border=
 border=

Apakah Orang Shaleh Dijamin Masuk Surga?

jamaah-putri_1526_l

Kalangan Asyariyah dan Salafiyah berpendapat bahwa seseorang masuk ke surga bukan karena amal perbuatan yang ia lakukan di dunia. Manusia masuk ke dalam surga karena rahmat dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Dalil yang digunakan adalah sabda Nabi Muhammad saw berikut:

 

وَعَنْ أَبي هُرَيْرَة رَضِيَ اللهُ عَنْه : قَالَ:  قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : قَارِبُوا وَسَدِّدُوا، واعْلَمُوا أَنَّه لَنْ ينْجُوَ أَحَدٌ منْكُمْ بعَمَلهِ قَالُوا : وَلا أنْتَ يَا رَسُولَ اللَّه؟ قَالَ :وَلا أَنَا إلا َّأنْ يَتَغَمَّدَني الله برَحْمَةٍ منْه وَفَضْلٍ .رَوَاهُ مُسْلِمٌ

 

Dari Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Berbuatlah sesuai dengan syariat dan benar, ketahuilah bahwa tidak seseorangpun diantara kamu yang dapat selamat karena amalnya. Para sahabat bertanya: Sekalipun engkau sendiri juga tidak, ya Rasulullah. Beliau saw. menjawab: Aku pun tidak dapat, kecuali jikalau Allah memberikan karunia padaku dengan rahmat-Nya serta dengan keutamaan-Nya. (HR Muslim)

 

Allah sendiri mempunyai kehendak mutlak yang tidak dapat diganggu gugat. Allah dapat berkehendak sesuai yang diinginkan-Nya. Firman allah:

فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ

Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya (Al-Buruj: 16)

 

Jika Allah berkelak memasukkan orang kafir ke dalam surga karena Allah memberikan rahmat kepadanya, atau sebaliknya memasukkan orang shalih ke dalam neraka, maka semua itu menjadi hak mutlak Allah. Manusia di dunia hanya bisa berusaha (al-kasb) untuk melakukan yang terbaik dan beramal sesuai dengan ketentuan Allah. Hanya saja, keputusan terakhir tetap berada di tangan Allah.

 

Manusia tidak mempunyai wewenang untuk menyatakan bahwa seseorang dapat masuk ke dalam surga atau neraka. Manusia tidak bisa mengharuskan Allah untuk melakukan sesuatu apapun.

 

 

Sementara itu, menurut Muktazilah, bahwa Allah wajib dan harus memasukkan orang shaleh ke dalam surga. Pendapat Muktazilah tersebut didasari dari firman Allah,

 

وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ

Artinya: Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah.” [QS An Nisaa: 100]

وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ  maksudnya adalah bahwa Allah wajib memberikan pahala kepada mereka.

 

Kewajiban Allah untuk memasukkan orang shaleh ke dalam surge-Nya, bukan bearti manusia mendikte Allah, namun karena Allah telah berjanji dalam kitab suci. Sementara itu, Allah sendiri tidak akan pernah inkar janji. Firman Allah:

 

إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ

Artinya: Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji. (QS. Ali Imran: 9)

 

Janji Allah tersebut, dalam teologi muktazilah masuk ke ranah al-wa’d (janji). Janji apapun dalam kitab suci, pasti akan ditepati oleh Allah.

 

 

 

Manusia telah diberi sifat iradah (keinginan) sehingga ia mempunyai kebebasan mutlak untuk memilih antara perbuatan yang baik dan yang buruk. Kelak perbuatan manusia itu akan dipertanggungjhawabkan di sisi Allah. Firman Allah:

 

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّايَرَهُ

 

Artinya: Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya.

8. dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula. (QS. Al-Zalzalah: 7-8)

 

Prinsip memberikan ganjaran yang setimpal kepada hambanya tatkala di dunia, dalam teologi Muktazilah masuk ke ranah al-adl, yaitu bahwa Allah Maha Adil dan akan memberikan balasan seadil-adilnya kepada manusia kelak di akhirat.

 

Sebagaimana di ketahui, bahwa Muktazilah mempunyai 5 prinsip yang menjadi pegangan mereka,yaitu:

1. Tuhid

2. Al-Adl (Keadilan Tuhan)

3. al-Wa’d wal Wa’id (Janji dan ancaman)

4. al-Manzilah Bainal Manzilatain (Tempat di antara dua posisi)

5. Al-Amr Bilmakruf Wa Annahyu ‘Anil Munkar (Amar makruf dan nahir munkar)

 

 border=
 border=

Check Also

Belajar Eksperimental dari Nabi Ibrahim

  Kisah tentang Nabi Ibrahim AS yang memohon kepada Allah SWT untuk menyaksikan bagaimana cara …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *