Manusia hidup di dunia ini hanyalah sementara. Dunia ini ibarat sebuah persinggahan yang singkat sebelum kita melanjutkan perjalanan ke akhirat yang kekal. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan hiburan, perhiasan dan saling bermegah-megahan di antara kamu, serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan. Seperti hujan yang tanamannya membuat kegembiraan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”
(QS. Al-Hadid: 20)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa segala hal di dunia — harta, jabatan, keturunan, bahkan kesenangan — adalah sementara dan bisa berubah kapan saja. Dunia hanyalah ladang ujian untuk menguji siapa yang terbaik amalnya.
Hadis Nabi Tentang Kesementaraan Dunia
Rasulullah SAW bersabda:
“Dunia itu adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.”
(HR. Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa bagi orang beriman, dunia penuh dengan ujian dan cobaan yang mungkin menyakitkan, tapi sesungguhnya ia bukanlah tempat tinggal yang kekal. Sebaliknya, bagi orang kafir, dunia adalah tempat yang mereka nikmati sebelum menghadapi balasan di akhirat.
Kisah Sahabat: Umar bin Khattab dan Kehidupan Sementara
Salah satu kisah yang sangat inspiratif datang dari Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Suatu hari, ia berjalan di pasar dan melihat seorang pemuda kaya yang memamerkan pakaian mewah dan kuda indah. Umar berkata kepada sahabatnya:
“Betapa banyak harta yang dibawa pemuda itu, padahal ia tidak tahu apakah besok akan hidup atau mati.”
Umar mengingatkan bahwa harta dunia tidak ada artinya di hadapan Allah, dan yang paling penting adalah amal yang kita siapkan untuk bekal di akhirat. Umar sendiri dikenal sebagai sosok yang sederhana dan takut akan hari akhir.
Persiapan Menuju Akhirat
Rasulullah SAW juga mengingatkan kita:
“Beramallah untuk duniamu seakan-akan kamu akan hidup seribu tahun, dan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan kamu akan mati besok.”
(HR. Al-Baihaqi)
Hadis ini menuntun kita untuk menjalani hidup seimbang: bekerja keras dan berbuat baik di dunia, tapi juga tidak lupa mempersiapkan bekal untuk akhirat yang kekal.
Apa yang Kekal di Akhirat?
Yang akan kekal di akhirat adalah amal perbuatan kita — baik berupa ibadah, kebaikan kepada sesama, dan menjauhi dosa. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:
“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ini berarti pentingnya niat yang tulus dalam segala hal. Amal yang kita lakukan dengan niat yang benar akan menjadi bekal abadi.
Penutup: Mari Kita Siapkan Bekal Terbaik
Saudaraku, marilah kita selalu ingat bahwa dunia ini hanya sementara. Kita semua akan meninggalkannya, dan kelak akan menghadapi kehidupan yang lebih kekal di akhirat. Tidak ada gunanya mengejar dunia tanpa bekal amal yang baik. Dunia adalah ladang ujian, sedangkan akhirat adalah tempat pembalasan.
Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan untuk selalu beramal shalih, istiqomah dalam ketaatan, dan menjadikan akhirat sebagai tujuan utama hidup kita.
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi.”
(QS. Al-Qasas: 77)
——
Pondok Pesantren Modern Al-Muflihun Temanggung menerima dana wakaf dan sedekah untuk pembebasan lahan pondok. Dana dapat dikirim ke LazisMu:
No rek:
BSI: 7890090073
A.n KLL Ponpes Al-Muflihun


