border=
 border=

Bidah dan Ikhtirâ’

fdsfdsaPara generasi awal Islam adalah generasi shalihin yang melaksanakan segala sesuatu selalu merujuk langsung dari al-Quran dan sunah Nabi. Beribadah adalah sistem interaksi dengan Allah Swt.. Sistem interaksi tersebut sudah diatur sedemikian rupa sehingga umat Islam tidak boleh menambah ataupun mengurangi. Generasi awal Islam adalah generasi terbaik umat ini. Merekalah orang-orang yang khusyu beribadah serta bersikap qana’ah. Mereka selalu mengikuti apa yang dituntunkan oleh Nabi Muhammad Saw.. Kaitannya dengan urusan dunia, generasi pendahulu kita juga sangat maju. Berbagai cabang ilmu pengetahuan dapat berkembang sangat pesat. Sederhananya, dalam urusan ibadah, mereka tidak berbuat bidah; menambah atau mengurangi dalam urusan agama. Sebaliknya dalam urusan dunia, mereka selalu berkreasi, menambahkan hal-hal baru yang sesuai dengan maslahat manusia. Mereka tidak hanya sekadar menukil ilmu pengetahuan dari peradaban lain. Lebih dari itu, mereka dapat mengembangkan dan memanfaatkannya secara maksimal.

Kemudian datang generasi selanjutnya yang sudah berbeda dengan generasi awal. Umat Islam sudah mulai mengalami kemunduran. Umat Islam jumud, tidak dapat lagi berkreasi seperti halnya generasi sebelumnya. Dalam hal ilmu pengetahuan, mereka hanya meringkas atau menerangkan terhadap hasil ijtihad sebelumnya. Tidak ada lagi hal-hal baru. Bidah dan khurafat juga mulai melanda dunia Islam. Banyak bentuk-bentuk ibadah yang sama sekali tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah Saw.. Umat Islam justru berkreasi dalam urusan ibadah, namun jumud dalam urusan agama. Padahal, perbuatan tersebut sungguh sangat tercela.

Kemudian bangsa-bangsa Barat datang menjajah Negara-negara Islam. Umat Islam kaget terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi Barat. Dalam menyikapi kemajuan Barat pun bervariasi. Ada sebagian ulama yang menolak total segala sesuatu yang berasal dari Barat. Menurut mereka, semua itu merupakan bidah yang harus dijauhi.

Apa yang dibawa oleh Barat terbagi menjadi dua, yang positif dan yang negatif. Segala sesuatu yang positif dan tidak bertentangan dengan syariat boleh diambil untuk dimanfaatkan. Sementara hal lain yang bersifat negatif harus dijauhi dan ditinggalkan. Dengan demikian, tidaklah semua yang berasal dari Barat itu buruk secara keseluruhan.

Umat Islam tidak dapat membedakan lagi antara bid’ah dengan ikhtirâ’. Apa pun yang berasal dari Barat dianggapnya bid’ah meski mengandung nilai positif. Sebaliknya, apa pun yang berasal dari dunia Islam dianggapnya bagus, meski sebenarnya telah melenceng jauh dari nilai-nilai keislaman.

Di sini harus ada kejelasan antara bidah dengan ikhtirâ’. Bid’ah yang berasal dari lafal bada’ berarti suatu inisiatif baru yang sebelumnya tidak ada. Menurut Imam Syatibi, bidah yang dilarang dalam Islam yaitu bidah yang menambah dan menciptakan hal baru dalam urusan ibadah dan bukan dalam hal muamalah. Ikhtirâ’ yaitu suatu penemuan dan hasil kreasi manusia yang bersifat duniawi. Para ulama mengatakan bahwa ikhtirâ’  dibolehkan karena mengandung kemaslahatan bagi umat manusia. Bahkan bisa dikatakan bahwa ikhtirâ merupakan suatu kewajiban. Contoh ikhtirâ’ yang merupakan bentuk kreasi manusia terhadap urusan dunia adalah kemajuan teknologi saat ini.[1]

Sikap tersebut merupakan salah satu faktor penting kemunduran umat Islam. Umat akhirnya jumud dan tidak berkembang. Muhammad al-Ghazali sendiri cenderung moderat. Baginya, segala hal yang dapat dimanfaatkan umat dari mana pun datangnya boleh dimanfaatkan. Sementara segala sesuatu yang menimbulkan mudarat bagi umat meski itu datang dari dalam umat Islam sendiri harus segera dijauhi dan ditinggalkan. Umat harus dapat membedakan secara jelas antara kreasi dunia (ikhtirâ’) yang dianjurkan agama dengan kreasi dalam agama (bid’ah) yang secara tegas dilarang oleh Rasulullah.[2]

 

Penutup

 

Dalam pepatah Arab dikatakan fakkir qabla an ta’zima (berpikirlah sebelum kamu berbuat). Inilah anjuran al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad Saw. Yang layak kita amalkan bersama. Pemikiran bisa jadi motivator bagi umat untuk berusaha merubah dan memajukan harga diri negaranya. Muhammad al-Ghazali sependapat dengan Qaradhawi mengenai perlunya pembaharuan pemikiran bagi umat Islam. Keduanya sama-sama prihatin dengan kondisi umat yang sedang terpuruk. Keduanya sama-sama mencari hal termudah yang kiranya dapat membawa maslahat bagi umat. Ide yang ditawarkan Muhammad al-Ghazali tersebut sesungguhnya sangat relevan dengan kondisi umat saat ini. Jika kita dapat menerapkannya dalam tataran praktis, tentu akan membawa dampak positif bagi kelangsungan kehidupan umat Islam dewasa ini.

Kita tidak perlu lagi berdebat panjang lebar untuk mempertahankan ego masing-masing. Perdebatan yang hanya untuk mencari popularitas serta demi kemenangan pendapatnya hanya akan menimbulkan perpecahan. Sudah saatnya kita menata diri kembali, memperbaiki segala cacat yang ada pada diri kita. Kita bisa memulai dari pribadi kita masing-masing dari persoalan yang paling mudah.

Muhammad al-Ghazali menyarankan agar umat Islam benar-benar menjadi umat yang uli’l albâb; umat yang mau berfikir dan berkreasi. Jika kita tengok sejarah, jauh hari sebelum Barat menguasai ilmu matematika, astronomi dan teknologi lainnya, umat Islam sudah lebih dahulu mengalami kemajuan ilmu pengetahuan. Kita mengenal para intelektual ternama seperti Ibnu Sina, al-Kindi, Musa al-Khawarizmi, Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun, al-Biruni, Ibnu Haitsam dan masih banyak lagi yang telah menjadi guru para ilmuwan Barat.[3] Bedanya, ilmu yang berada di tangan para ilmuwan muslim tidak membuat hidup manusia sesat. Karena mereka memadukan kehidupan dunia dnegan keimanan kepada Allah Swt.. Ilmu benar-benar dimanfaatkan demi kemaslahatan umat manusia. Mereka inilah sesungguhnya yang masuk dalam golongan uli’l albâb, yaitu orang-orang yang selalu berfikir dan dalam setiap aktivitasnya selalu mengingat Allah Swt.. Muhammad al-Ghazali melihat bahwa jika ilmu pengetahuan dapat dikembangkan secara tepat, maka itulah hikmah. Ilmu pengetahuan bisa menjadi berkah, namun juga dapat menjadi sumber bencana. Semua itu akan sangat bergantung kepada siapa yang memiliki ilmu tersebut.[4]

 

Berbagai pemikiran Muhammad al-Ghazali muncul karena keprihatinannya terhadap umat Islam yang hidup terbelakang. Muhammad al-Ghazali berjasa besar dalam memberikan kesadaran kepada umat ini untuk bangkit. Dan nampaknya, kita masih membutuhkan tokoh-tokoh Islam seperti Muhammad al-Ghazali. WalLâhu a’lamu bi al-Shawâb

 

 



[1] Kabir al-Syeikh Ali al-Mahfuzh, Ibda’ Mudhâ’ al-Ibtidâ’, Dâr al-Bayân al-Arabiy Jami’atu al-Azhar, cet. 1, 2002, hal. 31

[2]  Muhammad al-Ghazali, Laisa min’l Islâm. op.cit, hal. 13

[3] Muhammad al-Ghazali, Laisa min’l Islâm. op.cit, hal. 54

[4]  Ibid, hal. 27

 border=
 border=

Check Also

Belajar Eksperimental dari Nabi Ibrahim

  Kisah tentang Nabi Ibrahim AS yang memohon kepada Allah SWT untuk menyaksikan bagaimana cara …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *