Pembukaan
Modernisasi yang berkembang di Barat berpengaruh besar terhadap psikologi umat Islam. Umat semakin menyadari bahwa dunia Islam berada dalam gerbong terbelakang peradaban. Barat dalam berbagai segi kehidupan adalah superior, sementara dunia Islam adalah bangsa inverior. Barat menguasai teknologi modern, secara ekonomi menguasai pasar, sementara Barat juga mengadakan invasi ke beberapa negara muslim seperti kasus invasi Amerika beserta sekutunya atas Irak dan Afganistan.
Kenyataan ini menjadi koreksi intern bagi umat Islam. Para tokoh intelektual mulai mempertanyakan eksistensi insan muslim dalam kancah percaturan politik internasional. Kita selalu termarjinalkan, menjadi bangsa subordinat yang selalu mengikuti arus poltik global. Apa sesungguhnya yang salah pada diri umat Islam. Masa silam, umat Islam pernah menjadi pemimpin dunia, menjadi bangsa superior yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan peradaban. Hampir semua segi kehidupan mengalami perkembangan luar biasa. Namun realita umat Islam saat ini sangat berbeda. Masyarakat Islam yang dahulu rasional berubah menjadi masyarakat primitif yang percaya dengan tahayul. Sementara bid’ah dan khurafat berkembang di mana-mana.
Sudah menjadi konsensus umat Islam bahwa umat menginginkan kemajuan dan kemodernan. Hanya kemudian terjadi selisih pendapat dikalangan para inelektual, dari mana umat harus memulai. Tokoh intelektual kenamaan asal Mesir seperti Thaha Husain menganggap bahwa umat Islam hanya akan maju jika mereka mengikuti langkah dan alur yang dilalui Barat. Tanpa itu, kemodernan hanya sekedar utopia belaka. Bahkan ia mengatakan bahwa Mesir adalah bagian tak terpisahkan dari peradaban Barat. Mesir terletak di atara laut Mediteranian yang berarti berdampingan dengan peradaban Barat. Bahkan dalam sejarah, Mesir pernah maju dan berkembag di bawah pangkuan peradaban Barat; Yunani dan Romawi. Lebih radikal lagi, Thaha Husain mengatakan bahwa Mesir mesti mengikuti Barat, manis getir yang terjadi di Barat adalah bagian dari Mesir.[1]
Tentu ini sangat berbeda dengan pandangan gerakan Salafiyah sebagaimana yang dikumandangan Sayyid Quthb dan Abû A’lâ al-Maudûdî yang menginginkan kemodernan dimulai dari dalam. Ia sangat menyayangkan pemikir Islam yang terbius dengan peradaban Barat, padahal umat Islam berbeda dengan Barat. Bagi gerakan ini, kemodernan hanya dapat diraih jika umat kembali pada turâts Islam klasik. Dengan demikian, identitas umat sebagai seorang muslim tidak akan tercabut.[2]
Hasan Hanafî, intelektual Mesir yang terkenal dengan proyek kiri Islam ini tentu mempunyai pandangan yang berbeda. Sebagaimana intelektual lainnya, ia juga sangat prihatin melihat kondisi umat Islam dewasa ini. Menurutnya, kemajuan umat dapat dimulai dari dalam; berngkat dari turâts Islam. Perubahan dapat dimulai dengan mengkaji ulang mengenai teologi Islam, atau yang sering disebut dengan persoalan Ushuluddin. Dalam hal ini, beliau menulis satu proyek pemikiran yang tertuang dalam bukunya, “Min al-Aqîdah ilâ al-Tsaurah” sebanyak 5 jilid. Persoalan Ushuluddin bagi Hasan Hanafî adalah hal yang sangat mendasar, karena berkaitan erat dengan pandangan umat terhadap ketuhanan dan realita kehidupan. Tauhid akan sangat bersentuhan dengan relitas kontemporer kaum muslimin. Tauhid dapat dijadikan bahan bakar rakyat untuk mengadakan revolusi massa, revolusi kerakyatan yang akan merubah seluruh lini kehidupan masyarakat.[3]
Mengenai sikap terhadap turâts Islam, Hasan Hanafî menginginkan ada rasionalisasi turâts dengan menyikapinya secara kritis. Turâts klasik memang banyak yang berasal dari peradaban lain, namun kemudian umat Islam terdahulu mampu berskap selektif agar sesuai dengan nilai keislaman. Umat Islam tidak hanya menukil, namun juga berkreasi. Bagi Hasan Hanafî, selektifitas sangat dibutuhkan, khususnya dalam menghadapi peradaban Barat modern.[4] Secara lengkap, ide Hasan Hanafî tertuang dalam karyanya, “Min al-Naql ilâ al-Ibdâ’ yang berjumlah 9 jilid. Sementara kaitannya dengan sikap umat Islam degan Barat, beliau menulis buku khusus dengan judul, “Muqaddimah fî ‘Ilmi al-Istighrâb”. Sebagai muqadimah terhadap proyek besarnya tersebut, Hasan Hanafî menuangkannya dalam sebuah buku dengan judul, “Al-Turâts wa al-Tajdîd”.
Antara satu buku dengan lainnya terjadi pertalian yang sangat erat. Buku-buku tersebut adalah upaya untuk membangkitkan umat Islam dari keterpurukan peradaban yang berangkat dari turâts menuju kemodernan. Dalam mengkaji turâts Islam, Hasan Hanafî sering menggunakan metodologi fenomenologi, selain juga dialektika Hegelian yang bertumpu pada tesa, antitesa dan sintesa. Sementara dalam buku, “Min al-Naql ilâ al-Ibdâ”, Hasan Hanafî lebih sering menggunakan metodologi strukturalis.[5] Hanya karena pandangan Hasan Hanafî mengenai turâts cukup luas, di bawah ini, penulis hanya akan mengungkapkan beberapa persoalan yang kiranya sudah dapat mewakili sikap beliau terhadap turâts Islam.
Biografi Hasan Hanafî
Hassan Hanafî adalah Guru Besar pada fakultas Filsafat Universitas Kairo. Ia lahir pada 13 Februari 1935 di Kairo, di dekat Benteng Salahuddin, daerah perkampungan al-Azhar. Masa kecil Hasan Hanafî berhadapan dengan kenyataan-kenyataan hidup di bawah penjajahan dan dominasi pengaruh bangsa asing. Kenyataan itu membangkitkan sikap patriotik dan nasionalismenya, sehingga tidak heran meskipun masih berusia 13 tahun ia telah mendaftarkan diri untuk menjadi sukarelawan perang melawan Israel pada tahun 1948.
Ketika masih duduk di bangku SMA, tepatnya pada tahun 1951, Hasan Hanafî menyaksikan sendiri bagaimana tentara Inggris membantai para syuhada di Terusan Suez. Bersama-sama dengan para mahasiswa ia mengabdikan diri untuk membantu gerakan revolusi yang telah dimulai pada akhir tahun 1940‑an hingga revolusi itu meletus pada tahun 1952. Sejak tahun 1952 sampai dengan 1956, Hasan Hanafî belajar di Universitas Cairo untuk mendalami bidang filsafat.
Tahun‑tahun berikutnya, Hasan Hanafî berkesempatan untuk belajar di Universitas Sorbone; Perancis, pada tahun 1956 sampai 1966. Di sini ia memperoleh lingkungan yang kondusif untuk mencari jawaban atas persoalan‑persoalan mendasar yang sedang dihadapi oleh negerinya dan sekaligus merumuskan jawaban-jawabannya. Di Perancis inilah ia dilatih untuk berpikir secara metodologis melalui kuliah‑kuliah maupun bacaan‑bacaan atau karya-karya orientalis. Ia sempat belajar pada seorang reformis Katolik, Jean Gitton; tentang metodologi berpikir, pembaharuan, dan sejarah filsafat. Ia belajar fenomenologi dari Paul Ricouer, analisis kesadaran dari Husserl, dan bimbingan penulisan tentang pembaharuan ushul fikih dari Profesor Masnion.
Di waktu‑waktu luangnya, Hasan Hanafî mengajar di Universitas Kairo dan beberapa universitas di luar negeri. Ia sempat menjadi profesor tamu di Perancis (1969) dan Belgia (1970). Kemudian antara tahun 1971 sampai 1975 ia mengajar di Universitas Temple, Amerika Serikat. Ketika tinggal di Amerika, ia banyak menulis tentang dialog antaragama dengan revolusi. Baru setelah kembali dari Amerika ia mulai menulis tentang pembaruan pemikiran Islam. la kemudian memulai penulisan buku “al‑Turâts wa al-Tajdîd”. Karya ini, saat itu, belum sempat ia selesaikan karena ia dihadapkan pada gerakan anti‑pemerintah Anwar Sadat yang pro Barat dan “berkolaborasi” dengan Israel. la terpaksa harus terlibat untuk membantu menjernihkan situasi melalui tulisan‑tulisannya yang berlangsung antara tahun 1976 hingga 1981. Tulisan-tulisannya itulah yang kemudian tersusun menjadi buku “al-Dîn wa aI‑Tsaurah”. Sementara itu, dari tahun 1980 sampai 1983, ia menjadi profesor tamu di Universitas Tokyo, tahun 1985 di Emirat Arab. Ia pun diminta untuk merancang berdirinya Universitas Fes ketika ia mengajar di sana pada tahun‑tahun 1983‑1984.
Antara tahun 1980‑1987, Hasan Hanafî berkali‑kali mengunjungi negara‑negara Belanda, Swedia, Portugal, Spanyol, Perancis, Jepang, India, Indonesia, Sudan, Saudi Arabia dan sebagainya. Pengalaman pertemuannya dengan para pemikir besar di negara‑negara tersebut telah menambah wawasannya untuk semakin tajam memahami persoalan‑persoalan yang dihadapi oleh dunia Islam.[6]
[1] Lebih lengkapnya, lihat, Thaha Husain, Mustaqbal al-Tsaqâfah fî Mishra, Silsilah Kitâbu al-Tanwîr, al-Hai‘ah al-Mishriyyah al-Âmmah li’l Kitâb, hal 15-29.
[2] Ibid., hal. 53.
[3] Dr. Hasan Hanafî, Min al-Aqîdah ilâ al-Tsaurah, Maktabah Madbûlîy, hal.
75, et seqq.
[4] Dr. Hasan Hanafî, Min al-Naql ilâ al-Ibdâ’, Dâr Qabâ’ li al-Thabâ’ah wa al-Nasyr wa al-Tauzî’, Kairo, 2000, hal. 20, set seqq.
[5] Ahmad Muhammad Sâlim al-Barbariy, Isykâliyatu al-Turâts fî al-Fikri al-‘Arabiy al-Ma’âshir Dirâsah Muqâranah baina Hasan Hanafî wa Muhammad ‘Âbid al-Jâbiriy, Jâmi’ah Thanthâ Kuliyatu al-Adâb Qismu al-Falsafah, 1995, hal. 1002.
[6] http://www.dilibrary.net


