Pertama kali ayat al-Quran yang diturunkan oleh Rasulullah adalah perintah untuk membaca (QS. Al-Alaq 1-5). Demikian juga ketika Allah menciptakan Nabi Adam, maka hal pertama yang diajarkan adalah menyakut ilmu pengetahuan (QS. Al-Baqarah: 31).
Ini artinya, bahwa ilmu pengetahuan merupakan poin terpenting dalam kehidupan umat manusia. Dengan ilmu, manusia dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dengan ilmu pula, sebuah bangsa mampu bangkit dari keterpurukan peradaban.
Sejarah Islam mencatat bahwa bangsa Arab sebelum Islam adalah bangsa yang berada di pinggir pusaran peradaban. Bangsa Arab bukan kekuatan peradaban yang diperhitungkan. Namun dengan cahaya ilmu yang dibawa oleh kanjeng Nabi Muhammad, bangsa Arab mampu bangkit, dan bahkan dapat mnggulung peradaban besar Persia dan Romawi, yang waktu itu merupakan dua kekuatan Adikuasa. Umat Islam kemudian menjelma dan berubah menjadi pemimpin peradaban dunia.
Dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, umat Islam sangat terbuka. Berbagai macam cabang ilmu pengetahuan dari luar diserap dan dijadikan sebagai kekayaan khazanah keilmuan Islam. Umat Islam melakukan penerjemahan atas berbagai cabang ilmu pengetahuan, baik yang bersumber dari peradaban Yunani, Romawi, India, Persia maupun dari bangsa-bangsa lain. Ilmu adalah mutiara yang selalu dicari, di manapun ia berada.
Berangkat dari keinginan untuk memberikan sumbangan dalam perkembangan peradaban Islam, para aktivis Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Mesir mempunyai mimpi besar, yaitu membentuk pesantren kader ulama. Pesantren ini kelak akan dibangun dan dijadikan sebagai kawah candradimuka dalam rangka penggemblengan santri agar kelak menjadi ulama yang handal. Aktivis PCIM mengadakan rapat perdana selitar awal bulan September di Cairo. Selanjutnya dibentuk tim kecil yang akan menggodok konsep pondok sehingga kelak benar-benar menjadi lumbung ilmu bagi siapapun yang hendak belajar di sana.
Latar Belakang Ide Pendirian Pesantren
Ide pendirian Pesantren Kader Ulama muncul karena hal-hal berikut:
1. Krisis pengetahuan terhadap epistemologi pemikiran Islam sehingga para sarjana muslim gamang dalam menentukan metodologi alternatif.
2. Fanatik buta terhadap satu faham keislaman sehingga mudah menuduh sesat terhadap ulama lain yg berbeda pendapat.
3. Kurang menguasai piranti ijtihad sehingga lemah dan kurang peka terhadap persoalan kontemporer
Target
1. Menguasai dasar-dasar epistemologi pemikiran Islam klasik beserta penerapannya dengan mengajarkan;
a. Epistem bayan; dg penguatan kemampuan bahasa dan sastra arab.
b. Epistem burhan; penguatan kemampuan logika aristetolian dan logika kontemporer.
c. Epistem irfan; penguasaan berbagai aliran logika irfan ulama klasik
2. Menguasai fikih perbandingan;
3. menguasai ilmu-ilmu keislaman secara umum;
4. Menguasai berbagai aliran pemikiran islam klasik (baik filsafat, tasawuf maupun kalam);
5. Menguasai ilmu ushul fikih sebagai piranti ijtihad;
6. Peka terhadap berbagai persoalan islam kontemporer.
Visi
Sebagai yayasan pendidikan pencetak kader-kader ulama yang berwawasan luas, menjadi tempat ibadah talab al-’ilmi; dan menjadi sumber pengetahuan Islam, bahasa al-Qur’an, dan ilmu pengetahuan umum.
Misi
- Membentuk kader ulama yang mumpuni dalam penguasaan keilmuan Islam, baik turats maupun kontemporer.
- Membentuk kader ulama yang dapat menjadi rujukan dalam menyelesaikan berbagai persoalan kontemporer.
- Membentuk generasi khairu ummah demi terwujudnya masyarakat utama yang diridhai Allah Swt.
- Mendidik dan mengembangkan generasi mukmin-muslim yang berbudi tinggi, berbadan sehat, dan berpikiran bebas, serta berkhidmat kepada masyarakat.
- Mengajarkan ilmu pengetahuan agama dan umum secara seimbang.
Tujuan
- Terbentuknya ulama yang mumpuni dengan menguasai berbagai piranti ijtihad.
- Terwujudnya generasi ulama yang unggul menuju terbentuknya masyarakat yang khaira ummah.
- Terbentuknya generasi mukmin-muslim yang berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, dan berpikiran bebas, serta berkhidmat kepada masyarakat.
- Lahirnya ulama intelek yang memiliki keseimbangan dzikir dan pikir.
Selanjutnya dibentuk tim kecil di Indonesia yang terdiri dari para alumni PCIM. Mereka melakukan rapat perdana di Yogyakarta pertengahan bulan November lalu. Tim kecil ini yang akan bergerak demi terwujudnya mimpi besar ini. Saat ini, sudah ada lahan seluas 1,3 hektar, seperti dalam foto di atas yang siap untuk didirikan pesantren. Dalam waktu dekat, insyaallah tim kecil tersebut akan mulai mengurus perizinan pembentukan yayasan sebagai pedoman kelak dalam pendirian pesantren. Saat ini memang masih mimpi, namun banyak perbuatan besar yang bermula dari mimpi. Dengan niat yang baik karena Allah, insya Allah mimpi ini kelak akan menjadi kenyataan. Semoga Allah meridhai setiap gerak langkah kita. Semoga kita dapat memberikan sumbangan terhadap kebangkitan peradaban Islam. Amin
(Tentang konsep pesantren, bisa dilihat:www. http://almuflihun.com/pesantren-kader-ulama-harapan-untuk-muhammadiyah/)

