“Sesungguhnmya aku diutus untuk mrnyrmpurnakan akhlak yang mulia.”
Rasul adalah teladan bagi umat manusia. Setiap gerak langkah beliau, selalu mencerminkan akhlak yang mulia. Bahkan ketikla Aisyah ditanya tentang akhlaknya Nabi, beliau menjawab, “Sesungguhnya akhlaknya adalah al-Quran”.
Suatu hari, ada pengemis buta Yahudi berada di pojok pasar Madinah. Sambil meminta sedekah, mulutnya tak henti-hemtinya mengumpat Nabi Muhammad saw. Ia menuduh bahwa Muhammad adalah tukang sihir dan pendusta. Suatu kali, Nabi lewat dan melihatmya. Lantas Nabi mendatanginya dan memberinya uang dinar. Nabi juga memberinya makan, bahkan menyuapinya. Nabi berkenan duduk dan menanyakan kondisinya serta memberikan semangat hidup kepadanya. Yahudi miskin itu pun tak henti-hentinya mengumpat Nabi dan menuduhnya sebagai tukang sihir. Ia tak menyadari bahwa orang baik yang sedang bersamanya adalah Nabi Muhammad saw.
Meski demikian, Nabi tidak marah. Beliau tetap bersabar melayani dan membantu kebutuhannya. Itu dilakukan Nabi sampai beliau meninggal.
Kemudian Abu Bakak Setelah diangkat menjadi khalifah, pemimpin kaum muslimin menggantikan Rasulullah saw. Abu Bakar mendatangi putrinya Aiysah. Ia bertanya, “Kiranya kebiasaan apa yang biasa dilakukan Nabi dan belum pernah aku laukan”.Aiysah pun menceritakan mengenai kebiasaan Nabi yang suka menyantuni pengemis Yahudi buta di pojok pasar Madinah.
Segera Abu Bakar meninggalkan Aisyah dan pergi ke pasar Madinah untuk mencari pengemis Yahudi tadi. Di sana ia menemukan pengemis buta Yahudi. Lantas Abu Bakar mendatanginya, dan memberinya uang. Abu Bakar juga menyuapi Yahudi miskin itu, meniru apa yang pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. .
Yahudi miskin tadi bertanya, “Wahai sahabat, kemana saja engkau. Sejak kemarin-kemarin aku merindukanmu. Tidak ada lagi yang perhatian kepadaku selain kamu”.
Abu Bakar menjawab, “Ini aku dating”. Abu Bakar lantas menyuapinya. Namun sebentar kemudian, Yahudi tadi mulai mengumpat Nabi dan menuduhnahnya sebagai tukang sihir. Mendengar itu. Abu Bakar marah. Ia tidak tahan mendengar cercaan Yahui kepada nabi Muhammad saw. Ia pun menyuapi makanan ke Yahudi miskin tadi dengan kasar. Lantas Yahudi berkata, “Kamu pasti bukan sahabatku. Sahabatku orangnya sabar, tapi kamu begitu kasar. Siapakah kamu sebenarnya?”
Abu Bakar pun mengakui bahwa ia bukanlah sahabat Yahudi yang biasanya memberi makan. Lantas Yahudi bertanya, “Kemanakah sahabatku yang biasa datang menyuapiku? Sahabat yang sangat perhatian kepadaku?”
Abu Bakar berkata, “Sahabatmu telah meninggal”. Mendengar berita tersebut, pengemis Yahudi menangis tersedu-sedu. “Mengapa dia meninggal begitu cepat. Dia adalah sahabt terbaikku. Ia selalu menanyakan tentang kondisiku. Sementara aku belum kenal siapa dia, siapakah gerangan dia itu?’.
Abu Bakar berkata, “Maukah kamu aku beri tahu siapa dia?”. Pengemis Yahudi menjawab, “Benarkah kau mengetahuinya? Beri tahu aku segera. Aku ingin mengenalnya. Ia adalah manusia paling mulia di muka bumi ini. Manusia terbaik yang pernah aku kenal”.
Abu Bakar berkata, “Dia adalah Muhammad Rasulullah”.
“Benarkah? Benarkah ia Muhammad”? Yahudi miskin itu sangat terkejut. Ia menangis sejadi-jadinya. Orang yang selama ini baik kepadanya ternyata adalah Muhammad, Nabi dan utusan Allah. Ia menangis, teringat saat-saat mengumpatnya. Saat saat ia menghina Nabi di hadapannya. Seketika itu juga, ia bersyahadad. Ia memeluk Islam.
Betapa sabarnya Nabi. Betapa tinggi budi pekertinya. Betapa besar kasih sayangnya. Meski ia dicaci dan dihina, namun tidak ada terbesit dalam hatinya rasa benci, sedih, apalagi dendam. Hati beliau bersih seputih salju.
Akhlaknya lah yang membuat hati Yahudi yang begitu keras, luluh seketika. Aklak yang mulia, yang membuatnya dicintai dan disayangi semua orang. Maka bersabarlah dengan sikap orang lain, meski ia menyakiti kita, niscaya semua manusia akan jatuh hati kepadamu.


