Pernah dalam suatu diskusi, ada rekan yang mempertanyakan mengenai kondisi mutakhir Indonesua. Ia menyatakan bahwa jika mengikuti berita mengenai negeri ini, selalu saja dihidangkan dengan berita yang tidak menarik. Korupsi menggerogoti negeri ini. Di kalangan remaja, pergaulan bebas sudah biasa. Narkoba mudah beredar. Pelacuran meraja lela. Banyak kali moral bangsa yang sudah sangat mengerikan.
Dia pun merasa apatis., semua yang akan memimpin negeri ini, seakan moralnya sudah bis ditebak. Banyak yang sebelumnya terkesan alim dan menyatakan bahwa mereka ingin memperjuangkan nilai-nilai agama, namun kenyataannya mereka terjerat korupsi.
Kadang kita berfikir, apa yang harus kita lakukan? Apakah sudah selesai sandiwara negeri ini? Apakah kiamat sudah dekat?
Menanggapi hali itu, saya hanya bisa mengatakan bahwa dalam kondisi apapun, Rasulullah saw. selalu optimis. Ketika Rasul datang, kondisi dunia Arab jauh-jauh lebih bobrok dari kondisi masyarakat Indonesia. Mereka membunuh bayi hidup-hidup, pelacuran meraja lela, kezaliman, kesukuan, interaksi dengan riba, perbudakan, menyembah benda-benda mati, dan masih banyak lagi tindakan amoral lainnya. Meski demikian, semua bisa diperbaiki. Bahkan Arab kemudian menjadi pusat peradaban dunia.
Ada satu peristiwa yang sangat menarik mengenai sikap Rasulullah saw. yang selalu optimis dalam menghadapi realitas kehidupan. Tatkala Madinah akan diserang oleh tentara koalisi yang dipimpin oleh suku Qurais, Madinah terjepit. Pasukan musuh dari luar Madinah hamper datang. Sementara yang dari dalam Madinah, kaum Yahudi berkhianat. Mereka turut membantu pasukan musuh, Padahal sebelumnya sudah ada perjanjian pakta koalisi antara umat Islam dengan kaum Yahudi.
Tatkala membuat parit (khandaq) sebagai benteng pertahanan agar musuh tidak dapat masuk Madinah, ada batu besar yang tidak dapat dipecah. Lalu sahabat melaporkan peristiwa itu kepada Rasulullah. Rasul datang dan mulai memukul batu keras itu dengan palu. Pukulan pertama, ada percikan api. Rasulullah saw bersabda bahwa kaum muslimin akan membuka kota Syam. Lalu Rasulullah saw memukulkan palunya yang kedua kali dan muncul percikan api. Saat itu juga, Rasulullah saw mengatakan bahwa Persia akan dapat dikuasai. Lalu Rasulullah saw memukulkan palunya yang ketiga kalinya. Saat itu Rasulullah saw juga memberi kabar berita bahwa Romawi akan menjadi wilayah kekuasaan Islam.
Subhanallah. Menghadapi musuh yang didepan mata saja belum tentu bisa. Rasulullah saw justru memberikan kabar gembira mengenai berbagai kemenangan yang akan diperoleh umat Islam.
Inilah sikap optimis yang harus kita tanamkan dalam diri kita. Tiap kita mempunyai tanggungjawab untuk memperbaiki moral bangsa ini. Setiap kita dapat berperan sesuai dengan bidang kita masing-masing. Memperbaiki moral bangsa tidak harus menjadi politisi. Di manapun kita berada, tetap dituntut untuk melakukan gerakan amarmakruf dan nahi munkar. Selama amar makruf nahi munkar masih ada, kita masih mempunyai harapan baik terhadap negeri ini. Namun tatkala amar makruf dan nahi munkar telah sirna, tunggulah azab Allah pasti akan datang. Rasulullah saw bersabda yang maknanya “Kamu beramar makruf dan nahi munkarlah, jika tidak maka Allah akan menurunkan azabnya, engkau berdoa pun, Allah tidak akan mengabulkan.

