleh negara-negara Barat.[2] Umat Islam hanya terninabobokan oleh kejayaan masa lalu. Melihat kemajuan Negara Barat, mereka hanya bisa mengatakan bahwa sesungguhnya Barat mengambil berbagai ilmu pengetahuan tersebut dari dunia Islam. Kenyataannya, umat Islam sendiri tidak mau mengembangkan. Untuk apalah nilai sebuah sejarah jika hanya dijadikan sebagai kebanggaan belaka? Sejarah semestinya dijadikan sebagai batu loncatan menuju masa depan yang lebih cerah.
Dalam berbagai bukunya, al-Ghazali banyak menulis tentang rasa keprihatinan yang sangat mendalam melihat kenyataan yang dihadapi oleh umat Islam saat ini. Padahal Allah Swt. Menganugerahkan berbagai kekayaan alam di dunia Islam. Jika saja Negara-negara Islam mampu mengeksplorasi sumber daya alam secara baik dan mandiri, tentu dunia Islam tidak akan mengalami nasib seperti sekarang ini. Kenyataannya, mayoritas kebodohan dan kemiskinan merajalela di seluruh dunia Islam. Mereka mudah dikelabui oleh negara-negara Barat.
Umat Islam lebih mengedepankan ibadah formal dengan mengesampingkan ibadah lain, yaitu memanfaatkan alam demi kemaslahatan umat manusia. Umat Islam lebih suka mengingat-Nya dengan dzikir tertentu dari pada mengingat Tuhan melalui alam ciptaan-Nya.
Barat memang menjadi negara maju secara materi. Namun kehidupan mereka diperbudak oleh kemewahan harta dan kecerdasan akal manusia. Sayangnya intelektualitas yang mereka miliki sering dijadikan sebagai sarana untuk membinasakan dan menghancurkan sesama manusia. Berbagai kerusakan yang ada di dunia ini adalah contoh kongkret mengenai statemen di atas. Jika tidak merusak negerinya sendiri, mereka akan merusak negeri lain. Pergaulan bebas yang berkembang di negara Barat berimplikasi negatif bagi umat manusia secara keseluruhan. AIDS adalah contoh sederhana; penyakit tersebut telah membinasakan jutaan umat manusia di seluruh dunia. Penyakit yang diakibatkan oleh pergaulan bebas ini “diekspor” ke Negara lain setelah memakan ribuan korban di negerinya sendiri.
Mereka juga mengembangkan berbagai macam persenjataan yang pada akhirnya juga untuk menghancurkan umat manusia. Semuanya itu dapat terjadi, karena mereka lalai dengan Sang Pencipta alam. Yang ada dalam benak mereka adalah meningkatkan kesejahteraan materi yang dianggap dapat mendatangkan kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari.
Melihat kenyataan di atas, tidak heran jika kemudian Muhammad al-Ghazali sering menulis mengenai bahaya peradaban Barat serta berusaha menyadarkan umat Islam agar dapat bangkit untuk membangun peradaban modern. Muhammad al-Ghazali mengingatkan agar umat Islam kembali merenungi kandungan ayat suci al-Quran. Bagi Muhammad al-Ghazali, al-Quran bukanlah kitab suci yang hanya dibaca secara lisan. Lebih dari itu, ia dapat menjadi petunjuk yang dapat membangkitkan umat dari keterpurukan peradaban.[3]


