Angin musim panas Yaman bertiup pelan, mengibaskan debu-debu jalanan yang panas membakar. Di sebuah rumah sederhana di kota Najran, duduk seorang alim muda yang bercahaya wajahnya, tenang tutur katanya, dan dalam ilmunya. Dialah Muhammad bin Idris asy-Syafi’i, sang fakih Quraisy yang mulai dikenal banyak kalangan karena kepandaiannya dalam menyatukan ilmu hadits dan fiqih.
Di sekelilingnya duduk beberapa murid yang setia, mendengarkan syair-syair yang beliau baca.
“Yā āla bait Rasūlillāh, ḥubbukum
Fardun minallāhi fīl-Qur’āni anzalahu
Yakfīkum min ‘aẓīm al-faḍli annakum
Man lam yuṣalli ‘alaikum lā ṣalāta lahū”
“Wahai keluarga Rasulullah, cintaku padamu
Adalah kewajiban yang Allah turunkan dalam Qur’an-Nya.
Cukup sebagai kemuliaan bagimu, bahwa siapa yang tak bershalawat atasmu,
Maka shalatnya pun tak diterima.”
Mata sebagian murid mulai berkaca-kaca. Imam Syafi’i memandang mereka lembut.
Syafi’i:
“Mereka adalah keluarga Nabi kita… darah daging dari manusia paling mulia di muka bumi. Bagaimana mungkin aku mencintai Rasulullah, tapi tidak mencintai keluarganya?”
Tiba-tiba, langkah kaki terdengar dari luar. Seorang utusan bertubuh tinggi besar masuk, diikuti oleh para tentara. Ia membawa gulungan perintah resmi.
Utusan:
“Muhammad bin Idris, atas perintah Amir Yaman, engkau dituduh menyebarkan pemikiran Rafidhah dan mencurigakan karena kedekatanmu dengan keturunan Ali bin Abi Thalib. Engkau ditahan!”
Murid-murid kaget, sebagian hendak bangkit membela. Tapi tangan Imam Syafi’i mengisyaratkan agar mereka diam.
Syafi’i (lembut):
“Biarkan. Kebenaran memang kadang harus melewati jeruji.”
Perjalanan Ke Baghdad
Dibelenggu tangannya, Imam Syafi’i dibawa berhari-hari melewati padang pasir menuju Baghdad. Di setiap hentian, beliau tetap shalat dengan khusyuk. Dalam derita, beliau tetap bersyair:
“In kaana ḥubbī āla Muḥammadin rafḍan,
Fa li-yashhad ats-tsaqalāni annī rāfiḍiyy”
“Jika mencintai keluarga Muhammad adalah Rafidhah,
Maka biarlah seluruh jin dan manusia menjadi saksi bahwa aku adalah Rafidhi.”
Malam itu, salah seorang penjaga mendekat diam-diam. Wajahnya bingung, gelisah.
Penjaga:
“Wahai Imam… aku mendengar syairmu dan tangisku pecah. Tapi, bukankah kau tahu bahwa menyebut Ali lebih utama dari sebagian sahabat bisa membuatmu celaka?”
Syafi’i:
“Aku tak menghinakan seorang pun sahabat Rasul. Tapi cintaku kepada Ali dan keturunannya tak akan ku sembunyikan, karena Rasulullah sendiri berkata: ‘Ali dariku, dan aku dari Ali. Ya Allah, cintailah orang yang mencintainya.'”
(HR. Tirmidzi)
Di Hadapan Khalifah
Hari itu, Baghdad dipenuhi oleh orang-orang yang ingin melihat wajah ulama muda yang dituduh menyebarkan ajaran sesat. Di istana megah, Imam Syafi’i berdiri dengan tangan masih terikat, di hadapan Harun ar-Rasyid, Khalifah Bani Abbas yang agung dan berkuasa.
Khalifah (dengan nada dingin):
“Wahai Muhammad bin Idris, aku dengar engkau mencintai Ali lebih dari Abu Bakar dan Umar. Engkau memuji-muji keluarga Rasul, menyusun syair-syair tentang Hasan dan Husain… apakah engkau Syi’ah yang menyusup di tengah umat kami?”
Imam Syafi’i mengangkat kepalanya. Suaranya tenang, tapi penuh nyala keimanan.
Syafi’i:
“Wahai Amirul Mukminin… siapa yang tidak mencintai Ahlul Bait, maka hatinya telah mati. Aku memuji mereka bukan karena kebencian pada sahabat, tapi karena cinta pada kebenaran. Bukankah Allah berfirman:
“Katakanlah, aku tidak meminta balasan apapun darimu, kecuali kasih sayang kepada keluargaku.” (QS. Asy-Syura: 23)
Khalifah terdiam. Wajahnya mulai melunak, tetapi para menteri di sekelilingnya saling berbisik, menghasutnya agar tetap waspada.
Menteri:
“Wahai Amirul Mukminin, ia bisa menggerakkan umat. Ia terlalu dicintai rakyat. Jika ia benar-benar Syi’ah, ini bahaya besar.”
Harun ar-Rasyid menoleh kembali kepada Imam Syafi’i.
Khalifah:
“Kau tidak membantah mencintai Ali?”
Syafi’i:
“Aku membanggakan cintaku kepada Ali, sebagaimana aku mencintai Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Tapi Ali adalah bagian dari Ahlul Bait, dan cintaku padanya tak akan luntur hanya karena takut pada ancaman manusia. Aku lebih takut murka Allah daripada murka penguasa.”
Penjara dan Doa
Akhirnya, karena desakan politik, Imam Syafi’i dipenjara. Di dalam sel yang sempit, beliau shalat malam dengan linangan air mata. Ia menulis:
“Aku bersaksi, bahwa malam di penjara lebih tenang dari malam di istana,
Karena aku bersama Tuhanku, dan bukan bersama makhluk-Nya.”
Suatu malam, penjaga melihatnya sujud lama, tak bergerak. Setelah ditunggu, Imam Syafi’i bangkit dan menatapnya.
Syafi’i:
“Malam ini, aku berserah pada Allah. Bila esok aku mati di sini, biarlah umat tahu bahwa aku mati karena cinta.”
Kebebasan dan Kemenangan Hati
Hari keempat belas, seorang ulama besar bernama Yahya bin Sa’id al-Haritsiy datang ke istana. Ia bersaksi di hadapan Khalifah:
Yahya:
“Wahai Amirul Mukminin, Syafi’i bukan pemberontak. Ia hanya seorang alim yang mencintai Rasul dan keluarganya. Janganlah engkau penjarakan cinta!”
Akhirnya, Harun ar-Rasyid mengangguk.
Khalifah:
“Lepaskan ia. Dan katakan padanya… semoga cintanya pada Ahlul Bait menjadi cahaya, bukan api.”
Epilog
Imam Syafi’i kembali mengajar. Murid-muridnya semakin banyak. Syairnya tersebar ke seluruh penjuru negeri. Dan beliau tak pernah berhenti mengingatkan umat akan kemuliaan keluarga Rasulullah ﷺ.
“Cinta bukanlah kata yang diucap, tapi keberanian untuk tetap setia, meski dunia mengancam.”
++++
Pondok Pesantren Modern Al-Muflihun Temanggung sedang membangun kelas sederhana. Sudah minus 21 juta.
Kami menerima wakaf tunai. Dana dapat dikirim ke LazisMu:
No rek:
BSI: 7890090073
A.n KLL Ponpes Al-Muflihun


