border=
 border=

Argumen Para Filsuf Terkait Bukti Tuhan Itu Ada

1292481444345945628

Keberadaan Tuhan diakui oleh para filsuf muslim. Untuk membuktikan keberadaan Tuhan tadi, mereka menggunakan argumen sebagai berikut:

Bahwa penciptaan alam raya pasti akan sampai pada illat terakhir, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Mustahil jika sesuatu tercipta tanpa batas, artinya faktor pertama diciptakan oleh faktor ke dua, faktor kedua diciptakan oleh faktor ke tiga dan demikian seterusnya. Mengapa tasalsusl tanpa batas ini mustahil? Para filsuf menggunakan argumen sebagai berikut:
Katakanlah faktor pencipta pertama membutuhkan faktor ke dua, kemudian faktor ke dua membutuhkan faktor ke tiga dan demikian seterusnya. Di sini ada pertanyaan, apakah faktor pertama sama dengan faktor kedua dan ketiga?

Mustahil jawabannya sama. Untuk mempermudah, mari kita analogikan dengan alam fisik. Contoh: beras dua kilo, ketika diambil satu kilo, apakah ia tetap dua kilo atau berkurang menjadi satu kilo saja? Tidak mungkin ia tetap dua kilo. Ia pasti berkurang menjadi satu kilo saja. Jika kemudian satu kilo diambil setengahnya, lalu setengahnya diambil setengahnya lagi dan demikian seterusnya, tentu akan sampai pada titik akhir di mana beras akan habis. Itu artinya, bahwa segala sesuatu pasti ada akhirnya dan tidak mungkin berjalan tanpa batas.

 

Demikian juga dengan alam raya ini. Katakanlah manusia berasal dari kedua orang tuanya, lalu kedua orangtuanya berasal dari orang tuanya lagi, maka akan sampai pada titik akhir bahwa manusia berasal dari Adam dan Hawa. Adam dan Hawa tadi tidak mungkin ada dengan sendirinya. Ia pasti diciptakan. Pencipta Adam dan Hawa, tidak mungkin juga dia diciptakan lagi dan demikian seterusnya. Silsilah terakhir dari Adam dan Hawa itu adalah Tuhan Yang Maha Esa Sang Pencipta.

 

 

Inilah argumen dasar dari para filsuf untuk membuktikan mengenai keberadaan Tuhan. Meski argumen tadi terkesan masuk akal, namun dikritik oleh Imam Amidi. Menurutnya, ada sesuatu yang mempunyai batas, adan ada juga yang tidak mempunyai batas. Sesuatu yang mempunyai batas contohnya adalah panjang dan lebar, yang jika ditarik secara terus menerus maka akan sampai kepada batas akhir. Ada juga sesuatu yangtidak mempunyai batas akhir, contohnya adalah gerakan memutar.
Menurut Imam Amidil, pendapat para filsuf yang menganggap bahwa sesuatu jika diambil akan habis, juga mempunyai kelemahan. Benar bahwa jumlah angka-angka dan takaran di alam fisik, jika dikurangi secara terus menerus, lama kelamaan akan habis. Namun di dunia ide, jumlah tadi tidak akan habis. Contoh 10-5:5. 5-3:2. 2-1:1 dan begitu seterusnya hingga bilangan tak terbatas. Demikian juga pembagian dari angka-angka, di dunia ide tidak akan terbatas.

 

Perbedaan Imam Amidi dengan para filsuf tadui sebenarnya berkisar pada satu hal, apakah di alam fisik ada benda terkecil tanpa batas, ataukah di alam fisik ini, jika suatu benda dibelah secara terus menerus akan sampai pada titik akhir di mana suatu benda tidak akan bisa dibelah kembali? Menurut para filsuf, benda di alam fisik jika di belah secara terus menerus, maka akan sampai pada titik akhir di mana suatu benda tidak dapat dibelah kembali. Sementara menurut Imam Amidi dan mayoritas mutakallimun, benda-benda itu bisa dibelah sampai tidak terbatas. Minimal itu akan terjadi di dunia ide.

 border=
 border=

Check Also

Belajar Eksperimental dari Nabi Ibrahim

  Kisah tentang Nabi Ibrahim AS yang memohon kepada Allah SWT untuk menyaksikan bagaimana cara …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *