Jika kita buka HPT Bab Iman, kita akan menemukan ungkapan sebagai berikut:
وَالاَفْعَالُ الصَّادِرَةُ عَنِ الْعِبَادِ آُلُّهَا بِقَضَاءِ اللهِ وَقَضَرِهِ ( 65 ) وَلَيْسَ لِلعِبَادِ اِلاَّ الإِخْتِيَارِ.فَالتَّقْدِيْرُ مِنَ اللهِ وَالكَسْبُ مِنَ الْعِبَادِ فَحَرَآَةُ الْعَبْدِ بِاعْتِبَارِ نِسْبَتِهَا إِلَى قُدْرَتِهِ تُسَمَّى كسْبًا لَهُ ( 66 ) وَ بِاعْتِبَارِ نِسْبَتِهَا قُدْرَةِ اللهِ خَلْقًا ( 67 ) وَالْعِبَادُ .( يَتَصَرَّفُ نَصِيْبَهُ مِمَّا اَنْعَمَ اللهُ بِهِ عَلَيْهِ مِنَ الرِّزْقِ وَغَيْرِهِ (
Adapun segala yang dilakukan manusia itu semuanya atas
Qadla’dan Qadar-Nya (65), sedangkan manusia sendiri hanya dapat berikhtiar.
Dengan demikian, maka segala ketentuan adalah dari Allah dan usaha
adalah bagian manusia. Perbuatan manusia ditilik dari segi kuasanya dinamakan
hasil usaha sendiri (66). Tetapi ditilik dari segi kekuasaan Allah, perbuatan
manusia itu adalah ciptaan Allah (67). Manusia hanya dapat mengolah bagian yang Allah karuniakan padanya berupa rizki dan lain-lain (68).
Sebelumnya telah kami sampaikan bahwa dalam madzhab asyari, manusia tidak mempunyai kuasa untuk menicptakan sesuatu. Segala amal perbuatan yang dihasilkan oleh manusia, bukanlah ciptaan dan kehendak manusia secara independen.
Pergerakan manusia sendiri, dibagi menjadi dua. Pertama gerak idhtirari atau gerak praktis, yaitu pergerakan yang ada dalam tubuh manusia secara alami yang terkadang tanpa disadari dan dikehendaki oleh manusia. Contoh perkembangan sel tubuh, perkembangan manusia dari anak-anak menuju dewasa, degup jantung, aliran darah dan lain sebagainya. Anggota tubuh tadi, dapat bergerak dan berkembang tanpa ada campur tangan keinginan manusia. Seluruh ulama bersepakat bahwa ia adalah mahluk Allah. Gerakan tadi, tidak ada implikasi hukum, pahala atau dosa.
Kedua, terkait dengan pergerakan yang sifatnya pilihan hamba, seperti seseorang memilih untuk beriman atau kufur, syukur atau tidak, sabar, takwa atau sebaliknya. Menurut jabbariyah, manusia bagaikan wayang. Semua pergerakan dan keinginan manusia merupakan ciptaan dan kehendak Allah. Manusia bagaikan bulu yang tertiup angina yang akan bergerak kemanapun mengikuti dorongan angina. Sementara itu, menurut muktazilah, hasil dari keinginan manusia adalah ciptaan manusia secara independen. Manusia mempunyai kehendak mutlak untuk beriman atau kufur, takwa atau fujur. Ada gerakan tawalud (semacam sebab akibat) yang ditimbulkan dari kehendak manusia dengan hasil yang ditimbulkan. Manusia bertanggungjawab secara mutlak atas apa yang ia lakukan.
Sementara itu, menurut kalangan asyari dan juga dipilih oleh Muhammadiyah adalah bahwa segala sesuatu yang keluar dari manusia, tetap merupakan ciptaan Allah. Manusia tidak mempunyai kuasa untuk menciptakan sesuatu apapun juga. Perbuatan baik dan buruk, iman dan kufur, muslim dan munafik, merupakan makhluk dan ciptaan Allah. Posisi manusia adalah memilih dengan usaha yang dimiliki (al-kasb) untuk menentukan mana yang ia sukai. Dengan kasb inilah maka kelak manusia akan mendapatkan balasan di akhirat.
Hanya saja, upaya manusia itu tidak mutlak membuahkan hasil. Tidak ada hubungan sama sekali antara pekerjaan dan hasil, atau antara sebab dengan musabbab. Manusia boleh rajin belajar untuk menghadapi ujian, namun sah-sah saja jika dalam ujian, ada pertanyaan yang keluar dari buku sehingga ia tidak dapat mengerjakan. Pada ahirnya ia tidak lulus ujian.
Manusia boleh pontang-panting untuk mencari rezki. Namun tidak serta merta bahwa usahanya itu mendapatkan hasil. Tidak ada hubungan kausalitas antara usaha manusia dengan hasil yang diharapkan. Semua hasil itu, merupakan kehendak Allah yang Maha Mutlak. Jika berkehendak, bias saja Allah memberikan rezki kepada seseorang yang sedang duduk-duduk dipinggir jalan melalui perantara orang yang memberikan sedekah kepadanya.
Hubungan kausalitas antara usaha manusia dengan hasil, atau pergerakan tawalud septi teori ang umum digunkaleh kelompok Muktazilah hanya akan menjadikan manusia sombong dan berbangga diri. Apalagi jika apa yang dikerjakan membuahkan hasil. Ia bekerja lalu kaya raya. Maka ia bangga dengan harta bendanya itu. Ia mengira bahwa apa yang diberikan Allah kepadanya, merupakan hasil jerih payahnya. Sikap seperti ini, sesungguhnya sifat Qarun. Ia bergelimang harta. Namun ia lalai. Ia mengira bahwa hartanya merupakan usahanya. Tatkala nabi Musa as datang kepadanya untuk mengambil zakat, ia menolak. Ia congkak dan sombong. Namun Allah menunjukkan kebesarannya. Allah tampakkan kepada manusia mengenai kekuasaannya yang Maha Mutlak. Kekayaan Qarun, tertanya tidak ada apa-apanya di sisi Allah. Dalam sekecap, Qarun dan hartanya tenggelam ke dasar bumi.
Mengaitkan usaha manusai dengan kehendak Allah, menjadikan manusia bersikap tawadhu, rendah hati dan berakhlak mulia. Ia menjadi hamba Allah yang selalu berharap cemas akan rahmat Allah. Ia selalu beramal baik. Namun ia tau bahwa amal perbuatan yang ia lakukan, tidak menjamin bahwa ia akan masuk surga. Ia teringat dengan sabda nabi Muhammad saw berikut ini:
لَا يُدْخِلُ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ، وَلَا يُجِيرُهُ مِنَ النَّارِ، وَلَا أَنَا إِلَّا بِرَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ
Artinya: “Tidak ada amalan seorangpun yang bisa memasukkannya ke dalam surga, dan menyelematkannya dari neraka. Tidak juga denganku, kecuali dengan rahmat dari Allah” (HR. Muslim).
Tidak ada hubungan kausalitas antara amal salih dengan surga. Kekuasaan hanya milik Allah yang Maha Mutlak. Maka ia selalu berusaha (iktisab) untuk menjadi lebih baik dan lebih salih. Mudah-mudahan dengan ini, kelak Allah akan memberikan rahmatnya sehingga ia dapat masuk ke dalam surganya.
Ketika melihat kekufuran, ia akan menolaknya. Ia juga akan beramar makruf dan nahi munkar. Namun semua dilakukan dengan akhlak terpuji, bukan dengan cercaan, hinaan apalagi dengan kekerasan yang keluar dari batas moral. Ia menyadari bahwa tugasnya sekedar menyeru (iktisab). Hasil sepenuhnya diserahkan kepada Allah. Pun, ia tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Masa depan, menjadi rahasia Allah semata. Bisa jadi manusia durjana saat ini, menjelang ajal menjemput, Allah berikan hidayah dan ia meninggal dalam keadaan beriman. Bisa saja, seseorang salih saat ini, namun menjelang ajal menjemput, ada sesuatu yang membuat ia kufur. Dan ia meninggal dalam kondisi suul khatimah.
Itulah pengaruh dari teori iktisab Muhammadiyah yang diambil dari paham ahli sunnah Asy’ariyah dalam etika kehidupan warga persyarikatan. Maka, warga Muhammadiyah selalu mengedepankan amal dengan penuh ikhlas. Warga Muhammadiyah membangun sekolahan, rumah sakit, panti asuhan, sukarelawan berbondong-bondong datang ke tempat bencana membantu mereka yang sedang tertimpa musibah, tanpa mengharapkan imbalan dunia sama sekali. Warga Muhammadiyah menyumbangkan harta yang ia miliki sebagai wujud usapa (iktisab) untuk mendapatkan rahmat Allah. Teori iktisab, menjelma dalam wujud akhlak mulia dan amal shalih dengan berdirinya ribuan amal usaha yang tersebar di berbagai penjuru tanah air. Wallahu a’lam
====================
Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899


